
Perjalanan panjang akhirnya sampai, Ar memegang dua koper melangkah keluar bandara. Winda berjalan di samping Ar dengan santai.
Mobil mewah sudah menunggu kedatangan tuan muda mereka, membukakan pintu mempersilahkan Ar dan Winda masuk.
Senyuman Ar terlihat meminta sopir menjalankan mobil menuju villa yang biasanya Ar kunjungi setiap dia kembali.
Winda hanya diam saja melihat keindahan kota yang baru dua kali dia kunjungi, tidak butuh waktu lama villa Ar berada di tengah-tengah kota sehingga sangat mudah dijangkau.
Mobil langsung masuk gerbang, Ar keluar membukakan pintu untuk Winda agar segera mengikutinya.
"Apa di villa ini ada pembantu?"
"Mereka hanya datang membersihkan, lalu pulang." Ar membuka pintu mempersilahkan Winda masuk.
Villa yang sangat indah, memiliki dua kamar yang sangat luas bahkan bisa dijadikan lima kamar.
"Kamu mandi dulu Win, aku akan memesan makanan." Ar langsung melangkah pergi.
Sekarang Winda mengakui jika Ar memang memiliki kekayaan yang mengimbangi keluarganya, dari penjagaan yang sangat ketat, cara tatapan Ar yang berbeda.
Barang-barang yang ada di villa memiliki harga yang sangat fantastis, bahkan jam tangan Ar bernilai milyaran, tapi terlihat sekali jarang dia gunakan.
Di luar negara Paris Ar hanya pemuda biasa, tapi sebenarnya dia salah satu Milioner muda yang sangat disegani banyak orang.
Seorang pengusaha yang menjadi incaran banyak konglomerat untuk dijadikan menantu, Winda tidak perlu menyelidiki dia sudah tahu hanya satu kali melihat mata orang.
Winda langsung mandi, Ar sudah kembali ke dalam kamarnya melihat bayangan tubuh Winda yang sedang diguyur air shower.
Ar mengambil ponselnya yang menerima pesan masuk, tapi tidak bisa membukanya. Handphone Winda juga berbunyi, Ar mengotak-atik handphone, karena ingin tahu isi pesan.
Wajah Ar langsung terkejut saat membaca pesan dari uminya jika dia sudah ada di Paris, ingin bertemu Ar.
Winda yang hanya menggunakan handuk menatap handphone Ar yang tertulis pesan, jika uminya Ar akan segera mengunjungi villa.
"Apa dia umi kamu?" Winda menatap tajam.
"Aku baru tahu jika umi ada di sini." Ar langsung membalas akan menyambut kedatangan uminya.
Winda mengerutkan keningnya, tidak pernah disangka jika pertemuan mereka akan secepat ini. Bukan Winda yang menghampiri, tapi uminya yang mengunjungi.
__ADS_1
Ar langsung melangkah megambil baju mandi, menutupi tubuh Winda yang memperlihat sebagian tubuhnya?.
"Kamu tunggu makanan datang, kita makan malam bersama lalu istirahat." Senyuman Ar terlihat langsung bergegas untuk mandi.
Winda juga cepat menggunakan bajunya, langsung melangkah ke luar kamar untuk menunggu makanan datang.
Mencari makanan halal cukup sulit, sehingga harus ahlinya yang memesankan. Winda duduk menunggu sambil bersantai memainkan handphonenya.
Bunyi bel terdengar, Winda langsung berlari membuka pintu. Menatap seorang wanita seksi ada di hadapannya.
Wanita di hadapan Winda cukup terkejut, dia sangat mengenal baik wajah Winda yang cantik sejak kecil.
"Kamu, kenapa bisa bersama Yusuf?"
Winda menahan tawa, menatap wanita berhijab yang datang bersama uminya Yusuf. Winda sudah bisa menebak jika mereka akan dijodohkan.
"Silahkan masuk Tante, tidak pernah Winda sangka kita akan bertemu setelah hampir sepuluh tahun." Suara tertawa Winda terlihat, langsung membuka pintu besar mempersilahkan.
Umi Ar sangat tidak percaya jika Winda dan Ar memiliki hubungan, wanita cantik di belakang Umi juga binggung melihat Ar bersama seorang wanita.
Penjaga rumah datang, menyerahkan makanan yang Ar pesan. Winda langsung menyambut mengucapkan terima kasih.
"Abi, ayo makan. Ini makanan sudah sampai." Winda langsung melangkah ke meja makan, menyiapkan makan malam.
"Yusuf, turun sayang." Umi memanggil dengan suara kuat.
"Ummi sudah datang." Ar langsung mencium tangan uminya.
"Panggil Mami, kenapa sulit sekali kamu menurut?"
"Maaf ummi."
"Sekali lagi panggil ummi, kita tidak akan bertemu lagi." Ancaman yang membuat Ar menundukkan kepalanya.
"Iya Mami, maafkan Ar."
"Siapa wanita itu? kenapa dia bisa bersama kamu?" Tatapan tajam wanita seksi membuat kepala Ar tertunduk.
Winda melihat perasaan tidak nyaman dari mata Ar yang melihat penampilan ibunya, Winda langsung berdiri di depan Ar menutupi.
__ADS_1
"Mami datang ingin meminta kamu menikahi Aisyah, dia wanita yang menyelamatkan Mami. Ingat Yusuf Mami tidak meminta apapun kepada kamu, baru kali ini kamu harus menjaga Aisyah karena kedua orangtuanya sudah meninggal." Mami duduk di sofa, meminta Aisyah memperkenalkan diri kepada calon suaminya.
Ar sangat terkejut mendengarnya, dia baru saja menikah sudah diminta menikah lagi sungguh gila. Ar meminta Maminya mengulang, dia tidak percaya dengan pendengarannya.
"Nikahi Aisyah."
"Maaf ummi, Ar sudah beristri. Dengan hormat Ar menolak permintaan ummi."
Tatapan mami Ar tajam, melihat Winda yang tersenyum manis seakan-akan sedang mengejeknya.
Sungguh tidak bisa dipercaya, wanita yang menyebabkan suaminya meninggal, menghancurkan reputasinya, juga merusak masa depan Ar sudah menjadi istri.
"Keluarga Bramasta sialan, kamu wanita ular yang mendekati putra saya. Yusuf kamu ingat dia yang membunuh Abi kamu." Tangan Winda di cengkram kuat, Ar langsung menahan tangan Maminya untuk tidak menyakiti Winda.
"Nikahi Aisyah tanpa pesta, jika kamu masih menganggap aku ibu kamu."
"Mami, kenapa tega sekali kepada Winda? kita baru saja menikah, bahkan sedang proses memberikan Mami cucu. Jangan pisahkan kami Mami." Air mata Winda menetes, langsung masuk ke dalam pelukan Ar, di dalam hati Winda menahan tawanya jika tidak akan ada yang bisa mengalahkannya.
"Winda jangan menangis, aku tidak akan pernah menikah lagi. Kamu wanita satu-satunya." Ar mengusap punggung Winda, memeluknya lembut agar lebih tenang.
"Abi, Winda tidak ingin di madu. Lebih baik Winda pulang saja, mengatakan kepada Papi." Tangan Winda menutup matanya, suara tangisannya membuat Ar merasa bersalah.
"Jangan bicara seperti itu Win, aku tidak ingin berpisah dari kamu. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." Tatapan Ar sangat lembut, mengusap air mata buaya Winda.
Suara tepuk tangan terdengar, Winda memang hebat dalam bersandiwara. Dulu dan sekarang masih sama, Winda wanita licik. Dia ular yang menyerupai manusia.
Tidak pernah Mami sangka, Winda sudah ada di depannya. Dulu mereka berdua sudah berjanji akan saling menjatuhkan, Winda ternyata sudah unggul dengan menguasai Ar.
"Sebaiknya kita makan malam dulu, baru bicara lagi."
"Kamu tidak harus menikahi Aisyah, tapi izinkan dia tinggal bersama kamu. Aisyah masih kuliah Ar, kamu biayai hidup dia." Senyuman licik juga terlihat, Mami tidak akan menyerah untuk menghacurkan hidup Winda.
Ar menyetujuinya untuk menanggung semua biaya Aisyah, dia juga diizinkan tinggal bersama Ar dan Winda.
Tatapan Winda langsung tajam, Ar memang bodoh membiarkan orang ketiga tinggal bersama mereka.
"Jangan merasa menang dulu, kita lihat saja siapa yang akan tersingkirkan." Winda membisiki Aisyah yang hanya menundukkan kepalanya.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA