
Bunyi sepatu high heels menginjakkan kakinya memasuki perusahaan VCLO, banyak karyawan menundukkan kepalanya. Reva melangkah masuk dengan wajah dingin, tatapan tajam. Ditangannya menggenggam Mendali wisuda, Map wisuda dan tabung. Reva menyelesaikan kuliahnya selama 3tahun di Negara Ginseng Korea Selatan, dalam satu bulan Reva hanya kembali selama satu minggu untuk mengontrol perusahaan, sisanya dia fokus kuliah dan memperluas kekuasaan VCLO di Negara Ginseng.
Kehadiran Reva tanpa pemberitahuan, membuat banyak orang yang sedang melakukan meeting terkejut. Reva melangkah duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan mengintimidasi. Tidak ada yang berani memulai bicara dan semuanya hanya menundukkan kepalanya.
"Jika kalian sudah bosan bekerja, Berhentilah!" Reva menatap satu-persatu karyawannya.
PAAARRRR bunyi meja dipukul, banyak berkas berhamburan.
"Masih banyak, yang ingin bekerja mengantikan kalian. Saya sangat mengerti kesulitan yang kalian keluhkan, tapi bukan berarti kalian mengabaikan masalah kecil." Reva bicara dengan nada tinggi, semuanya hanya diam.
"Kalian semua patung, tidak punya mulut. Bicara!"
Sisi langsung berdiri menjelaskan masalah kerugian yang dialami VCLO dalam peluncuran produk kosmetik, keterlibatan perusahaan besar yang ingin VCLO turun dari posisinya.
"Siapa pemimpin mereka?" Reva duduk dengan menatap Sisi.
"Ririn! dia juga bekerjasama dengan perusahaan LOVER, dan berhubungan sangat baik." Sisi memberikan berkas ke Reva yang langsung disobek-sobek.
"beraninya kamu Ririn, aku tidak akan mentoleransi sekecil apapun masalah yang bersangkutan dengan VCLO." Reva menggenggam kuat kertas yang sudah dia remas.
Beberapa orang mulai memberanikan diri menjelaskan lawan VCLO, Ririn berdiri di bawah kepemimpinan perusahaan besar. Perusahaan Ririn sudah lama mengincar VCLO, tapi belum bisa menyentuh sedikitpun karena ada perusahaan lain yang melindunginya. Reva juga tidak pernah tahu siapa pemilik dari perusahaan yang menjaga VCLO sebagai pemegang saham terbanyak nomor tiga dari Reva dan Rama.
***
"Reva!" Septi berlari menyambut sahabatnya dengan pelukan hangat.
"Bagaimana kabar Om Duren?" Reva tersenyum nyegir.
"Sialan! tanya dulu kabar sahabat Lo ini," Septi menjitak kepala Reva sambil memeluknya kembali.
Mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, saat pulang juga Reva hanya mengurus perusahaan dan melihat keluarganya yang sudah pindah ke kota xxxx tanah kelahirannya.
"Selamat Va, sekarang kamu sudah mendapat gelar Desainer dengan lulus kuliah sebagai siswa terbaik. Tawaran kerja pasti banyak banget." Septi mengacak rambut Reva.
"Selamat juga untuk kamu Sep, tidak menyangka akan menjadi seorang koki dan restoran ini juga sangat bagus." Reva melihat desain restoran terbaru sahabat terbaiknya.
"Iya Va, aku juga tidak pernah menyangka. Kamu juga semakin cantik dengan penampilan kamu yang sederhana, aku pikir kamu datang dengan menyeret baju yang terbuat dari emas." Septi tertawa membayangkan Reva yang berjalan dengan gaun dan penuh aksesoris bermerek.
"Gila kamu Sep, Reva tidak akan pernah berubah." Reva ikut tertawa dan berpelukan kembali.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Om Duren Reva, Rama juga, Ivan, Romi dan kak Satya." Reva mulai mengigat para sahabatnya.
Septi yang Reva tugaskan untuk mengawasi Bima menjelaskan jika Bima jarang berada di Indonesia, dia sibuk dengan bisnis luar negeri. Pulang ke Indonesia hanya saat rapat pemegang saham dan jika terdapat masalah saja.
Suara berisik berdatangan menghentikan cerita Septi, Ivan dan Rama datang diikuti Romi dan Satya.
"Reva! selamat ya, sekarang sudah menjadi seorang desainer, juga menjadi pemimpin VCLO yang terkenal dingin dan galak." Ivan memeluk Reva yang juga dibalasnya.
"Hanya formalitas, aslinya Reva gadis periang dan berisik." Romi juga memberikan selamat dan memeluknya.
"Kak Satya! kapan pulang?" Reva memeluk Satya yang juga sering berada di luar negeri.
"Satu Minggu yang lalu, dan besok balik lagi."
"Rama! apa kabar Om Bima." Reva cengengesan melihat sahabatnya yang paling dingin tapi paling tampan.
"tidak salah kamu, tanya kabar kita dulu." Rama mengacak rambut Reva dan mereka semua duduk sambil makan dan bercerita.
***
Rama, Ivan dan Reva sedang membahas masalah perusahaan. Septi hanya celingak-celinguk tidak mengerti sedangkan kedua sahabatnya telah kembali.
"Oke kita bertemu besok," Rama menutup pembicaraan mereka.
"Belum ada kabar Va, aku masih belum menyerah." Rama tersenyum terlihat lebih tegar.
"Aku mendengar kamu dekat dengan seorang wanita dari perusahaan xx xx, jangan macam-macam kamu Rama." Reva menatap tajam dan terlihat berbeda.
"Hanya rekan kerja, Viana tidak akan pernah tergantikan." Rama hanya tersenyum kecil.
"Awas saja! dia ingin menghancurkan VCLO dan dia juga punya kerjasama dengan LOVER. Jika kamu membela dia, aku pastikan LOVER dan perusahaan xx xx hancur." Reva berdiri berjalan keluar setelah mengancam.
"Reva menyeramkan, lebih galak dari Viana." Ivan mengaruk Kepalanya.
Saat keluar Reva melihat Bima sedang makan bersama seorang wanita dan anak kecil, Reva masih mengigat wajah Windy.
"Kak Bima! Windy! Brit." Rama melihat juga kearah keluarga kecil yang sedang asik menikmati makanan mereka.
"Siapa wanita dan anak kecil itu Ram?" Reva mulai kesal melihat Bima yang munafik menolak cintanya.
__ADS_1
"Mantan istri dan putrinya kak Bima." Rama menjawab jujur, tapi langsung di senggol Ivan yang melihat wajah Reva merah.
"Akan aku hancurkan kamu Bima." Reva melangkah pergi meninggalkan restoran.
"Ram, mulut kamu terlalu jujur, Reva sakit hati bertahun-tahun mengejar cinta Om Bima, tapi sekarang melihat Om Bima bersama keluarga kecilnya." Ivan berlari mengejar Reva menghentikan mobilnya dan mengambil alih menyetir.
"Salah aku apa? Reva bertanya aku menjawab." Rama melihat kearah Septi yang sudah menepuk jidat.
"Kak Bim tidak akan balik dengan mantan istrinya, ada wanita lain dalam hatinya." Rama bicara pelan dan melangkah pergi.
"Auh ahhh gelap!" Septi pusing jika berurusan dengan cinta.
Di mobil Reva meneteskan air matanya, Ivan coba menenangkan tapi Reva yang memang cengeng tangisannya semakin menjadi-jadi. Reva hanya dari luar saja yang kuat, tapi dalamnya sangat lemah lembut. Merasakan sakit di dadanya membuatnya ingin menangis histeris.
"Kalau memang mau balik sama istri silahkan, Reva tahu diri tidak berniat juga jadi pelakorr." Reva teriak-teriak sambil terus menangis.
Ivan hanya menjadi pendengar setia teriakan Reva yang cempreng, dia harus menerima nasibnya menjadi penenang kedua sahabat wanitanya yang cengeng. biasanya Septi yang menagis jika masakannya gagal, sekarang Reva yang menangis putus Cinta.
***
Perusahaan besar mengadakan rapat, seluruh pemimpin tertinggi bergabung dalam rapat tahunan. Tahun ini rapat diadakan di perusahaan LOVER. Reva dan Bima juga salah satu tamu yang paling ditunggu.
Reva sudah berada di dalam ruangan, dengan berkasnya yang menumpuk. Rama, Bima dan Ivan masuk untuk bergabung tapi menatap aneh Reva yang terlihat seriusan.
"Reva! ini hanya rapat persahabatan, tidak perlu terlalu serius." Rama tahu Reva jika sudah bekerja lupa diri.
"Jika kamu bergabung hanya ingin menjalin persahabatan silahkan keluar," Reva bicara dengan nada dingin.
Ivan yang ingin minum langsung tersedak, seorang Rama menerima hawa dingin dari Reva Pratiwi. Reva juga melemparkan berkas kehadapan Bima, Bima mengambil dan membacanya.
"Saya yang memegang proyek ini Reva, tidak ada sangkut-pautnya dengan VCLO." Bima mengembalikan berkas yang Reva lempar.
"Benarkah! Sisi tarik kembali milik kita, saya tidak tertarik bekerja sama dengan bapak Bima yang terhormat, yang kerjanya tidak profesional."
Rama dan Ivan langsung mundur, Reva menatap tajam Bima seakan mengibarkan bendera perang. Bima hanya membalas dengan tersenyum tipis.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP