
Sudah tengah malam, Winda tidak bisa tidur dengan tenang. Bekali-kali bolak-balik membuat Ar terbangun.
Jarak tidur mereka sangat jauh, Ar membiarkan Winda yang memunggunginya. Armand mencoba tidur kembali.
Air mata Winda menetes, mencengkram kuat perutnya yang terasa sakit. Suara pelan Winda memanggil Papinya.
AC yang dingin masih membuat Winda berkeringat, perut Winda sakit nyeri membuatnya terus menangis.
Ar langsung mendekat, melihat wajah Winda yang basah air mata. Ar langsung panik kebingungan juga sangat khawatir.
"Kamu kenapa? Winda. Apa kamu yang sakit?" Ar langsung mengangkat tubuh Winda, memeluknya menghapus air matanya.
"Papi."
"Kamu rindu Papi? besok kita pulang, tapi kamu jangan menangis." Ar langsung mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang agar menyiapkan tiket.
Winda kebingungan, menahan tawa melihat Ar yang panik sangat khawatir. Dia sangat mengutamakan apapun yang bisa membuat Winda bahagia.
"Perut Winda sakit, bukan ingin bertemu Papi." Bibir Winda langsung monyong, Ar tidak peka.
"Astaghfirullah Al azim, aku pikir rindu Papi. Sakit perut di mana?"
"Di perut, namanya juga sakit perut." Suara Winda meninggi.
"Jangan teriak Winda, bicara pelan-pelan sayang." Ar mengusap punggung Winda, air mata Winda kembali menetes menekan perutnya.
Ar langsung menyentuh perut Winda, mengusapnya pelan. Ar juga langsung browsing penyebab sakit perut dan cara mengatasinya.
"Kamu sakit perut ingin buang air besar Win?" Ar langsung meringis.
Winda memukuli Ar yang diam saja, tatapan Winda semakin kesal karena Ar membuatnya malu.
"Winda sakit perut bulanan, bukan ingin ke toilet." Suara Winda besar berbicara di telinga Ar.
Pintu terbuka Ar langsung berlari keluar, Winda sampai kebingungan melihat Ar yang berlari kencang.
Tangisan Winda terdengar kembali, perutnya sakit sekali. Biasanya ada yang menjaganya saat sakit, apalagi Papinya selalu menggenggam tangannya.
Winda heran kenapa perutnya sakit sekali, biasanya tidak pernah. Sakit bulanan melebihi sakit maag membuat wajah Winda pucat.
Winda menatap Ar membawa air hangat, ingin mengompres perut Winda.
"Sekarang kamu tidur, semoga ini bisa meredakan sakitnya. Tunggu nanti obatnya datang masih mencari terlebih dahulu. Kamu tahan sebentar." Ar meletakan kain hangat di perut Winda, memegangnya membiarkan Winda beristirahat.
__ADS_1
Tangisan sudah tidak terdengar lagi, mata Winda juga sudah terpejam. Suara dengkurannya juga terdengar pertanda Winda sudah tidur.
Senyuman Ar terlihat, menatap kecantikan istrinya. Rasanya panik sekali melihat Winda menangis, meremas perutnya.
"Syukurlah akhirnya bisa tidur." Ar mengganti air sambil mengambil obat yang Ar butuhkan.
Saat di dapur, Ais juga terbangun langsung menepuk pundak Ar. Senyuman terlihat, hijabnya sudah tidak terlihat memperlihat rambut panjangnya.
"Kak Ar kenapa belum tidur?"
Ar hanya tersenyum, langsung melangkah ke kamarnya sambil membawa air hangat. Ais langsung menahan lengan menghentikan langkah Ar.
"Kak, Ais sedang bicara."
"Tolong jaga jarak, aku tidak ingin hubunganku dengan istriku memburuk. Jika kamu datang dengan niat baik, aku juga baik tetapi jika kamu datang dengan niat buruk, jangan salahkan aku akan bertindak tegas." Ar langsung melangkah pergi meninggalkan Ais yang meneteskan air matanya.
Sebenarnya Ar tidak tega, tapi demi hubungannya dengan Winda dia harus menghindari pertengkaran.
***
Winda terbangun, melihat Ar tidur sambil duduk memegang perutnya. Winda binggung cara melepaskannya, takut menggangu tidur Ar.
"Win, kamu sudah bangun. Masih sakit tidak perutnya? minum obat dulu." Ar mengambil air dan obat.
"Sakitnya sudah hilang, tapi tubuh Winda masih lemas."
"Ada apa?"
"Kamu berdarah Win, ayo kita ke rumah sakit sekarang." Ar kebingungan tidak berani melihat darah yang ada di celana Winda juga, seprai ranjang yang merah, karena darah kotor.
Winda langsung tertawa, menarik tangan Ar agar duduk. Tatapan Ar melihat ke arah darah, menatap wajah Winda.
"Sakit."
"Ar, jangan lebay. Ini darah haid, perut Winda sakit karena darah ini."
Mata Ar langsung terpejam, berbaring di atas ranjang sambil memijit pelipisnya. Winda langsung berlari ke kamar mandi untuk berganti baju.
"Di mana pembalut Winda?"
"Tidak tahu." Tubuh Ar lemas melihat darah, dan kurang tidur.
Winda tersenyum melihat wajah lelaki penakut darah terlihat lemas dan wajahnya memucat.
__ADS_1
Winda langsung menarik seprai meminta Ar menyingkir, langsung membuangnya ke lantai. Suara Winda tertawa terdengar, gemes melihat Ar yang memejamkan matanya.
"Kenapa takut darah? bagaimana jika nanti Winda melahirkan? nanti seperti kak Ravi jatuh pingsan." Winda mencubit wajah Ar melihatnya.
Senyuman Ar juga terlihat, hatinya senang mendengar Winda mengatakan soal hamil berharap suatu hari hati Winda, benar-benar luluh kepadanya.
"Win, kepala aku sakit sekali."
"Sakit, di mana?"
"Di kepala, karena itu namanya sakit kepala." Ar tersenyum, menarik tangan Winda untuk memijit kepalanya.
Tatapan Winda tajam, memijit pelan agar rasa sakitnya hilang. Suara Winda mengomel terdengar, membuat Ar senang bisa berbicara berdua dengan santai.
Kedua tangan Ar langsung memeluk pinggang Winda, meletakan kepala di paha istrinya sambil memejamkan mata.
Winda membiarkan, menyentuh rambut yang mulai panjang, menyentuh pipi putih Ar.
Di balik pintu Aisyah memperhatikan kemesraannya, Winda menahan tawa melihat pantulan dari kaca memperlihatkan Aisyah yang sedang menguping.
"Dasar pelakor sialan, terima nasib jika pesona istri jauh lebih unggul." Batin Winda dalam hati, mencium hidung mancung suaminya, sedangkan bibir Ar menyentuh kening Winda.
Ais langsung melangkah pergi, masuk ke kamar membangunkan Mami mengatakan untuk segera bertindak menyingkirkan Winda dari hidup Ar. Di biarkan berlama-lama bukan membuat berpisah, tapi mempererat hubungan mereka.
"Ais ingin Winda disingkirkan."
"Kamu pikir mudah menyingkirkan seekor ular, jika tidak mematuk, dia bisa saja meremukkan tulang belulang. Sepuluh orang seperti kamu, belum tentu bisa mengalahkan satu Winda. Dia wanita paling licik." Mami memejamkan matanya, meminta Ais tetap diam mengikuti rencananya.
"Aku tidak kuat melihat mereka bermesraan."
"Winda tidak mencintai Yusuf, pernikahan mereka tidak akan bertahan lama."
"Tetapi Ar mencintai Winda, jika tidak bisa memiliki dia dengan cara baik maka aku akan berbuat nekat, tidak ada lelaki yang tidak tergoda dengan kecantikan wanita." Ais tersenyum licik, dia tidak akan membiarkan Winda melangkah lebih maju lagi.
"Terserah kamu, jika terjadi sesuatu maka tanggung sendiri. Ingat Winda bukan wanita lemah, Yusuf juga bukan lelaki yang mudah tergoda. Dia sangat taat agama, tubuh istrinya lebih seksi dari kamu." Mami Liza memutuskan untuk tidur kembali.
"Kenapa sekarang membela Winda? aku jauh lebih cantik dari Winda." Ais menatap tajam Mami langsung melangkah keluar untuk memikirkan cara memisahkan Winda dan Ar.
Senyuman Winda terlihat, melambaikan tangannya menatap Ais. Cepat Ais berdiri tapi langsung jatuh tersungkur, karena ada minyak dilantai. Kepalanya berdarah tekena meja kaca.
"Baru kepala yang tergores, berani maju lagi melawan tulang ikutan patah." Winda langsung kembali ke kamar membawa botol minum.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA