
Acara makan selesai, Steven membawa seluruh keluarga ke Mansion. Mobil beriringan memasuki Mansion, Winda langsung melongo melihat banyak mobil mewah, rumah yang sangat luas.
Reva juga mengagumi rumah Steven, Vero mendekati Stev untuk meminta izin pergi, tapi tidak diizinkan jika belum mandi.
Steven tahu Vero pasti pergi ke area balap, membiarkan Vero menemukan hobinya. Vero berlari kencang masuk ke dalam rumah, Winda sudah melotot karena langkah kakinya kalah dengan langkah Vero.
Wow, wahh, woww. Winda suka sekali." Winda langsung berlari kesenangan, melihat ikan di dalam aquarium sangat banyak, warnanya yang cantik membuatnya sangat bersemangat.
Tangan Winda langsung mengaduk aquarium besar, berusaha untuk menangkapnya. Wildan yang melihat adiknya sudah basah mengaduk Ikan yang tidak bersalah.
Winda turun dari meja, berlari mencari alat bantu langsung naik lagi mengacak-acak aquarium, membawa kemoceng, bahkan vas bunga dia gunakan untuk mengeringkan air.
"Winda!" teriakan Reva kaget melihat putrinya berada dalam akuarium, Wildan mematikan colokan listrik agar adiknya aman berada di dalam akuarium.
Bima yang sedang berbicara bersama Steven soal mobil langsung berlari ke dalam, kening Steven berkerut, antara sedih dan kesal melihat ikannya ditangkap oleh Winda yang duduk di dalam aquarium mewah yang berukuran sangat besar.
"Om, maafkan adik Windy."
Steven melangkah melihat ikannya dikeluarkan dari dalam aquarium, Wildan mengambil ikan memasukan ke dalam bak kecil agar bisa bernafas.
"Winda apa yang kamu lakukan?" Steven menatap Winda.
"Lagi menangkap ikan Om."
"Win, kasihan ikannya mati semua. Keluar sekarang, Om Stev bisa marah." Steven bernada serius.
Winda langsung menatap Steven tajam, berdiri keluar dari dalam akuarium. Bima menahan tawa melihat putrinya cemberut, Reva dan Windy sudah tertawa.
"Papi, Om ini pacaran dengan kak Windy, bahkan pernah mencium kak Windy, satu kamar dengan kak Windy." Winda teriak kuat, menunjuk ke arah Steven.
Steven melihat Winda panas dingin, wajah Steven juga berubah pucat. Reva langsung terduduk melihat Winda yang diam, tapi jika sudah berbicara sangat serius.
Bima tertawa langsung menggendong Winda, memeluk putrinya yang sangat manja, Bima meminta Winda minta maaf kepada Steven, berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya.
__ADS_1
"Winda tidak bohong Papi, Winda punya buktinya." Winda menatap Steven tajam.
Senyum Steven terlihat, dia ternyata salah menilai Winda, anaknya pendendam kepada orang, dia tidak suka apa yang dia lakukan ditentang. Winda bisa menyimpan rahasia, tapi jika sedikit saja terusik dia bisa secara spontan menyerang.
"Putra putri kak Bima spesial, Winda juga mempunyai kecerdasan, tapi menyembunyikan kemampuannya, terlihat seperti wanita polos." Steven tersenyum berbicara di dalam hati, ternyata Winda tahu, tapi cara mengatakannya berlebihan.
"Sudah kak Bim, biarkan saja ikannya." Steven meminta maid membersikan aquarium, ikan yang masih hidup juga dipindahkan.
Steven mendekati Winda yang cemberut, Stev meminta maaf bukan bermaksud marah, hanya saja kasihan melihat Ikan yang mati, Stev tidak marah Winda memainkan, tapi berbahaya juga untuk keamanan Winda.
Reva masih panas dingin, jantungnya berdegup kencang, tidak habis pikir Winda mulutnya berbahaya. Bima terlalu memanjakan Winda sehingga tidak ada yang bisa menentangnya.
"Mami kenapa?" Windy duduk di depan Maminya, memegang dada yang berdegup kencang.
"Kamu tidak takut jika Papi tahu?" Reva berbicara pelan.
"Biarkan saja Papi tahu, sehingga hubungan ini tidak perlu Windy sembunyikan." Windy tersenyum.
Windy tersenyum, Win yakin Papinya akan mengerti. Reva mengusap wajah Windy yang sangat percaya jika Papinya akan memberikan restu. Keyakinan Windy cara satu-satunya Reva untuk berbicara pelan kepada Bima soal hubungan Windy dengan Steven yang berpacaran.
Steven melihat Reva yang tersenyum terpaksa, Reva langsung bertanya kamar Windy untuk mandi, demi menghilangkan rasa grogi.
Maid sudah menyiapkan kamar tamu, Bima dan Reva langsung masuk kamar, Winda ikut dengan Windy, sedangkan Wildan bersama Steven.
Vero sudah pergi untuk balapan, atau hanya sekedar menonton balap.
Steven langsung mengendong Winda yang bajunya basah, menciumnya gemes. Winda membongkar kartu as, tatapan Winda masih marah tidak merespon Steven.
Windy masuk kamar untuk memandikan Winda, sedangkan Steven bersama Wildan masuk kamar. Stev menyiapkan air hangat, sedangkan Wildan memperhatikan foto di dinding, mata Wildan mencari sesuatu, Steven langsung berlari menyembunyikan remote.
"Langsung mandi Wildan, air sudah Om siapkan." Steven tersenyum santai.
"Tidak ada yang bisa disembunyikan dari Wildan." Wil langsung naik kursi sofa, menekan layar di gambar, foto langsung berubah foto Steven bersama Windy.
__ADS_1
Steven tertawa mengacak rambut Wildan, langkah kaki Wildan langsung masuk toilet. Stev tersenyum menatap fotonya bersama Windy yang sangat romantis.
"Steven di mana Wildan?" Bima mengetuk dan melangkah masuk.
Steven langsung panik mencari remote mematikan fotonya bersama Windy, mengganti dengan foto pemandangan.
Wildan menekan remote sambil memanggil Papinya, Steven mengusap dadanya bernafas lega. Wildan membantunya untuk merahasiakan hubungan dengan Windy.
"Ada apa Papi?" Wildan tersenyum, Bima mengeluarkan baju Wildan, membantunya memakai baju.
Stev tersenyum melihat sosok Bima yang sangat lembut, sosok Ayah yang sangat luar biasa.
"Kenapa kamu senyum Stev? jika ingin merasakan indahnya pernikahan, berhenti gonta-ganti pacar, carilah wanita yang tepat untuk menjadi Ibu anak-anak kamu." Bima menatap Stev yang mengaruk kepalanya.
Bima duduk di sofa, melihat foto yang Stev temukan soal Windy Anderson dan Windy Bramasta. Bima tersenyum melihat foto bayi kecil, gadis kecil yang berada dalam pelukan Bima pertama kalinya.
"Stev, aku dulunya sangat mencintai Viana, demi Windy aku meninggalkan Vi, memilih menikahi Brit. Saat Windy lahir aku sedang di luar Negeri, mendengar Brit melahirkan langsung kembali menemui putriku." Bima menarik nafas, menghentikan ceritanya.
Steven terdiam menjadi pendengar yang baik, tidak habis pikir dengan Britania yang memilih meninggalkan Bima, lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Meninggalkan bayi kecilnya, demi lelaki yang memiliki uang.
"Kak Bim, Windy putrinya Britania sudah meninggal? siapa Windy yang sekarang?"
"Semua penyelidikan kamu benar Stev, aku tidak lagi menutupi siapa Windy, tapi tidak ada yang boleh merebutnya dari keluarga kami. Dia putriku dan Reva."
"Kapan kak Bim akan jujur kepada Windy?"
"Aku tidak pernah membohongi dia, Windy juga pasti sudah tahu, hanya saja dia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara."
Bima tersenyum bersama Steven, mereka kagum sekali dengan Windy yang masih sangat muda berpikirnya menggunakan logika, tidak emosian. Sangat berbeda dengan Reva yang langsung mengambil keputusan, marah dan menuntut, sedangkan Windy kuat, yakin jika dia wanita tangguh.
Demi cintanya kepada keluarga, Windy diam dan tenang, menunggu waktu dia mempertanyakannya semuanya tentang dirinya.
***
__ADS_1