MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Bisma sedang sibuk mengurus surat-menyurat untuk pernikahan, belum lagi drama perdebatan dengan Jum yang tidak ada ujungnya. Bisma hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Jum yang terbilang aneh, Tian yang ikut bersama keduanya juga merasakan kebinggungan.


"Pusing tidak Tian!"


"Pusing ayah, Tian tidak mengerti yang sedang dibicarakan Bunda."


"Nanti saat kamu besar, jangan jatuh cinta dengan wanita polos. Kita bisa gila jika ada dua wanita polos."


"Menikah itu apa Ayah!"


"Seperti ayah dan bunda, menyatukan dua kepala dengan banyaknya perbedaan."


"Tian tidak ingin menyatukan kepala ayah,"


"Haduy! anak sama bunda tidak ada bedanya. Kalau aku nanti memiliki putri pasti lebih heboh lagi." Bisma menghela nafas.


Selesai dengan perdebatan Bisma dan Jum lanjut untuk makan siang, orangtua Jum juga datang dan merasa kagum dengan restoran mewah yang dipesan Bisma, karena ingin mengukur ukuran baju atas permintaan Reva jadi keluarga Jum juga datang sekalian untuk melihat keindahan kota.


"Ibu bapak mau pesan makan apa?" Bisma memberikan menu makanan.


"Apa saja nak, ibu sama bapak tidak mengerti." Bapak mengembalikan menu ke Bima yang langsung tersenyum.


Bisma menyebutkan pesanannya, yang sebenarnya sudah dia pesan tapi basa-basi kepada mertuanya jika ada yang ingin dicoba menu yang lain.


"Jum di mana Bisma?"


"Toilet pak bersama Tian."


"Putra kamu ya nak, mana ibu ingin sekali melihatnya."


Tian dan Jum datang mendekat dan langsung bersalaman dengan kedua orangtuanya, Tian menyadari jika mereka nenek dan kakeknya tapi Tian ragu untuk mendekat karena takut tidak diterima di dalam keluarga Bunda nya.


"Ya Allah tampan pak, cucu kita."


"Tian salam kepada nenek kakek." Bisma menatap putranya dan menyakinkan nya.


Tian mendekat dan mendapatkan pelukan dari ibu Jum, berkali-kali dia juga dicium. Senyum terukir dari bibir Tian, neneknya baik seperti Bundanya.


"Kamu ikut nenek ya nak, nanti Bunda dan ayah kamu menyusul." Ibu Jum memohon kepada Jum dan Bisma, untuk membawa Tian lebih dulu.


"Jangan Bu, di sana Tian tidak punya teman. Nanti perginya bareng Jum saja."


"Di sana juga banyak teman Jum, pasti Tian akan senang sekali melihat Desa. Bapak ingin mengenalkan kepada warga, jika cucu bapak Tampan sekali. Mau ya Le?"


"Nama aku Tian kakek bukan lele!"


Bisma yang sedang minum, hampir menyemburkan air minumnya. Jum membantu Bisma yang tersedak, bapak dan ibu sudah tertawa sambil memeluk Tian.


"Bapak ini anak kota mana tahu artinya, cucu ibu tampan gini Lo masa iya dipanggil lele."


"Tian tadi bahasa kampung sayang, Thole untuk anak laki-laki." Bisma coba membuat putranya mengerti.

__ADS_1


"nama aku Bastian ayah, tidak mau diganti Thole!" Tian langsung menunduk, namanya kebanggaan bagi Tian karena pemberian ayahnya yang mengikuti nama depan ayahnya.


"tidak ada yang mengganti Tian," semuanya tertawa melihat Tian.


Akhirnya Jum memberikan izin Tian ikut orangtuanya, itu juga sudah dalam keadaan ngambek.


Setelah mengukur baju, juga melihat perhiasan Jum belum melihat Reva ternyata Reva tidak bisa datang karena ada meeting dadakan jadinya digantikan oleh asistennya.


Setelah semuanya selesai, orangtua Jum pulang bersama Tian. Jum memukuli Bisma yang memberikan izin, Jum takut Tian tidak nyaman, tapi Bisma sengaja agar putranya mulai terlatih untuk beradaptasi dengan banyak orang.


***


Selesai meeting Reva masih duduk sambil meletakan kepalanya di sandaran kursi, Bima menatapnya kagum karena Reva mendengarkan ucapannya untuk mulai belajar mengontrol diri dan bicara sopan. Ivan sama Rama juga menatap aneh kepada Reva yang hari ini jauh lebih tenang.


"Va! Viana minta liburan ke pantai, menurut kamu gimana?"


"Hayukk! tapi pastikan dulu ke dokter aman tidak. Ibu hamil sensitif, daripada anak kamu ngiler pantai."


"Kenapa kamu tidak bersemangat? biasanya kamu paling suka liburan, Om Duren juga ikut."


"Karena otak aku tidak ada di sini, aku sedang fokus desain baju pengganti Jum. Jadi diam menjadi inspirasinya."


"Aku temenin kamu makan Va, terus kita cek Desain sama-sama."


"Hayukk!" Reva langsung bangkit menggandeng Bima keluar.


Ivan sama Rama hanya terdiam, mereka berdua tidak ditawar makan, tadi lemas sekali Bima bicara langsung semangat 45.


***


Bisma sedang bersantai seorang diri sambil memainkan ponselnya, Bima datang mendekatinya tapi masih Bisma abaikan.


Bisma sengaja selalu membuat Bima menunggu, rasa kesal Bisma yang pernah di tinggalkan Bima demi mendampingi Rama sebagai amanah dari ayah mereka.


Hati Bisma sudah memaafkan kakak nya, dia pernah merasakan yang namanya tanggung jawab saat mendampingi viana. Tapi masih terasa canggung karena mereka berdua kembar identik tapi sifat berbeda jauh.


"Berapa persen persiapan pernikahan?"


"50% acaranya juga tidak bisa besar karena diadakan di desa."


"Rayakan juga di kota, jadi dua kali pesta!"


"Repot kak! persiapkan saja pernikahan kalian, jangan terlalu banyak menundanya. Reva banyak penggemarnya, tapi sayang bodohnya mencintai seorang duda."


"Bicara kamu sering benar Bisma, tapi setidaknya aku pernah merasakan menikah."


"Hahahaha..., Lo terlalu polos soal hubungan, nyentuh Reva juga gak berani, paling Reva yang nyosorr duluan. Kemungkinan juga Brit dulu jarang dapat servis." Bisma berlari sambil tertawa meninggalkan Bima yang wajahnya sudah keras menahan kesal.


Bisma sampai di tempat kumpul, dia duduk sambil menahan tawa. Mengejek kakaknya memang paling menyenangkan.


"Kenapa lari-lari?"

__ADS_1


"Calon suami Lo lagi marah Reva, dia membahas pernikahannya dengan Brit, dan masalah ranjang mereka."


"Bohong!" teriak Bima di belakangnya Bisma yang langsung menutup mulutnya.


Tatapan mata Reva sudah tajam siap membunuh Bima, Bisma yang melihatnya menahan tawa yang membuat Jum geleng-geleng.


Sepulang dari pantai, laju motor Bima pelan menikmati jalanan yang sejuk juga matahari senja. Reva memeluk Bima dari belakang, meletakan kepalanya di bahu Bima sambil menutup matanya.


"Va! kamu mau kita menikah di mana?"


"Hotel tempat kita biasa pacaran, lanjut malam pertama di sana."


"Aku tidak bertanya soal malam pertama, hilangkan dulu pikiran kotor kamu." Bima tersenyum dan menggenggam erat tangan Reva.


"pokoknya maunya di hotel,"


"Setelah sidang terakhir, aku akan mendaftar pernikahan kita secepatnya."


Reva mengeratkan pelukannya, bahagia yang Reva rasakan. Penantian cinta yang panjang, perjuangan yang melelahkan. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin mereka bertemu tapi sekarang sudah siap menuju pelaminan.


"Aku mencintai kamu Reva Pratiwi, jangan salahkan aku yang tidak akan pernah melepaskan kamu karena membuat seorang Bima jatuh cinta." Batin Bima dalam hati sambil tersenyum, bukan hanya Reva yang menanti hari pernikahan tapi Bima juga sangat menantikan hari di mana mereka dipersatukan.


***


Liburan selesai, semuanya sibuk aktivitas masing-masing. Terutama Jum dan Bisma yang sedang repot menyiapkan pernikahan mereka.


Jum juga sudah meninggal kediaman Prasetya, meninggalkan tangisan karena akan kembali ke desa.


Viana dengan berat hati melepaskan kepergian Jum untuk memulai kehidupan yang baru, Viana meneteskan air matanya saat mobil Bisma membawa Jum pergi dari rumahnya. Tidak ada lagi teman berantem Vi, teman berdebat, teman berbagi cerita, teman ngibah. Viana melepaskan adik perempuan.


"Viana tidak suka perpisahan! hati Viana sakit." Viana menangis meluapkan kesedihan kehilangan Jum yang tidak akan pernah balik lagi ke kediaman Prasetya."


"Sayang! kita masih bisa bertemu mereka, Jum dan Bisma akan balik ke kota, hanya saja status Jum berubah menjadi seorang istri waktu kalian ngibah juga berkurang. Tapi tidak akan mengurangi kebersamaan kalian." Rama menenangkan Viana yang semakin hari semakin cengeng.


Jum dan Bisma juga berkunjung ke rumah Bima, di sana sudah ada Bima dan Windy juga Reva yang memeluk Jum, tangisan Reva dan Jum pecah. Windy juga ikut menangis tidak mengerti, Bisma cepat menggendong Windy dan memeluknya penuh kasih sayang.


"Kak Jum harus bahagia, Reva sayang kak Jum."


"Jum hanya menikah, kita akan bertemu lagi." Jum juga menangis melepaskan Viana juga Reva untuk memulai kehidupan baru.


Bima mendekati Bisma dan memberikan kado pernikahan, cincin berlian yang sangat indah. Dengan senang hati Bima menerimanya.


"Hati-hati di jalan, salam untuk mertua kamu."


"Iya, jadi kapan menyusul?"


"Selesai persidangan! Reva kemungkinan pergi duluan karena harus mengurus baju pengantin."


"oke jangan pernah lepaskan Windy, jika kamu gagal aku yang akan menghancurkan mereka."


Selesai bicara Bisma dan Jum pamitan, memeluk Reva yang tersenyum melihat kebahagiaan Jum.

__ADS_1


***


__ADS_2