
Perlengkapan bayi sudah siap, Winda melihat cara Kasih memasangkan baju bayi, Vira juga melakukan hal yang sama memasang baju.
Saat Winda membedong bayi, Bulan langsung menangis, Vira tertawa kuat membuat Bulan semakin kuat menangis.
"Makanya perhatikan Vira, Bintang diam, tidak menangis." Vira dengan bangga menunjukkan hasil kerjanya.
"Tangan Bintang kenapa keluar?"
"Mungkin tangannya tiga, tadi keduanya sudah dimasukkan." Vira menatap Kasih yang langsung memperbaiki.
Bulan sudah menyusu, belum selesai menggunakan baju dia sudah menangis ulah Winda.
"Aunty nakal ya sayang, Bulan lapar aunty lama sekali memakai baju." Bella memeluk putrinya yang mirip suaminya.
"Sabar, ini tanda-tanda anak nakal suka ngambek." Winda duduk di samping Bella.
"Kamu saja yang jahil."
"Namanya juga belajar, pastinya lambat. Dia kuat sekali menyusu, belum saja rasanya daging sapi di rendang, jika tidak dia pasti menolak susu." Winda tertawa pelan.
Bella memukul Winda yang tidak bisa diam, mulutnya terus mengomel menjadi lagu pengantar tidur untuk bulan.
Suara Ar memanggil juga tidak dia perduli. Ar langsung masuk menutup mulut Winda agar keluar, membiarkan Bulan beristirahat tidur.
"Met bobok Bulan, ayo sayang kita keluar berikan kak Tian waktu bersama anak-anaknya." Ar menarik Winda melangkah menuju tempat makan.
"Abi, Winda lagi belajar mengurus anak."
"Iya sayang, berikan Bella waktu beristirahat. Dia sudah berjuang melahirkan secara normal, tanpa bantuan dokter, tenaganya banyak terkuras biarkan dia istirahat." Ar melangkah ingin menemani Winda ke salon.
"Abi tidak muntah dan lemas hari ini?"
"Iya ya, tumben."
Suara Vira mengomel terdengar keluar dari kamar Bella, air matanya menetes karena diusir oleh Mommy.
Tubuh Bintang dibolak-balik seperti boneka, membuat Viana marah, Wildan mengusap punggung istrinya.
"Vira bisa, Mommy saja yang tidak sabar." Vira menangis, merapikan rambutnya yang berdiri.
"Ada apa Vira?"
"Diusir Mommy, lihat Bintang belum dibedong." Vira menunjukkan kain yang masih ada ditangannya.
"Sudah jangan menangis, nanti kita belajar lagi ya sayang." Wildan menahan tawa melihat tingkah istrinya.
__ADS_1
Ar langsung mengajak Wildan ke salon, melihat rambut Winda yang bergulung menjadi satu satu. Vira langsung bersemangat untuk ikut, dia juga ingin ke salon.
"Ya sudah siap-siap dulu, kita langsung pulang ke rumah saja, soalnya agar twins B tenang terutama dari kalian berdua dan para bocil." Wildan berjalan ke kamarnya, diikuti oleh Vira.
"Di mana anak-anak?"
"Di kebun sayang, mereka sengaja dijauhkan." Ar membukakan pintu untuk Winda, mereka langsung turun ke bawah.
Di lantai bawah suara anak-anak sudah terdengar, Ar duduk di depan Raka yang menatap Wira berlarian.
"Ada apa Raka?"
"Ingin meminta maaf uncle, pandangan Aka pernah terlihat sinis kepada kak Wira, hanya karena dia membocorkan kepada wartawan." Kepala Raka tertunduk tidak enak hati.
"Anak baik, inilah namanya harus ada komunikasi, jangan hanya menilai dari apa yang kita lihat, tapi harus dari sumbernya langsung." Ar melambaikan tangannya, meminta Wira mendekat.
Senyuman Wira terlihat, langsung duduk dipangkuan Aka, membuat Raka kaget.
"Ada apa Uncle?"
"Ayo duduk di sini."
"Wira lebih nyaman duduk dipangkuan Aka." Tawa Wira terdengar.
"Tapi Aka tidak nyaman." Raka meminta Wira pindah.
"Kamu ingin meminta maaf, di dalam keluarga tidak ada yang salah. Jika ada kesalahpahaman itu sudah biasa, kamu cukup hidup dengan cara pikir kamu Raka, sedangkan kak Wir dengan cara kak Wir sendiri. Bukannya setiap manusia memiliki jalan yang berbeda." Senyuman lembut Wira terlihat, Raka juga tersenyum karena ternyata Wira sangat pengering.
Dia tahu jika Raka tidak mempunyai keberanian untuk memulai bicara, sehingga Wira yang mendahului.
"Maafkan Raka.
"Gwenchana." Wira langsung melangkah pergi lagi.
Windy tersenyum, sekarang Wira juga menguasai bahasa Korea, tidak heran jika pepatah mengatakan jika buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Wira menjadi jiplakan seorang Steven yang sangat pintar.
Vira muncul bersama Wildan langsung melangkah pergi bersama Winda dan Ar. Mereka pergi satu mobil, Wildan dan Ar di depan sedangkan Vira dan Winda di belakang.
Mereka langsung pulang, karena Ar dan Wildan harus bekerja.
"Salon yang mahal ya Abi." Winda langsung memeluk dari belakang, mencium pipi suaminya.
"Kak Wil cium." Winda menatap Wildan.
"Cium saja suami kamu." Wildan menatap adiknya yang aneh.
__ADS_1
"Mau cium kak Wil!" Winda teriak kuat.
"Iya, jangan teriak-teriak." Wildan mendekatkan pipinya.
Vira yang melihat langsung memukul punggung Winda, suara tangisan Winda langsung terdengar, membalas Vira sampai saling tarik rambut.
Ar menghentikan mobil, meminta keduanya berhenti.
"Ayang punya Vira, Winda selalu seperti itu, genit sekali." Suara tangisan Vira juga terdengar.
"Sudah jangan bertengkar, atau kalian keluar dari mobil. Wildan bukan milik kalian berdua, tapi milik diri sendiri." Wildan menasehati keduanya perbedaan sayangnya Wildan antara adik dan istri, tidak harus diperebutkan.
Ar mengusap air mata Winda, memintanya untuk duduk diam jika tidak mereka tidak akan sampai di salon.
Mobil melaju kembali, Winda dan Vira duduk diam hanya butuh lima menit keduanya sudah cekikikan tertawa.
Ar sampai menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan ulah dua sahabat yang memang hobi bertengkar, tapi secepat kilat juga baikan.
Sesampainya di salon, Vira langsung melangkah lebih dulu bersama Wildan. Winda masih tidur Ar membangunkannya perlahan.
"Sayang, ayo kita masuk."
"Buka baju Winda Abi?"
"Kenapa buka baju?" Ara menyentuh wajah mengemaskan istrinya.
"Pokoknya tidak mau pakai baju, Winda pengen di atas."
Ar menepuk jidatnya, istrinya lagi tidur saja memikirkan hal dewasa sungguh unik istrinya. Mencium kening sangat lembut, tapi masih membangunkan Winda.
"Abi, sudah sampai?"
"Sudah sayang, ayo kita merapikan rambut kamu." Tangan Ar menyambut Winda, mengelus perutnya yang terlihat.
Di dalam salon Winda melihat banyak perempuan memperhatikan suaminya, menatap tajam memeluk lengan Ar.
Mereka langsung naik ke ruangan VVIP, Vira dan Wildan sudah menunggu sambil berbicara dengan anak mereka.
"Abi Winda ingin rambut warna kuning, Abi warna biru."
Ar langsung melotot, mustahil rambutnya warna biru bagaimana dia bekerja sudah mirip idol yang rambut warna-warni.
Winda sangat bahagia membayangkan suaminya rambutnya berwarna biru, Vira langsung melihat wajah Wildan membayangkan suaminya juga.
Wajah Wildan langsung panik, dia khawatir sekali jika Vira mengikuti keinginan Winda. Tidak tahu cara menolak, kecuali mengatakan iya.
__ADS_1
Ar masih melakukan kesepakatan dengan Winda, dia ingin warna gelap, tapi ucapan Winda tidak bisa ditarik kembali. Warna rambut Ar biru, demi apapun Ar menyesal pergi ke salon.
***