
Tatapan Winda tajam, melihat sosok Ar yang sangat berbeda dengan biasanya. Cara Ar menatap Josua sangat tajam, juga menakutkan.
"Aku tidak akan bertanggung jawab untuk apapun, aku tidak mengudang dia untuk datang ke rumah, seharusnya kamu yang bertanggung jawab, karena sudah menyembunyikan keberadaan ummi." Senyuman Ar terlihat sinis, dia tidak mudah di tipu oleh kata-kata Josua.
"Ibu kamu sendiri yang menginginkannya, aku berikan kamu dua pilihan."
"Aku tidak akan mengambil dua pilihan itu."
"Tenyata Joseph benar, kamu sangat sulit untuk diminta bernegosiasi."
"Bagus jika kamu tahu."
"Aku meminta bantuan, perusahaan kami sedang dalam masalah. Kamu tidak merasa perbuatan istri kamu keterlaluan, lihat keadaan adikku. Aku tidak meminta kamu menikahi dia, tapi setidaknya kamu bantu perusahaan kami." Josua berteriak, melihat Ar tidak mempedulikan ucapannya, langsung melangkah pergi menggenggam tangan Winda.
Joseph menghentikan keduanya, berbicara pelan dengan Ar soal keadaan Ranty yang mungkin memiliki trauma.
"Kamu meminta aku membantu trauma Ranty, lalu apa yang kalian lakukan soal trauma Ummi dan Winda, mereka berdua korban, tidak ada rasa kasihan kalian." Ar menunjuk wajah Joseph yang terus melangkah mundur, takut melihat Ar yang nada bicaranya tinggi.
Winda tersenyum melihat Ar yang sangat tegas, tidak mengalah sedikitpun tetap kepada pendirinya.
"Minta bawahan kamu menyingkir, jika tidak ingin aku menghacurkan kalian." Teriakkan Ar membuat Winda kaget, merasa takut melihat Ar marah.
Semuanya langsung menyingkir, membiarkan Ar melangkah pergi. Masuk ke dalam mobil, menuju kembali ke villa.
Winda tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun, tatapan Ar lebih seram dari kakaknya Wildan.
Mobil kebut-kebutan di jalanan, Winda memejamkan matanya sampai tiba di villa.
"Keluar Winda." Ar membanting pintu mobil kuat.
"Kenapa dia lebih galak, seharusnya Winda yang marah karena dia dan kak Wildan, menutupi kasus sepuluh tahun yang lalu." Winda keluar membanting pintu kuat.
__ADS_1
Mami yang menunggu langsung duduk diam melihat tatapan Ar yang tidak bersahabat, Winda juga masuk duduk di samping ummi.
"Kenapa kamu melanggar perjanjian kita Winda?"
"Aku hanya ingin mempercepat masalah agar selesai, kamu yang mempunyai hutang penjelasan."
Ar menatap tajam, Winda menundukkan kepalanya. Suara Ar terdengar menjelaskan siapa Joseph, dia lelaki yang banyak berganti wanita, tapi Winda datang secara sukarela.
Ar sudah berusaha untuk melindungi Winda, bahkan berusaha untuk terus sabar.
"Aku juga manusia biasa Win, aku bisa marah, sakit, kecewa dan terluka. Kamu di sini tanggung jawab aku, sumpah dan janji aku kepada orang tua kamu bahkan dua keluarga besar." Suara Ar terdengar seperti tamparan untuk Winda, dia tidak merasa salah, tapi disalahkan.
Air mata Winda menetes, bahkan Papinya saja tidak pernah marah. Hanya Wildan yang sangat keras kepadanya.
"Kamu kecewa sama aku, sama Win aku juga kecewa kepada diri sendiri. Sekuat apapun aku berusaha sabar, tapi aku tidak bisa. Kamu cukup diam di rumah, sedangkan aku yang menyelesaikan semuanya, tapi apa yang kamu lakukan." Kepala Ar tertunduk, ada rasa sakit memarahi Winda, Ar terlalu mengkhawatirkannya sedangkan Winda terlihat santai saja seperti mengunjungi rumah temannya.
"Winda tidak salah, kamu jelaskan apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu? siapa yang menyebabkan pembantaian?" Winda menaikkan nada bicaranya, Mami menggenggam tangan Winda, memintanya untuk diam.
Saat mereka keluar, Ar bertemu Wildan yang sedang mencari adiknya. Ar menyerahkan Winda untuk dilarikan ke rumah sakit, sedangkan Ar kembali untuk menolong Ummi.
Ummi menutup mulut Ar, memintanya masuk ke kamar. Winda binggung melihat Ar menangis langsung melangkah pergi.
"Win, nanti kamu bicara lagi setelah dia tenang. Ar sangat menyayangi kamu, sangat mengkhawatirkan istrinya." Mami menundukkan kepalanya langsung menangis.
"Kenapa Ar menangis?"
"Dia saksi melihat Ummi disentuh banyak lelaki, inilah alasan Ummi melarikan diri dari Ar, kamu bayangkan saja Win, seorang pemuda yang berteriak memanggil ummi dipukuli sampai babak belur. Sungguh memalukan dinodai banyak lelaki di depan putra sendiri." Mami menangis sesenggukan, Winda langsung memeluk Ummi, meminta maaf karena dia tidak tahu jika Ar juga ada di sana.
Di kamar Ar mengusap air matanya, duduk diam menenangkan diri bersyukur Winda baik-baik saja.
Setelah Ar tenang, dia langsung mengambil ponsel menghubungi Papi. Winda yang ingin masuk menghentikan langkahnya melihat Ar yang sedang berbicara.
__ADS_1
Winda mendengar dengan jelas, jika Ar meminta maaf kepada Papi, karena sudah membentak Winda, meninggikan suaranya bahkan memarahinya.
Senyuman Ar terlihat mendengar Papi yang menasehatinya, meskipun mertuanya tidak tahu apa konflik mereka.
Jika Ar marah pasti karena Winda salah, Papi memakluminya. Tidak ada lelaki yang sempurna, bahkan Bima juga bisa menaikkan nada kepada Reva, hanya untuk menegurnya.
Teguran bukan karena meluapkan rasa marah, tapi rasa khawatir. Bima tahu Ar mengkhawatirkan Winda, berharap keduanya bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
Selesai panggilan kepala Ar tertunduk, dia yang tidak kuat untuk mengungkit kejadian sepuluh tahun yang lalu.
Saat Ar dilarikan ke rumah sakit, Winda berjalan dalam keadaan linglung bahkan tidak menyadari kehadiran Wildan.
Winda hanya mengingat dirinya di bar, banyak pelecehan dan pembantai selebihnya dia tidak tahu, bahkan dirinya masuk rumah sakit tidak tahu.
Wildan satu-satunya orang yang mengetahui masalah Winda, demi menyelematkan adiknya dari trauma memilih untuk menyembunyikan dari keluarganya.
Ar dan Wildan tahu satu sama lain, tapi belum mengenal dekat. Wildan yang jenius bertemu dengan Ar yang jenius.
Mereka berdua mengejar pelaku yang ternyata pemilik dari bar, melakukan percobaan obat terlarang, mengunakan pengunjung untuk menjadi target percobaan.
Seluruh pengunjung mendapatkan minuman yang sudah dicampur obat, dosis yang tidak sesuai sampai lepas kendali. Setiap pengunjung saling memukul, membantai juga memiliki hasrat yang tinggi sehingga terjadi pelecehan secara besar-besaran.
Lima pelayan meninggal, lima pengunjung meninggalkan sisanya dilarikan ke rumah sakit. Winda, Ar juga Ummi tiga orang yang berhasil keluar, tanpa ada yang mengetahui identitas mereka sehingga tidak terjadi penyelidikan.
Tidak butuh waktu lama bagi Wildan untuk menemukan pelaku yang langsung ditangkap oleh kepolisian, Ar tidak perduli dengan masalah bar, tapi ummi menghilang meninggalkannya.
Wildan menutup kasus, berharap Winda melupakan semuanya. Wildan dan Ar berpikir sikap Winda yang ceria berarti tidak mengetahui apapun, tapi kenyataannya ada ingatan yang terpotong di kepala Winda.
Masalah yang sudah selesai, tapi Winda buka kembali sehingga membuat masalah baru.
***
__ADS_1