MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
GAUN JADUL VIANA


__ADS_3

Sambil menikmati perjalanan yang akan cukup lama mereka tempuh, untuk menghindar mengantuk Bisma dan Jum sibuk bercerita sambil terus tertawa.


"Mas Bisma, Jum menjadi salah satu orang yang beruntung bertemu kak Vi dan mbak Reva."


"Iya sayang, Viana wanita baik, dan Reva juga wanita yang tulus. Rama dan kak Bima beruntung memiliki pendamping seperti mereka. Aku juga beruntung memiliki kamu Jum."


Jum menceritakan semua perjalanan bersama Viana, suka duka bersama Reva. Jum sudah menganggap keduanya seperti saudaranya.


Bisma juga bercerita banyak hal, dari banyaknya pacar Bisma yang membuat Jum ngambek. Sampai menceritakan kisah Bisma yang menjadi orang jahat. Bisma menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi.


"Sekarang masih jahat tidak?"


"Karena memilih kamu, aku ingin menjadi lelaki terbaik untuk kebahagiaan kamu, dan anak-anak kita.


"Mas jangan gombal." Jum memukul pelan Bisma, perasaan Jum saat ini sangat bahagia, dia akan segera menikah dengan pemuda tampan pilihannya. Lelaki yang tanpa persetujuannya menemui kedua orangtuanya, Bisma yang mengakui semua keburukannya. Jum berdoa semoga ini awal yang baik untuk Bima menjadi lelaki yang bertanggung jawab kepada keluarga kecilnya.


Tidak terasa mereka telah sampai di desa Jum yang menghabiskan waktu 8jam perjalanan. mobil memasuki kawasan perumahan sederhana, banyak anak-anak yang berlarian mendekati mobil.


Jum cepat keluar mobil mencari Tian, ibu dan bapak hanya geleng-geleng melihat putrinya yang lupa dengan mereka, sibuk mencari anaknya terlebih dahulu.


"Sayang, salam dulu sama ibu dan bapak." Bisma menarik Jum yang memanggil Tian.


"Di mana anak Jum Bu?" Jum mencium tangan kedua orangtuanya.


Dari luar Tian sudah berlari, Bima tersenyum menyambut Tian tapi hanya dilewati. Jum merentangkan kedua tangannya, dan langsung memeluk Tian dan menggendongnya.


"Astaghfirullah Al azim ayah dilupakan!" Bima menatap Jum dan Tian yang hanya tertawa.


***


Pintu apartemen terbuka, Reva masuk ke dalam apartemennya dan Viana. Reva membersihkan seluruh ruangan, dan mengeluarkan isinya. Pintu rahasia terbuka Reva menghidupkan lampu, melihat baju pengantin karya Viana Arsen. Reva mengelilingi baju yang terlihat sudah kusam tapi masih terlihat indah, baju yang sudah sedikit berubah dari beberapa tahun yang lalu.


Setiap Reva kehilangan inspirasi dia pasti datang ke apartemen dan mulai mengubah gaun milik Vi, Reva semakin memperindah desain gaun tapi tidak mengubah ciri khas sang pemiliknya.


"Gaun jadul! tapi sekarang sudah nampak cantik. Baju untuk siapa yang kak Vi simpan di sini."


Karena terlalu penasaran, Reva mencoba gaun dan memperbaiki setiap kekurangan. Baju yang Reva juluki jadul semakin indah berada ditubuhnya.


Selesai dari apartemen Reva langsung pergi menuju tempat pembuatan gaun pengantin Jum. Di sana sudah nampak dua gaun pengantin yang sangat indah sedang dalam proses pembuatan. Beberapa pegawai memandangi Reva dengan wajah kagum, tapi tidak semua orang yang suka. Ada orang yang membenci Reva, karena selalu unggul dan karyanya memang patut menjadi inspirasi.


"Semakin hari aku semakin benci melihat kesombongan Reva."


"Jangan iri Nis, Reva menang hebat."

__ADS_1


"Dia hebat karena bantuan dari VCLO, tunangannya juga bukan pria sembarangan."


"Iya dia sangat beruntung."


Mata Reva menatap semua karyawan meminta mereka keluar, dengan cepat semuanya menurut.


Reva sedang sibuk di ruangan desain nya, mata Reva memandangi dua baju pengantin yang super mewah. Selama satu minggu Reva fokus di baju pengantin yang dia buat khusus di hari bahagianya Jum.


Suara ketukan pintu tidak Reva dengarkan, dia masih sibuk memasangkan mutiara, dan mengelilingi manekin. Viana memperhatikan gaun pengantin berwarna biru muda yang sangat mewah dan elegan. Vi juga melihat Reva yang sibuk menjahit dan mengubah ukuran juga memasangkan aksesoris yang memperindah gaun yang berwarna putih.


"Keduanya sempurna!" Viana memberikan tepuk tangan.


"Kambing!" Reva teriak karena kaget membuat Viana tertawa geli mendengar umpatan Reva.


"Gaun untuk Jum ya Rev? biru sudah selesai." Viana membandingkan dua gaun yang sama indahnya.


"Putih untuk Jum, biru untuk Reva." Pandangan Reva penuh rasa kagum untuk gaun yang dia persiapkan untuk pernikahannya.


"Gaun Lo sudah selesai, tapi punya Jum masih di otak-atik. Luar biasa!" Viana geleng-geleng melihat tingkah Reva yang konyol.


"Reva membuatnya saat dilamar."


"Biar gue yang buatin Lo gaun, karya gue tidak kalah bagus." Senyum Viana lebar sambil melihat mutiara yang terpasang di gaun berwarna putih.


"Kurang ajar kamu Rev, pernikahan Lo tahun baru. Kandungan gue baru tujuh bulan."


"Kak Vi sudah tahu pernikahannya akhir tahun, padahal Reva pengen kasih kejutan." Wajah Reva manyun.


Viana bicara banyak hal dengan Reva, menceritakan perjalanan cintanya dengan Rama. Vi juga menasehati Reva yang harus lebih dewasa karena Bima orang yang pernah gagal dalam berumah tangga. Belum lagi Bima juga mempunyai seorang putri yang beranjak remaja.


"Reva sudah mempersiapkan diri untuk semuanya kak, setiap menuju hari bahagia pasti ada saja ujiannya."


"Jika kamu mencintai Bima berarti kamu juga harus mencintai putrinya Windy."


"Pasti! Windy segalanya untuk Reva."


"Aku percaya kamu bisa menjadi pendamping Bima!"


Reva membalas dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Viana juga menceritakan hubungannya dengan Bima dahulu.


"Reva, kamu harus menyiapkan hati karena mendekati hari pernikahan kemungkinan banyak sekali ujiannya. Kak Vi bicara seperti ini karena kamu berbeda dengan Jum yang perjalanan santai palingan banyaknya mantan Bisma, tapi kamu berbeda. Ingat mantan istri Bima, dan banyaknya pengemar kamu akan menjadi bumbu dalam rumah tangga kalian."


"Brit berulah lagi, tapi kali ini Reva tidak akan memberikan kesempatan."

__ADS_1


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Menghancurkan seluruh bisnis Brit, dan para sugar."


"Suger!" Reva dan Viana tertawa, terlalu banyak istilah yang mereka buat.


"Kak Vi, ini pertama kalinya kita bicara serius." Reva dan Viana tertawa bersama karena baru menyadari jika ini pertama kalinya mereka bicara sesuatu yang penting.


"Jadi kapan kalian menikah?"


"Jum saja dulu kak! Reva harua menyingkirkan Brit tanpa menyakitinya Windy."


"Tidak ada musuh lain Va?"


"Ada? kak Vi ingat soal perusahaan yang menarik saham."


"Suaminya mantan pacar kamu, dan sampai sekarang masih tergila-gila dengan kamu."


"Betul! jangan sampai Bima tahu, dia sangat posesif kak Vi."


"Bagus Va! berarti dia cinta, tapi aku yakin marahnya mas Bram pasti dengan diam."


Reva memanyunkan bibirnya, perkataan Viana benar. Bima saat marah pasti diam dan membuat penasaran dengan sifat diamnya.


Viana membantu Reva menyelesaikan baju Jum, mereka juga mengecek baju untuk kedua keluarga. Hari ini semua baju akan dikirimkan ke kampung, Reva juga memberikan beberapa baju untuk warga yang ikut berpartisipasi.


"Kak Vi duduk saja! nanti kecapean."


"Va!" Viana menatap tajam Reva yang langsung melihat kearahnya.


Viana menunjukkan foto seorang wanita bule, bersama Viana Brit juga Bima. Reva mengambil foto dan mengigat wajah bule yang terasa tidak asing. Vi menceritakan soal sosok bule yang juga pernah mencintai Bima tapi ditolak.


"Wajahnya mirip Steven, siapa namanya kak."


"Stevie! aku sudah lama coba menghubungi dia, karena hanya dia yang tahu ayah kandung Windy."


Reva menelan ludahnya yang terasa pahit, kedatangan Steven ke Indonesia pasti memiliki alasan belum lagi dia menjadi pengacara Bima. Tapi sejauh ini Steven tidak menunjukkan keburukannya.


"Stevie jahat tidak kak!?"


"Tidak! dia wanita paling baik, jika kamu bertemu dia beritahu kakak. Ada hutang yang harus kakak bayar."


Viana tersenyum, memperingati Reva dengan menghadirkan Stevie agar Reva lebih berhati-hati. Karena yang menyerang VCLO beberapa hari yang lalu orang yang sama dengan yang mengancam Reva. Walaupun Reva tidak cerita Vi bisa mengerti pergerakan Reva.

__ADS_1


***


__ADS_2