
Seluruh berkas persidangan Bima dan Brit akan hak asuh Windy sudah siap. Bima menatap wajah Windy yang sedang tersenyum bahagia melakukan vC dengan Reva. Selain kesibukan untuk pernikahan Bisma juga persidangan memakan banyak waktu.
Pagi-pagi Bima sudah melangkah kakinya ke gedung pengadilan negeri, Brit juga datang bersama pengacaranya. Senyum manis Brit tunjukkan tapi hanya mendapatkan perlakuan dingin dari Bima.
"Bim seharusnya kita tidak perlu melakukan ini, kita bisa bersatu dan menjaga Windy bersama."
"Terlambat! aku akan segera menikah dengan Reva, dan sampai kapanpun kita tidak mungkin bersama."
"Reva hanya memanfaatkan kamu, dia melakukan ini karena taruhan."
"Kita selesaikan masalah kita, tidak usah membahas hubungan aku dan calon istriku." Bima melangkah masuk, dan bertemu Steven sebagai pengacaranya.
***
Mobil Reva baru saja tiba di VCLO tapi langsung pergi lagi. Sisi yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala, mungkin bos sudah gila, baru datang langsung hilang lagi.
Di depan gedung persidangan Reva masuk, terlihat kekacauan di sana. Brit marah-marah karena dia ibu kandung Windy, orang yang membesarkan dan juga melahirkan.
Mendengar keputusan terakhir, Brit langsung teriak histeris, dia dan Bima akan rujuk lagi demi anak mereka, Brit memohon untuk meminta waktu membicarakan dengan Bima. Steven menolak, tapi Brit tetap memohon sampai permohonan disetujui. Mereka hanya perlu melakukan satu kali lagi persidangan akhir.
Reva hanya menahan tawa, seorang ibu yang tidak punya malu, memohon karena cinta. Pengen muntah Reva mendengarnya, anak dijual demi harta, dan ditinggalkan demi kekuasaan apa pantas menjadi sosok ibu.
Seluruh orang keluar, Bima melangkah pergi. Brit mendekat ingin memeluknya tapi Reva masuk lebih dulu dalam pelukan Bima. Awalnya Bima kaget tapi menyambut pelukan Reva. Tatapan mata Brit langsung gelap, ingin sekali dia menjambak Reva.
"Steven, aku tidak ingin mengundur lagi, sidang berikutnya akan menjadi penentu. Jika pihak lawan masih terus mengulur waktu lakukan hal kotor, aku sudah muak memberi kesempatan."
"Siap bos!"
Bima melangkah pergi sambil mengandeng Reva, tapi Brit menarik tangan Bima dan memohon untuk memberikannya kesempatan. Brit juga menjelekkan Reva, membongkar rahasia Reva, menceritakan seluruh pria yang Reva sakiti.
"Sialan ini nenek lampir! cari mati berurusan dengan Reva. Awas kamu, aku pastikan menyesal menyebut namaku dan menjelekkannya." Reva menatap sinis, membuka ponselnya dan mengirimkan video ke handphone Brit.
Tanpa memperdulikan Brit, Bima melangkah merangkul pundak Reva, tidak lama Reva menoleh dan menjulurkan lidahnya, memberikan jempol ke arah bawah.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Bima menatap Reva yang tangan mereka masih saling genggam.
__ADS_1
"Takut Ayy di guna-guna biar terpesona dengan Nenek lampir. Jadi Reva harus muncul agar hanya Reva yang Ayy ingat."
"Reva Reva!, kamu pintar membuat alasan." Bima membukakan mobil Reva dan melambaikan tangannya.
"Mau ke mana?" Reva menarik tangan Bima.
"Ke kantor, kamu tidak kerja nanti dipecat oleh VCLO." Ejek Bima dari balik kaca mobil.
"Masih kangen!" Reva memanyunkan bibirnya, langsung cemberut.
"Nanti malam aku jemput, kita makan malam berdua."
"Benar Ayy! ajak Windy juga, kangen Windy."
Bima menggagukan kepalanya, pergi meninggalkan Reva menuju mobilnya. Reva tidak melajukan mobilnya, dia masih menunggu Brit keluar.
Wajah Brit pucat keluar dari gedung karena melihat video yang dikirim Reva, jika sampai kepada pengadilan jika dia menjual wanita dan melakukan hubungan dengan banyak lelaki salah satunya Reno.
Reva hanya tertawa, langsung menyapa Brit dengan tawanya. Reva mengejek Brit dan memperingatinya untuk menjauhi Windy, dan jangan pernah mencoba mempengaruhi pikiran Windy.
***
Kedua tangan Reva mengandeng tangan Tian dan Windy, wajah Windy sesekali menatap wajah Tian.
"Kenapa Windy sayang?" Reva juga binggung melihat Windy yang senyum melihat Tian.
"Tian adik kandung Windy ya Mami, pantas kami berdua mirip."
Reva kaget mendengarnya, sedangkan Tian hanya binggung dan tidak mengerti dengan ucapan Windy.
"Dari mana Windy tahu? jangan bicara sembarangan sayang."
"Tidak sengaja mendengar pembicaraan Uncle Bisma dan aunty Jum. Tapi Windy senang karena adik Windy juga mendapatkan sosok ibu yang baik seperti aunty Jum."
"Windy sayang, rahasiakan dari siapapun ya nak. Tidak ada yang boleh tahu identitas Tian sebelum uncle Bisma secara resmi menjadi ayah Tian."
__ADS_1
"Iya Mami, Windy sudah besar dan mengerti semuanya."
Reva menghela nafas, dia harus segera memberitahu Bima. Reva juga kesal dengan Bisma yang mulutnya tidak punya rem, bicara sembarangan.
***
Malam harinya Bima menjemput Reva tapi tanpa Windy. Karena Windy ikut Bisma, Jum dan Tian. Bima sedikit binggung melihat penampilan Reva hanya menggunakan baju tidur Doraemon berserta sendalnya, langsung masuk ke dalam mobil Bima.
"Tidak salah bajunya?" Bima yang sudah Ravi ingin dinner dirusak dengan penampilan Reva yang seperti ingin tidur, jangan lupakan masker diwajahnya.
"Kita ke hotel saja Ayy, pesan makanan romantis di sana. Reva ada yang ingin dibicarakan."
"Pakai baju tidur!" Bima menjalankan mobilnya, Reva memang sangat sulit dimengerti. Pakai baju tidur untuk dinner romantis.
Sebelum sampai Bima sudah memesan untuk mempersiapkan makan malam romantis, dengan santainya Reva membuka baju di depan Bima yang langsung teriak.
"Lebay ayy!" Reva membuka baju tidur yang sudah menggunakan baju cantik yang sudah merekat ditubuhnya.
Sekarang Reva sudah menggunakan gaun cantik berwajah putih, Bima menutup wajah agar tidak melirik ke arah Reva.
"Selesai!" Reva melepaskan tangan Bima.
Sampai di hotel Reva dan Bima langsung masuk lift, Reva meminta Bima memegang ponselnya dan Reva menghidupkan kamera, untuk melihat wajahnya saat membuka masker. Mengambil lipstik, memperjelas alisnya, meletakan bedak tipis, maskara, eyliner.
"Cantik tidak!" Reva menatap Bima.
"Biasa aja!" Bima bicara pelan, bibir Reva manyun.
"Iya cantik!" barulah Reva tersenyum, Bima mengandeng tangan Reva melihat tempat makan malam romantis. Beberapa karyawan hotel terpesona melihat wajah cantik Reva, Bima memberikan perintah untuk pergi.
"Terimakasih Ayy, ini romantis sekali."
Bima mengaruk kepalanya, dia sebenarnya merasa canggung melakukan hal romantis. Tapi demi senyuman Reva, Bima melakukannya. Semua ini usulan dari Ratna yang mengajarinya banyak hal romantis, Bima harus banyak mengerti wanita muda seperti Reva.
"Setelah kita menikah, pasti tidak romantis lagi." Reva menatap Bima yang hanya tersenyum, memberikan kertas catatan dari Ratna yang membuat keduanya tertawa.
__ADS_1
***