MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEMAH


__ADS_3

Suara teriakan Winda terdengar bersama Vira, Bella dan Billa. Windy juga melihat Ravi, Erik dan Tian yang sudah kuliah, ketiga adik Windy yang sangat pintar.


Windy memeluk Tian, Ravi merapikan rambutnya untuk tebar pesona, Windy juga memeluk Erik yang sangat salut dengan kepintaran Erik.


"Rik selamat atas beasiswa kamu, kak Windy berharap kamu bisa menjadi dokter yang hebat."


"Terima kasih kak, Erik harap kak Windy berhenti mengirimkan boneka." Erik tersenyum.


Windy hanya tertawa, langsung memeluk Papi dan Maminya. Reva menciumi seluruh wajah Windy.


"Hanya Papi sama Mami?"


"Iya sayang, Mommy dan Bunda menyusul."


Vero memeluk Bima, mencium tangan Reva membukakan pintu mobil untuk segera pulang.


Vero menatap Winda yang semakin cantik, tingkahnya semakin konyol ditambah lagi kehadiran tiga sahabatnya.


"Winda kamu punya pacar tidak?" Vero berbisik.


"Punya, namanya kokomi."


"Jelek sekali namanya."


Winda tertawa kuat, Reva menatap putrinya yang tidak bisa diam. Winda membisikan sesuatu kepada Vira, Bella dan Billa membuatnya keempat tertawa.


Vero mengerutkan keningnya, berbicara dengan bocah membuat Vero mirip orang bodoh.


"Kak Stev tahu siapa kokomi?" Vira menatap Vero.


"Siapa?"


"Tukang mie di sekolah kita, dia pembantu kita." Vira menatap sombong.


Reva langsung menatap Vira, memperingati Vira agar jangan membuat masalah. Vira hanya tersenyum melihat Mami, mengatakan soal kokomi kucing liar di sekolah mereka yang sukanya makan mie.


"Namanya Koko, karena suka mie jadinya kokomi." Billa menjelaskan kepada Vero.


"Kenapa Winda pacaran dengan kokomi?" Vero menatap Winda.


"Kucing lebih terhormat daripadanya mencintai manusia yang perasaannya bisa berubah ubah padahal sudah kita cintai, sayangi, selalu kita perlakuan dengan baik, tapi apa akhirnya mereka berkhianat." Winda melotot melihat Vero.


Tawa Vero terdengar, mengatakan kepada Reva seharusnya Winda di sekolahkan di pesantren.


"Vero, kamu tidak tahu nakalnya mereka, setiap hari membuat masalah." Reva menghela nafasnya.


"Winda kenapa kamu nakal?"


"Karena mencari jati diri."

__ADS_1


"Vira kenapa?"


"Mengenal dunia bebas."


"Twins B."


"Karena yang baik belum tentu baik, jadinya lebih baik terlihat buruk tapi hatinya baik. Betul Billa?"


"Betul sekali kak Bella." Billa memberikan dua jempol.


Vero tersenyum, Billa tidak berani membantah Kakaknya, apapun yang Bella katakan selalu diiyakan.


Windy memberikan peta kepada Ravi, Tian dan Erik yang ingin kunjungi. Mereka ingin pergi ke hutan yang cukup jauh dari pemukiman, mencari tumbuhan obat yang hanya berbunga 11tahun sekali. Tanaman yang ingin mereka budidayakan di kampus.


Sebagai mahasiswa Tian yang sedang melakukan penelitian ilmiah, sedangkan Erik dan Ravi asal ikut saja.


"Tian, kenapa tidak mengambil yang praktis saja, lokasinya sangat jauh."


"Tidak masalah kak, sekalian melihat alam."


"Tian benar, lagian di sana ada tim juga kak Win." Erik merangkul Windy.


Windy menganggukan kepalanya, meminta ketiga adiknya berhati-hati. Mereka juga sudah mendapatkan izin dari kedua orang tua, di lokasi juga ada tim.


Sesampainya di Mansion tiga pria sedang sibuk mengemas pakaian, Wildan mendekat ingin ikut. Ravi langsung menolak karena Wildan masih dibawah umur.


"Tidak Vira."


Setelah persiapan Bastian, Ravi dan Erik pamitan. Mereka langsung ingin berangkat, Bima langsung yang mengantar bersama Vero, sedangkan Windy ke kantornya bersama Maminya.


Wildan duduk di ruang tamu sambil membaca buku, tidak sadar dia tertidur. Tidak ada maid yang membangunkan Wildan, menatap wajah Wildan sesuatu yang menenangkan.


Reva pulang malam bersama Windy, melihat Mansion sepi Wildan juga tertidur pulas. Reva membangunkan Wildan memintanya pindah ke kamar.


"Mami pulang malam?" Wildan berjalan menuju kamarnya.


"Wil, di mana Vira, Winda, Bella dan Billa?" Windy turun dari lantai dua dari mengecek adiknya.


"Wildan tidur tidak memperhatikan mereka juga."


Windy mengumpulkan seluruh maid mempertanyakan keberadaan empat putri yang seumuran.


Wildan membuka tabletnya, meminta Maminya menghubungi Papinya, keempat gadis kecil menyelinap masuk ke dalam mobil.


Reva dan Windy teriak kaget, Reva langsung menghubungi Bima, tetapi suara ponsel terdengar bersamaan dengan suara salam.


"Assalamu'alaikum, ada apa Va?" Bima menunjukkan ponselnya.


"Vira, Winda, Bella Billa menyelinap masuk mobil."

__ADS_1


"Apa?" Bima langsung menatap Vero yang juga terkejut.


Semuanya hening saling tatap, Bima langsung berlari keluar menuju mobilnya untuk kembali lagi ke sana. Reva juga berlari mengikuti Bima.


Vero juga keluar mengeluarkan mobilnya, Windy dan Wildan langsung masuk. Windy mencoba menghubungi Tian, tapi Wildan mengatakan di sana tidak ada sinyal.


Di tengah jalan, Bima tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ada penutupan jalan. Beberapa lokasi sedang terkena banjir karena hujan selama tiga hari.


Terpaksa Bima dan Reva menunggu sampai keadaan air sedikit surut, juga menghindari adanya longsor.


"Masih lama tidak sampai Papi?"


"Lumayan Win, melewati tiga hutan luas lagi, mereka ada di lokasi paling ujung." Bima menenangkan Reva yang meneteskan air matanya.


Reva menyalahkan dirinya yang tidak mengawasi anak-anak sudah tahu keempatnya tidak bisa diatur.


"Sebaiknya kita jalan kaki, melewati satu kampung ini ada desa yang cukup ramai mungkin ada yang bersedia mengantar." Wildan melangkah keluar, mengendong tas ranselnya.


Bima setuju dengan ucapan Wildan, akhirnya memutuskan untuk jalan kaki dalam keadaan gelap.


Langkah kaki Reva mulai sempoyongan, Bima menghentikan langkah, meminta semuanya beristirahat di pondok tua karena bakal hujan.


Suara tangisan Reva terdengar menghawatirkan anak-anaknya. Wildan berhasil menghubungi Ravi, senyuman Wildan terlihat mengatakan keempat ada bersama mereka, sekarang sedang tidur.


Bima dan Reva bernafas lega, Vero menghubungi orang kepercayaan yang mengantarkan mobil lebih besar, karena hujan jalanan banyak ditutup terutama di tempat rawan longsor.


"Kak Vero tadi kalian bisa lewat, kenapa sekarang ada banjir?"


"Sebenarnya dari tadi saat kita pulang sudah ada peringatan, hujan di Wilayah hutan lindung, juga hutan yang masih luas cukup berbahaya."


Bima memeluk Reva meminta maaf karena dia tidak berhati-hati, meminta Reva beristirahat karena harus menunggu mobil baru yang lebih besar, sehingga aman dari banjir.


"Dasar anak nakal, tidak bisa satu hari saja tidak membuat masalah." Reva menendang kursi kesal melihat putrinya yang sangat kompak dengan ketiga anak yang tidak kalah nakalnya.


Reva mengirimkan pesan kepada Ravi untuk mengawasi dengan baik, saat mereka membuka mata bisa saja mereka menghilang main masuk hutan.


Suara Reva yang terputus-putus membuat kening Ravi berkerut.


"kak Bim, mobil sudah datang."


Semuanya masuk mobil yang jauh lebih besar, berjalan perlahan sekalipun sedang hujan.


Sedangkan di tempat perkemahan, Ravi marah melihat empat tuyul ikut mereka, sedang tertidur kelelahan, bersiap untuk mengumpulkan tenaga.


"Sudahlah Rav, paling penting mereka bersama kita."


Ravi Tian Erik tidur menjaga empat bocah nakal yang tidur mengorok.


***

__ADS_1


__ADS_2