MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Mata Steven melihat Lukas dan Vero yang tertawa bersama, Stev tahu Vero tidak memilki teman, orang yang dia perintahkan untuk menolong Steven saat kecelakaan harus Vero balas dengan mengorbankan mobilnya, dia juga menjual rumah orangtuanya untuk bertahan hidup.


"Om Stev, Windy mencoba baju dulu." Windy pergi bersama Wilo.


Steven melangkah mendekati Vero dan Lukas, meminta keduanya untuk mengikutinya. Melihat beberapa baju untuk Vero pergi kuliah, membelikan juga untuk Lukas.


"Om, jangan belikan Lukas ini terlalu mewah, Lukas membeli baju biasa saja." Lukas mengembalikan baju ke tempatnya.


"Vero juga meminjam baju ka Stev saja, nanti beli yang murah, di sini mahal." Vero juga mengembalikan bajunya.


"Baiklah, kalian berdua silahkan keluar." Steven mengeluarkan uang untuk Taksi, Vero melihat uang, melihat Steven melangkah pergi.


Steven kembali duduk, kesal hatinya melihat Vero dan Lukas. Setidaknya manfaat dia sekali saja, jangan memanfaatkan orang lain, tidak ada gunanya Steven mempunyai banyak uang, tapi tidak ada satu orangpun yang bisa menikmatinya.


Kepala Steven tertunduk, seandainya kakaknya ada, keponakan ada mungkin setiap hari dia bisa membeli makanan, baju, mainan, melihat orang yang dia cintai bisa menikmati uang kerja kerasnya, tapi nyatanya Steve tidak ada orang terpenting, hanya menghidupi dirinya sendiri.


"Kak Stev bagus tidak?" Vero tersenyum mencoba beberapa baju."


Windy tersenyum, melihat Vero yang mengikuti sarannya, membeli baju tidak akan membuat Steven jatuh miskin, dia hanya ingin melihat orang yang dia anggap penting ikut menikmati uang kerja kerasnya.


Lukas juga memperlihatkan baju pilihannya, Steven tersenyum melihat Vero dan Lukas mengagumi dirinya sendiri.


Vero mengambil beberapa baju, menunjukkan kepada Stev yang hanya mengagukan kepalanya, tersenyum melihat adiknya bahagia, Windy duduk sambil menemani Steven melihat Vero berganti baju.


"Om bahagia?" Windy melihat wajah Steven.


"Bahagia Win, ada kalian. Sekarang Om merasa seperti manusia, ada yang harus di bangunkan, ada yang harus diawasi." Steven melihat Windy tersenyum manis.


"Kak Stev kalau Vero membeli baju ini boleh tidak? sebenarnya Vero ingin menjadi pengusaha, tapi bukannya sukses, adanya menjadi buronan." Vero memperlihatkan beberapa jas kantor, langsung meletakkan kembali.


Steven melangkah mendekati beberapa jas, mengambilnya meminta Pelayanan menggabungkan dengan baju pilihan Vero.


"Kenapa di ambil kak, Vero hanya bercanda."


"Kamu bisa menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur, mementingkan kemakmuran karyawan, mengurangi pengaguran, kamu bisa selama tujuan kamu baik." Steven menepuk pundak Vero.


Vero langsung memeluk Steven erat, Steven menepuk punggung Vero. Windy langsung mendekat menyingkirkan Vero, langsung ingin memeluk Steven, tapi ditahan oleh Vero.

__ADS_1


Steven menggelengkan kepalanya melihat Windy dan Vero, langsung meminta semua baju, Vero, Windy, Wilona, dan Lukas nota dijadikan satu, Stev mengeluarkan kartunya untuk membayar.


Empat kepala berada di belakang Steven penasaran dengan jumlah nota, saat kasir memberikan kepada Steve langsung diambil di remas masuk ke dalam tempat sampah.


Empat orang menatap Steven tajam, mereka belum sempat melihat tapi sudah berada di tempat sampah. Steven keluar membawakan punya Windy yang cemberut.


"Om totalnya berapa?" Windy berjalan di depan Steven.


"Tidak tahu Win, Om tidak membacanya." Steven menahan tangan Windy yang sudah hampir menabrak pintu, karena berjalan mundur.


Di dalam mobil Wilona menggunakan kalkulator, menghitung jumlah pakaian yang mungkin puluhan juta atau lebih.


"Vero berapa harga jas kamu?"


"Tidak tahu, yang memilihnya kak Stev." Vero tersenyum melihat Wilo.


Mobil melaju, tapi tidak lama berhenti lagi di Restoran mewah, Windy menatap Stev yang ingin makan di luar, biasanya Stev memilih masak di sendiri.


Jika soal makan Vero langsung bersemangat, melangkah masuk ke dalam lebih dulu, Windy berjalan bersama Lukas dan Wilo.


Windy juga melambaikan tangannya meminta Steven mendekat, langkah Steven terhenti saat seorang wanita seksi memeluknya dengan erat di depan umum.


Windy dan Wilo saling tatap, wanita yang sangat cantik, seksi, wajahnya bule asli sangat mirip dengan Steven, sama-sama bule asli.


"Stev aku merindukan kamu, rumah makan ini tempat favorit kita dulu, aku datang ke sini karena merindukan kamu." Sarah ingin mencium pipi Steven, tapi Steven menghindar.


"Sarah, aku datang ke sini tidak merindukan kamu, aku lapar, tapi melihat kamu selera makan aku langsung hilang." Steven mundur, langsung melewati Sarah duduk di dekat Windy.


Sarah juga duduk bergabung dengan Steven, tatapan Wilo tajam penuh rasa tidak suka.


"Maaf Tante, tempat ini sudah sesak. Melihat Tante dengan body padat membuat lebih sesak lagi." Wilo menatap sinis.


"Kamu iri, aku punya rahasia agar body kamu besar." Sarah tersenyum, Vero langsung tertawa kuat.


Suara pukulan tangan Wilo kuat menghantam punggung Vero, punggung terasa panas, tangan Wilo merah, Sarah tersenyum kecil langsung menatap Steven, Windy hanya tersenyum.


"Saya tidak bercanda,"

__ADS_1


"Saya juga, banyak cara agar body juga dada kalian anak kecil lebih besar."


"Caranya disentuh lelaki, bukannya sudah pasaran cara membesarkan area tertentu dengan remasan." Windy menatap sinis.


"Windy, jaga ucapan kamu, tidak sopan."


"Ohh, maaf. Windy terlalu polos untuk mengerti hubungan orang dewasa seperti kalian." Windy melihat pesanan datang.


Semuanya hening makan, tidak ada yang berbicara. Hanya Sarah yang sibuk berbicara dengan Steven, tapi tidak dipedulikan. Steven meminta Sarah pergi, tapi terus menolak, mengatakan rindu.


Windy cepat menghabiskan makanannya, Wilo juga cepat agar segera pergi, rasa lapar langsung menghilang.


Steven yang sudah tidak tahan, juga kesal langsung mengeluarkan kartunya, meminta Vero yang membayar, Stev melangkah pergi ke mobilnya.


"Stev, aku kembali untuk kamu." Sarah melangkah ingin mengejar Steven.


"Tunggu Tante, makanan tolong dibayar." Lukas menatap Sarah yang langsung menatap tajam.


"Langsung saja menggunakan kartu Stev." Sarah langsung berdiri.


"Permisi mbak, makanan kita Tante ini yang membayar." Vero langsung melangkah pergi, Wilo dan Windy juga ingin pergi.


Wilo berhenti mengambil dompetnya, Windy juga mengeluarkan dompetnya melangkah kembali lagi ke meja mereka, memberikan beberapa lembar uang sambil tersenyum.


Di dalam mobil Lukas dan Vero menatap Steven yang wajahnya kusut tidak ada bersemangat.


"Kak, mantan pacar ya, makanya jangan suka menjadi playboy."


"Diamlah, bagaimana dengan Windy?" Steven melihat Windy berjalan mendekati mobil.


"Vero pastikan dia marah."


"Bukan marah lagi, Om Stev sudah tua playboy banyak tingkah, syukurnya Om ganteng, banyak uang, jika tidak sudah masuk tempat sampah." Lukas tertawa.


Windy masuk, menatap Steven sekilas, langsung mengabaikannya. Mobil melaju tidak ada yang berbicara, mengantar Lukas pulang, Windy langsung keluar memesan makanan sambil tertawa bersama Ibunya Lukas, mengabaikan Steven yang berdiri di sampingnya.


***

__ADS_1


__ADS_2