
Raja kingdom Cana sudah berganti menjadi Raja Athala, Windy melangkahkan kakinya melihat seluruh kota mengabarkan soal kabar bahagia pangeran tampan naik tahta.
Windy berjalan kaki bersama Stev, saling menggenggam tangan menuju kastil Cana yang tidak jauh dari kerajaan.
Di depan mereka terlihat para orang tua, mengandeng tangan anak-anak yang tersenyum bahagia.
Stev tersenyum melihat Windy yang sangat bahagia, masalah keluarga akhirnya selesai sekarang sudah waktunya mereka menghadapi masalah masa depan.
"Om, terima kasih. Windy sayang Om, sangat sangat sangat sayang."
"Windy, jangan mencintai manusia melebihi kecintaan kepada Allah, karena hati manusia bisa berubah."
Windy tertawa, Steven sudah mirip Papinya mungkin efek dari hafalan juz yang sedang Stev pelajari.
"Kak Stev gendong." Winda lompat-lompat di depan Steven.
"Sama Papi saja Win, Om Stev sedang sakit punggungnya." Bima ingin menggendong, tapi Stev sudah lebih dulu mengangkat tubuh mungil Winda.
Perjalanan hampir sampai, gerbang kastil terbuka, Windy tersenyum melihat kemewahan kastil milik Bundanya.
Anak-anak berlari, melihat luasnya membuat mata tidak berhenti terpesona.
Windy berjalan berkeliling bersama Steven dan Winda, melihat banyaknya lukisan yang di pajang di dinding, banyak juga gaun pengantin yang diabadikan.
Banyak gaun yang masih terawat berada di sana, semua gaun dan lukisan milik Ratu Sinta yang masih dijaga kelestariannya.
"Lukisan Ratu Sinta menunjukkan kesedihan." Winda memeluk leher Stev.
Windy terhenti ucapan Winda ada benarnya, pemandangan yang menunjukkan langit yang gelap, pohon yang musim gugur.
Stev tersenyum melihat Winda yang pintar membaca karakter, Winda melihat lukisan memang sangat indah.
Tangan Winda menyentuh sebuah lukisan seorang Putri tersenyum bahagia menatap pangerannya, Winda menyentuh dada Stev, langsung menyentuh dadanya.
"Dia tersenyum terpaksa."
"Iya om, lihatlah ukiran bibirnya. Dia tidak menyukai hari yang cerah, tersakiti melihat dengan memaksa tersenyum, putri ini tidak menyukai pangeran." Winda tertunduk sedih.
"Cita-cita Winda ingin menjadi apa?"
__ADS_1
"Orang sukses, punya banyak uang, bisa menolong banyak orang."
Steven tertawa kecil, gadis kecil yang lucu. Memiliki pikiran membantu banyak orang dengan kekayaan.
"Winda, kamu tahu tidak menolong orang tidak harus menjadi orang kaya, banyak cara membantu orang lain." Steven mendudukkan Winda di sebuah kursi, sedangkan Windy masih sibuk berkeliling.
Steven menjelaskan kebaikan tidak semuanya diukur dengan uang, siapapun, dari kalangan manapun, menolong tidak harus melihat banyak tidaknya harta yang kita miliki.
Seorang dokter menolong dengan menyelamatkan pasien, menyembuhkannya. Polisi menolong dengan menangkap penjahat, Pengacara menolong dengan cara memberikan pembelaan yang benar, ada juga guru yang memberikan bekal ilmu, ada pemadam kebakaran yang menyelamatkan dari kobaran api, banyak sekali pertolongan tanpa harta.
"Win hidup kita imbang, orang kaya belum tentu hidup bahagia, kebahagiaan datang saat kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain, Winda harus memiliki mimpi."
"Winda ingin menjadi pengacara cantik, membela kebenaran, menolong orang yang membutuhkan keadilan, Winda akan menuntut semua orang jahat." Winda tersenyum membayangkan dirinya menggunakan jas, duduk di meja persidangan.
"Mimpi yang indah, semoga kita bertemu di meja persidangan sebagai pembela kebenaran." Stev bersalaman dengan Winda yang tersenyum manis.
"Om, kenapa orang yang menabrak di penjara, dia tidak sengaja Om, bukannya dia membutuhkan pembelaan."
Steven tersenyum melihat Winda yang penasaran memperlihatkan sebuah berita terbaru, Stev mengatakan setiap orang yang merenggut nyawa orang lain berhak mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Sengaja atau tidak jika sudah berurusan dengan nyawa tetap bersalah, jalanan milik umum, banyak pengendara sepeda motor, mobil bahkan pejalan kaki.
"Dia mengantuk Om?"
"Bagaimana jika dia buru-buru Om?" Vira duduk di samping Winda.
"Tidak ada alasan Vira, jangan gunakan terburu-buru sebuah alasan, karena yang kamu kejar sudah terjadi, sedangkan membahayakan orang lain belum terjadi, jadi ambil tengah berjalan, fokus, berdoa pasti ada jalannya. Paling penting utamakan dulu keselamatan."
"Om Stev ada benar juga."
"Dia ini mabuk Om, jadi dia salah." Winda menunjukkan ponselnya.
"Ini kesalahan tidak termaafkan, membunuh orang lain tanpa sadar."
"Kasihan sekali ya Vira keluarganya korban?"
"Iya, Vira marah kepada orang seperti ini."
"Om, lalu bagaimana jika dia masih di bawah umur, seperti kita." Billa dan Bella duduk mendekat.
__ADS_1
"Orang tuanya yang dihukum, anaknya juga mendapatkan peringatkan keras. Anak di bawah umur di larang menggunakan kendaraan."
Winda tersenyum memeluk Steven, Steven tertawa saat mendengarkan cita-cita Vira yang ingin mengejar cinta Wildan, sedangkan Bella ingin menjadi *******, hanya Billa yang benar ingin menjadi seorang dokter.
"Vira sama Bella otaknya harus di cuci menggunakan sabun cuci baju, kalian konyol sekali." Steven tertawa bersama keempat bocah yang merasakan candaan mereka lucu.
Rama tertawa melihat Bima menatap Steven yang jauh lebih dewasa, sangat berbeda jauh seperti dulu yang ugal-ugalan. Bima sampai kewalahan antara menjaga Steven dan membimbing Rama.
"Kak Bim, Stev sudah banyak berubah. Dia membuktikan ucapannya akan ada waktunya dia berhenti, menuju jalan kebenaran."
"Kamu ada benarnya juga Rama, dulu Stev bahkan meninggalkan kasusnya saat mengetahui kliennya menyuap jaksa, sejak itu dia memilih klien, berbuat sesuka hatinya." Bisma merangkul Bima yang masih tersenyum melihat putrinya tertawa bersama Stev.
"Kak Bim tidak ada salahnya merestui mereka." Rama menatap Bima dan Bisma.
"Ram, kamu tahu aku sangat menyayangi Steven sama seperti kamu dan Bisma, hanya kamu yang bisa diatur, Bisma yang suka kabur, sedangkan Steven tidak banyak bicara, tapi tindakannya selalu membuat masalah, tidak sedikitpun aku melepaskan dia. Antara putri dan adik asuh, mereka dua anak yang aku sayangi."
"Ya bagus kak, berarti tidak akan kehilangan salah satu, mereka berdua akan selalu di dekat kita. Jika kak Bim takut dengan Windy yang masih kecil, kenapa menikahi Reva yang kekanakan?"
"Reva sudah dewasa Bisma."
"Windy juga dewasa, jika dia tidak dewasa kita tidak melihat senyuman dia saat menghadapi keluarganya, sama seperti aku kak yang harus dewasa sebelum cukup umur." Rama tersenyum melihat Windy yang melangkah mendekati Steven.
"Iya kalian berdua menang." Bima tersenyum melihat Winda dan Windy rebutan.
"Steven!" suara Reva terdengar, menatap tajam memegang handphone.
Winda langsung turun dari kursi berlari mengikuti Vira, Bella dan Billa. Windy tersenyum memeluk Maminya yang sangat menggemaskan.
"Reva cempreng." Steven tersenyum menyerahkan ponselnya kepada Reva.
"Siapa yang cempreng, ini suara ciri khas memanggil anak-anak." Reva menukar ponselnya dengan Steven.
"Sayang, nanti kamu jangan teriak-teriak seperti Mami Reva, bisa jantungan." Steven mencium tangan Windy.
"Belum tahu saja kamu suaranya Windy, setelah menikah baru menyesal." Reva memukul pelan kepala Stev dengan ponsel barunya.
***
...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...
__ADS_1
...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...
***