MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 HARUS DIGUGURKAN


__ADS_3

Steven dan anak-anak akhirnya tiba di kediaman setelah bersantai selama satu minggu di Bali.


Windy langsung duduk mengusap perutnya menatap Steven, tatapan mata Windy terlihat sangat bahagia.


"Ay."


"Iya sayang,"


"Saat kita pulang Windy berbicara dengan Saka, dia memiliki satu penyesalan yang baru dia ketahui. Dia merasa dirinya menjadi bajingan." Windy meminta Steven duduk, mengusap wajah suaminya.


"Apa yang terjadi?"


"Kak Ghin pernah hamil dan keguguran, Windy baru tahu. Kenapa dulu Windy tidak curiga sama sekali." Windy menepuk jidatnya.


"Baguslah jika Saka sudah tahu, semoga dia menjadi ayah yang lebih bertanggung jawab, mencintai wanita dengan tulus setelah tahu sakitnya kehilangan." Stev tersenyum, merangkul Windy.


"Ay sepertinya tahu?" tatapan Windy tajam.


"Iya, Ay yang membantu Ghina ke rumah sakit. Ghina meminta dirahasiakan, akhirnya Ay membawa rahasia ini sampai kecelakaan." Steven meminta Windy beristirahat, dia ingin membereskan barang-barang.


Windy langsung melangkah ke kamarnya, mandi dan langsung tidur. Sejak hamil tidur menjadi hal yang paling nyaman.


***


Waktu sangat cepat berlalu, kandungan Windy sudah memasuki bulan ke empat. Steven dan Windy sangat bahagia mendapatkan kabar jika anak mereka laki-laki.


Reva juga mengadakan acara empat bulanan, mengudang tetangga sekitar, dan menjadi kebiasaan mereka untuk selalu bersedekah untuk mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.


Kesibukan sedang terlihat di kediaman rumah utama Bramasta, karena baru selesai acara. Windy sudah tidur lebih dari satu jam sejak selesai acara doa.


Mata Windy terbuka, mengusap perutnya. Tubuh Windy rasanya sakit semua, berusaha tetap bangkit.


"Astaghfirullah Al azim sakit semua badan Windy." Tatapan mata Windy tajam melihat darah yang membasahi tempat tidurnya.

__ADS_1


"Ay ... Ay Stev." Windy berteriak, langsung berusaha untuk membuka pintu kamar.


"Mami tolong, Papi tolong Windy." Suara Windy teriak membuat Winda berlari kencang, melihat darah di sela kaki Windy.


"Darah, kak Windy berdarah. Kak Stev, Mami Papi tolong kak Windy ingin melahirkan." Winda teriak histeris membuat orang yang ramai berlarian.


"Astaghfirullah Al azim." Tian langsung berlari memeluk Windy, menggendongnya untuk ke rumah sakit.


"Siapkan mobil Rav, kita ke rumah sakit sekarang." Tian berteriak, Ravi langsung berlari mengambil mobil.


Steven berlari melihat Windy yang meremas perutnya, langsung mengambil alih mengendong Windy.


Tian langsung mengambil alih mobil, meminta Stev masuk. Semuanya diminta tenang, memberitahu Reva juga harus pelan-pelan.


Stev pergi bersama Tian, Ravi dan Erik yang panas dingin melihat keadaan Windy.


"Ay, ini tidak mungkin terulang lagi?" tatapan mata Windy sayu, perlahan tertutup.


Steven hanya diam memeluk Windy yang sedang menahan sakit perutnya, Stev tidak mengkhawatirkan apapun, baginya cukup istrinya selamat, baik-baik saja sudah lebih dari cukup.


Dugaan dokter Nana benar, kandungan Windy lemah. Bersyukurnya Windy bisa bertahan sampai empat bulan sudah sesuatu yang luar biasa, dokter bahkan tidak menjamin bisa sampai minggu ke sepuluh.


Steven terduduk di lantai menatap ke arah kamar, Stev berusaha untuk kuat. Bekali-kali dokter sudah memperingati keadaan Windy, tapi merahasiakan dari Windy, takutnya semangat Windy hilang jika tahu dari awal anaknya tidak bisa lahir.


Suara langkah kaki berlarian terdengar, Reva berdiri di depan pintu melihat putri kesayangannya yang sedang dirawat.


Air mata Reva menetes, menatap Steven yang terduduk langsung mendekatinya.


"Windy kecapean Stev?" Reva duduk di kursi hanya bisa berdoa untuk anak dan cucunya.


"Kandungan Windy memang lemah Mam, dokter pernah memperingati Stev untuk mengugurkan demi kebaikan Windy, tapi Stev tidak tahu cara mengatakannya." Air mata Steven menetes, langsung menangis menahan kesedihannya.


Bima langsung duduk di samping Stev mendengar cerita Steven soal keadaan Windy yang bisa mengancam nyawanya, kehamilan Windy berbahaya, sehingga dokter menyarankan untuk aborsi.

__ADS_1


Tangan Reva bergetar, jika diposisi Stev juga pasti sangat berat apalagi Windy sebagai calon ibu.


"Apa resikonya separah itu? tidak ada jalan lain untuk mempertahankan, atau kita gunakan saja rahim pengganti. Apapun caranya lakukan sesuatu? Windy tidak mungkin bisa bertahan lagi jika terjadi sesuatu, apalagi menerima kenyataan anaknya harus dikeluarkan." Reva langsung menangis, melangkah pergi tidak kuasa menahan sakit hatinya.


Tatapan Reva tajam langsung menemui Nana yang sedang membaca berkasnya setelah melihat keadaan Windy, dokter lain yang menangani untuk menghentikan pendarahan.


"Bisa kamu balas budi kali ini saja Na?" air mata Reva menetes.


"Aku bukan Tuhan kak Va, aku juga ingin putrimu bisa melahirkan, tapi aku hanya bisa melakukan sebisanya, sisanya Allah yang menentukan." Nana meminta Reva duduk.


"Lakukan sesuatu, apa salahnya bayi yang Windy kandung. Dia sehat, kuat Na. Putriku terlalu banyak tersakiti, kenapa masih kurang?" Reva berteriak, menangis sesenggukan tidak kuasa menahan sedihnya Windy jika tahu.


"Pendarahan berhasil dihentikan, kita tunggu sedikit lagi. Windy harus tahu keadaan dia yang dalam bahaya jika mempertahankan anaknya. Reva jika sampai melahirkan, darah Windy yang tinggi bisa menyerang otaknya, lalu perdarahan otak dan menyebabkan mati otak, harapan kita kecil. Keadaan Windy yang darahnya tinggi tidak memungkinkan hamil." Dokter Nana merangkul Reva yang terus menangis tidak ingin menerima penjelasannya.


Bima mengetuk pintu, menatap dokter Nana memintanya menyelamatkan putrinya dan anak mereka. Bima mempercayai dokter juga pihak rumah sakit bisa memberikan yang terbaik untuk Windy dan anaknya.


"Kami tahu ini egois, tapi jika diizinkan tolong bantu putri kami agar mempertahankan anaknya. Lihat Dok dia terlihat sehat sekali, kami ingin melihatnya lahir ke dunia ini. Harapan kami sangat besar ingin melihat cucu pertama." Bima menunjukkan foto USG terakhir cucunya.


Dokter Nana membalik tubuhnya, menahan air mata tidak sanggup melihat kesedihan keluarga yang pernah menolongnya.


Bima melangkah keluar bersama Reva, melangkah saling menguatkan untuk tersenyum dihadapan putri kesayangan mereka.


Dari kejauhan Bima melihat Stev berdiri di depan pintu, Reva menolak mendekati Stev tidak kuat melihat kesedihannya.


"Ay, mereka diuji lagi." Reva melangkah ke arah lain, langsung duduk melihat di depannya Viana dan Jum yang melangkah mendekat.


Viana menatap Bima, sangat yakin bukan kabar baik. Keadaan Windy pasti sangat buruk.


"Bagaimana Va?" Viana dan Jum terduduk lemas mendengar kabar Windy.


Air mata Jum juga menetes tidak kuasa menahan sedihnya harus mengugurkan anak, harapan mereka semua sangat besar bisa melihat cucu pertama yang dikabarkan seorang putra.


"Sembilan bulan tidak akan terasa, Vi berharap sekali bisa menggendong bule tampan versi kecil." Viana langsung menutup wajahnya.

__ADS_1


"Kita juga kehilangan, bagaimana Stev dan Windy yang berusaha untuk kuat." Jum menatap Stev dari kejauhan yang berusaha untuk kuat, tegar, dan ikhlas.


***


__ADS_2