
Kasus soal gaun Reva yang rusak sudah ditemukan pelakunya, Reva sebenarnya sudah tahu tapi memilih pura-pura tidak tahu. Bima yang mengurus semuanya, ancaman penjara belum cukup untuk menghukum perbuatan Lisa yang membuat kekacauan di hari bahagia Bima Reva.
"Sayang, pelaku yang merusak gaun, akan aku kirim ke kantor polisi. Tapi masalahnya dia tulang punggung dari seorang nenek dan bocah usia 5tahun. Jika dia masuk penjara nasib nenek dan bocah ini."
"Masukkan saja Ayy, Lisa tidak merasa menyesal." Reva sudah menyelidiki soal Lisa yang hidup dengan neneknya juga anak dari kakaknya yang sudah meninggal, Reva sedang menunggu Lisa datang padanya meminta maaf.
"Yakin, atau kamu punya rencana sendiri."
"Dia sengaja ingin masuk penjara agar kita kasihan terhadap nenek juga keponakannya, memberikan kehidupan yang layak karena rasa bersalah."
"Va, kamu marah, dendam padanya?" Bima menggenggam tangan Reva, terlihat wajahnya sedang kesal.
"Aku marah Ayy, karena dia tidak percaya pada dirinya sendiri, padahal dia punya bakat tapi dipikirannya hanya melakukan segala cara agar mendapatkan uang dengan cepat."
"Kamu wanita baik Reva, aku yakin kamu bisa melakukan tindakan terbaik untuk mengurus Lisa."
"Iya Ayy, aku akan menghukum dia agar merasakan penyesalan. Tapi satu hal yang aku suka, dia tidak takut padaku."
"Aku lelaki beruntung bisa menikahi kamu,"
"Sekarang saja, dulu jangankan bilang suka, melirik saja tidak mau."
"Sudah melirik, bahkan memandangi tapi apalah dayaku yang seorang duda memimpikan seorang wanita muda."
"Duda tapi tidak tahu cara bercinta." Reva tertawa, mencubit hidung Bima gemas.
"Tapi sekarang bisa membuat kamu teriak." Bima tertawa, menari hidung Reva kuat dengan gemas.
Selama hampir satu bulan menikah, Bima tidak pernah berhenti tertawa. Dia yang sangat dingin berubah menjadi lelaki ramah dan mudah tersenyum.
***
Reva datang ke kantor polisi bersama Steven, sebelumnya dia sudah izin dengan Bima untuk membawa pengacara, jadinya Bima merekomendasikan Steven.
"Ven umur kamu berapa?"
"Masuk 22tahun,"
"Masih muda bisa menjadi seorang pengacara."
"Kamu juga masih muda tapi sudah bisa menjadi seorang Desainer."
"Maaf karena pernah berpikir jika kamu orang jahat, yang akan menghancurkan hubungan aku dan Bima."
__ADS_1
"Aku punya banyak hutang dengan Kak Bima, dia seperti kakak. Dia juga yang menarik aku untuk bangkit karena terpuruk kehilangan keluarga."
Mereka sampai di penjara, Reva dengan senyum manis masuk dan siap menemui Lisa yang sudah mendekam di penjara.
"Berapa tahun kita minta dia ditahan?"
"Lima belas tahun, dia bukan hanya merusak gaun, tapi juga sudah merencanakan kejahatan berencana dengan memasukkan racun di makanan."
"Bukannya hanya sampai di situ Lisa, kamu harus mengganti rugi harga gaun yang mencapai satu milyaran, dan biaya akan dijatuhkan kepada nenek kamu."
"Gila kamu Reva, harga gaun hanya pengeluaran seujung kuku kamu, tapi teganya kamu membuat seorang nenek tua yang bahkan tidak pernah melihat uang lima juta."
"Kamu yang gila, aku membuat baju selama delapan bulan, tapi dengan mudahnya kamu merusaknya. Bukan hanya merusak gaun tapi mencoret karyaku."
Reva tertawa sinis, Lisa sudah meneteskan air matanya. Dia sangat menyesal berurusan dengan Reva wanita jahat, juga tidak punya belas kasihan. Lisa berpikir dengan dirinya masuk penjara, Reva akan menyelamatkan nenek juga keponakannya tapi Lisa salah, Reva menyimpan dendam juga kebencian.
"Maaf, aku memang tidak menyukai kamu, tapi tidak ada niat untuk membunuh atau membuat karir kamu hancur. Aku hanya ingin kehidupan nenek menjadi layak, jika kamu berbelas kasihan sedikit saja."
"Kenapa aku, seharusnya kamu yang melakukannya."
"Segala cara sudah aku lakukan Reva, tapi untuk biaya pengobatan nenek juga hidup kami butuh banyak uang, belum lagi nenek harus operasi, aku kehabisan cara kecuali melakukan ini."
"Kenapa tidak jual diri, kamu bisa mendapatkan jutaan dalam satu malam."
"Aku tidak mungkin mengobati nenek, memberi makan keponakan dan nenek dengan uang haram. Setiap hari aku diingatkan untuk mencari uang dengan halal."
"Sudahlah, selamat menikmati membusuk di penjara, mungkin saat kamu keluar dari sini semuanya sudah terlambat. Aku sangat senang melihat orang lemah seperti kamu hancur karena kebodohan sendiri."
"Selamat nenek Va, dia membutuhkan pertolongan. Aku mohon, kasihanilah aku."
"Tidak Sudi!" Reva memberikan jari tengah, langsung berdiri untuk pergi. Steven takut melihat cara Reva, juga ucapannya yang tidak mempunyai belas kasihan.
"Bebaskan aku! kamu bisa memegang janjiku untuk setia, membuktikan pada nenek bisa menjadi kebanggan nya. Aku mohon Reva."
"Kamu pikir aku bodoh, orang seperti dirimu hanya tahu soal uang, jadi akan melakukan segala cara demi mendapatkan uang, salah satunya dengan berkhianat."
"Aku berjanji dengan menyebut nama Allah, nenek juga keponakanku untuk setia. Tapi tidak dengan melakukan keburukan."
"Bagaimana jika aku meminta kamu bunuh diri."
"Aku menolak, dengan jaminan apapun."
"Jual diri."
__ADS_1
"Lebih baik aku mati!"
"Membunuh!"
"Tidak akan pernah, aku akan membuktikan keahlian dalam desain, juga bekerja dengan sungguh-sungguh untuk membanggakan kamu."
"Banyak orang hebat yang bisa aku pekerjakan, kamu kalah dalam banyak hal salah satunya kecerdasan, pendidikan kamu juga sangat rendah. Sungguh memalukan."
"Aku bukan seorang Dokter, jadi tidak membutuhkan kecerdasan ekstra, cukup keterampilan juga keahlian."
Reva hanya tersenyum sinis, langsung melangkah pergi tidak menjawab lagi ucapan Lisa.
"Reva, aku mohon kamu pertimbangkan."
Walaupun Reva sudah keluar, dia masih bisa mendengarkan teriakan Lisa. Steven dengan heran melihat Reva yang seakan-akan sangat kesal.
"Kenapa dia sangat pintar menjawab, di posisi dia yang hanya aku yang bisa membebaskannya tapi tidak ada sedikitpun wajah takut. Dasar perempuan sialaaaannn."
"Kamu marah karena kalah berdebat, lagian aku setuju dengan Lisa. Semua ucapnya benar."
Kekesalan Reva semakin menjadi karena Steven mendukung Lisa, dia langsung masuk mobil meninggalkan Steven yang masih teriak.
Lama Reva berpikir di dalam mobil yang berjalan santai, Reva akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor Bima. Sebenarnya Reva belum pernah masuk ke kantor Bima, karena selama ini yang memimpin orang lain kepercayaan Bima, bisnis juga berjalan di bidang yang berbeda dengan Reva.
Sesampainya di kantor, Reva kagum melihat besarnya kantor suaminya. Tiga kali lipat dari VCLO, bahkan keindahan juga kenyamanan melebihi kantor LOVER.
"Permisi mbak, kantor pak Bima Bramasta lantai berapa?" setelah mendapatkan tujuannya Reva langsung melangkah naik ke lantai atas.
Banyak orang yang menunduk melihat Reva, pimpinan VCLO, juga istri bos datang ke kantor. Banyak yang mengagumi kecantikan Reva, dari make up juga bajunya.
Tanpa mengetuk, Reva langsung masuk. Di dalam ruangan Bima sedang ada beberapa karyawannya yang sedang diskusi, melihat Reva datang Bima meminta semuanya keluar.
"Ayy, Reva kesal dengan Lisa." Reva langsung manyun dan masuk ke dalam pelukan Bima, tanpa memperdulikan karyawan yang masih mengambil berkas.
"Steven sudah mengabari kamu kalah berdebat,"
"Iya, dia tidak punya rasa takut. Nyebelin banget."
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Bima mengandeng Reva untuk duduk, tapi langsung duduk dipangkuan.
"Reva akan menjadikan dia pemimpin VCLO."
Tatapan Bima binggung, Viana sama Reva sama saja. Musuh mereka jadikan teman, sedangkan teman menjadi saudara. Apapun keputusan Reva akan Bima dukung, karena dia tidak akan membiarkan istri cantik sibuk bekerja, apalagi dengan sifat Reva yang keras.
__ADS_1
***