
Suara tangisan Winda terdengar, memeluk suaminya yang masih terbaring. Ar menahan sakit demi bisa memeluk istrinya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" Ar mengusap air mata Winda yang tidak bisa berhenti menangis.
Winda tidak bisa menjawab, hanya bisa meneteskan air matanya. Semuanya hanya diam melihat Winda yang tidak bisa menutupi kesedihannya.
Air mata Ar juga ikut menetes, mengerti perasaan istrinya. Sungguh takut kehilangan, sehingga tidak punya kata-kata lagi untuk mengutarakan sedihnya dirinya.
"Takut, Winda takut. Bagaimana cara Winda membesarkan anak-anak?" dada Winda rasanya sesak, saat dirinya terlalu bahagia setelah mencintai begitu sakit saat melihat orang yang dicintai terkapar berlumuran darah.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, tidak akan membiarkan anak-anak tanpa aku. Jangan menangis lagi sayang, sudah cukup banyak air mata kamu keluar. Hidup dan mati kita Allah yang menentukan, tidak memandang apapun. Winda harus ingat, jika kita tidak akan diuji melebihi batas kemampuan kita, jangan takut kehilangan." Kecupan lembut mendarat di kening istrinya tercinta, Ar bersyukur atas apapun yang terjadi, karena Allah menyayangi mereka.
Steven langsung keluar bersama Windy, Bima juga keluar bersama istrinya, Mami Liza keluar membiarkan Winda bersama Ar juga anak mereka.
Suara Syila menangis terdengar, Winda langsung menggendong meminta Ar membalikkan badan dia ingin menyusui Syila.
Senyuman Ar terlihat, langsung menuruti keinginan istrinya, padahal Ar juga tahu tapi Winda masih malu.
Tangisan Syila masih terdengar, sambil menyusu air matanya masih tetap saja mengalir membasahi aliran matanya.
Winda memegang dadanya, merasakan perasaan tidak nyaman. Pasti sesuatu terjadi kepada kakaknya, tatapan Winda langsung melihat ke arah Syila yang tidak berhenti meneteskan air matanya, meskipun suara tidak terdengar.
"Ada apa sayang? kenapa ekspresi kamu sedih?" Ar mengusap punggung Winda yang meneteskan air matanya.
"Perasaan Winda tidak enak, pasti kak Wil sedang bersedih." Winda menatap suaminya yang juga merasakan khawatir.
"Bagaimana keadaan Vira? juga kandungannya." Perasaan Ar juga tidak enak, karena Vira juga terlibat dalam kecelakaan mereka.
Winda sudah bertemu Vira, dia terlihat baik-baik saja bahkan sudah bisa tertawa dan menyusui anaknya meskipun keadaan twins V masih lemah, usia mereka yang belum masuk tujuh bulan harus lahir.
Sampai saat ini kedua bayi masih di dalam tabung inkubator, sampai berat badan mereka normal.
__ADS_1
Winda dan Ar hanya bisa berdoa agar Virdan dan Vivi cepat membaik, cepat sehat dan berkumpul dengan mereka semua.
Tangan Winda meletakkan putrinya yang sudah tertidur, meskipun air matanya masih membasahi pipinya.
Ar juga meminta Winda beristirahat, mereka membutuhkan kesehatan agar bisa melihat keadaan anak Wildan. Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan, hanya doa yang bisa diberikan untuk keluarga kecil Wildan Vira.
Winda memejamkan matanya, hatinya sudah lega bisa melihat suaminya yang sudah sadar, bisa berbicara juga sudah bertemu anak mereka.
Ar mencari ponselnya, menatap putra putri yang sedang tertidur di sampingannya. Rajang yang besar cukup untuk mereka berempat, meskipun Ar masih menggunakan infus ditangannya.
Ar masih kepikiran dengan keadaan Wildan, beberapa hari ini Ar tidak melihatnya. Wildan menanggung beban yang sangat sulit atas apa yang terjadi.
Banyak pesan masuk yang membahas soal perusahan, Ar juga melihat laporan soal kematian Ranty yang memutuskan untuk bunuh diri, kepala Ar langsung sakit melihatnya.
Ponsel langsung dirampas oleh Erik, meletakan di atas meja menatap Ar yang memegang kepalanya.
"Kamu ingin tahu kenapa aku memilih menjadi dokter saraf?"
"Karena itu yang paling sulit, aku ingin melihat isi kepala manusia, ternyata isi kepala orang pintar, dan kurang pintar sama. Aku paling tidak suka menangani pasien pintar, tapi ternyata aku harus menangani kamu, resikonya mungkin kepintaran akan hilang." Erik menghela nafasnya, meminta Ar berhenti berpikir, ada saatnya otak harus beristirahat. Dia juga bisa lelah dengan kenyataan hidup.
Ar hanya ingin mengetahui keadaan Wildan, juga alasan Ranty bunuh diri.
"Ranty sepertinya depresi saat melihat kamu koma, dia mencintai seseorang yang dia tahu tidak bisa dia miliki. Akhirnya lompat dari kamar rawat kamu, jenazahnya sudah dibawa Josua dan Joseph kembali untuk dimakamkan." Erik hanya tahu singkatnya saja, karena tidak tahu detail yang mengurusnya Steven.
Ar menganggukkan kepalanya, menanyakan keadaan anak Wildan. Erik hanya tersenyum meminta doa, saat ini Vivi sedang berjuang untuk bertahan.
Meskipun harapan kecil, tetap saja kedua orangtuanya berharap bisa membawa kedua anaknya untuk kembali.
"Jangan merasa bersalah kak Ar, ini bukan salah kalian. Ini sudah menjadi takdir, Allah menguji kesabaran Wildan dan Vira, melalui anak mereka yang sedang berjuang untuk bertahan." Erik juga merasakan sedih melihat sekilas laporan keadaan Vivi yang terus memburuk.
Melihat keterangan Erik, Ar menatap putrinya yang masih meneteskan air matanya. Erik langsung memindahkan ke dalam pelukan Ar.
__ADS_1
Tatapan mata Ar dan Erik memilliki pikiran yang sama, Syila sedang menangis melihat Vivi yang sedang kesakitan.
"Maafkan Abi ya sayang, tidak bisa melakukan apapun." Ar mengusap air mata putri kecilnya, Erik langsung mengecek suhu Syila, khawatirnya dia juga mengalami drop.
Erik bisa bernafas lega, karena kondisi Syila benar-benar sudah normal, hanya perlu menambah berat badannya.
"Assalamualaikum." Wira datang bersama Jack, Erik meletakkan jarinya di bibir.
Wira berjalan pelan, Jack tersenyum melihat kakaknya yang bisa tersenyum. Kepala Jack menunduk memberikan salam kepada kakaknya.
"Kalian berdua jangan berisik, adik kecil sedang tidur. Kak Windy juga sedang beristirahat."
"Winda, bukan Windy. Windy mommy Wira." Tatapan Wira tajam.
"Terpeleset sedikit Wir." Erik mengusap kepala Wira yang duduk diam.
Erik juga duduk, masih memperhatikan keadaan Ar yang belum sepenuhnya pulih, meskipun pikiran ada di tempat Wildan.
Di sana seluruh keluarga berkumpul, karena sedang melihat kondisi Vivi, melihat keadaan Vira yang sedang terpukul hanya memiliki satu kali kesempatan untuk menyusui putrinya, tapi sekarang anaknya dalam keadaan buruk.
Pintu terbuka kembali, tangan Erik ada di bibir. Asih duduk diam bersama Em, Raka Elang juga datang duduk diam.
Air mata Bella menetes meletakan satu bayinya di samping Winda, Tian juga muncul karena menyerah melihat keadaan di bawah yang sedang banjir air mata.
Bella langsung ke toilet, menangis sepuasnya meluapkan kesedihannya. Anak-anak yang biasanya berisik akhirnya duduk diam, tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
Tian duduk di samping Erik, keduanya hanya saling pandang. Tangan Erik mengusap wajah Bintang yang sudah bangun tidur.
Semuanya duduk diam, menunggu kabar baik, mungkin juga kabar buruk. Hanya doa yang bisa mereka berikan untuk perjuangan Vivi.
***
__ADS_1