MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 MEMULAI PERJALANAN


__ADS_3

Keberangkatan sudah ditetapkan, Ar akan segera meninggalkan villa mewah yang selalu menjadi tempat pulang.


Sebelum pergi mereka berkunjung terlebih dahulu ke rumah Arlando, kedatangan Winda dan Ar disambut baik oleh Josua.


"Silahkan masuk Ar, Win."


"Di mana Mami Om?" Ar duduk di ruang tamu.


"Belanja, seharusnya kamu jangan membelikan Mami kamu mobil, lihat saja lupa pulang. Dia keluar juga membawa Jack."


"Winda yang membelikannya, bayaran untuk ramuan penyubur yang tidak ada khasiatnya." Winda menatap sinis, terlihat sekali jika dirinya sangat kesal.


Ar tertawa melihat tingkah istrinya, sudah satu minggu Winda membicarakan obat penyubur yang tidak berkhasiat.


Suara tertawa terdengar, Mami datang bersama Jack membawa banyak mainan untuk putranya.


"Ehh ada wanita ular di sini." Mami tersenyum melihat Winda yang wajahnya seperti ingin mengamuk.


Jack mencium tangan Ar dan Winda, Mami langsung duduk menatap suaminya melotot.


"Dari mama saja Liz?"


"Buta, sudah lihat banyaknya belanjaan."


"Kamu janji hanya satu jam, tapi ini empat jam."


Mami meminta maaf, dia khilaf. Jack juga merasakan kakinya sakit, Josua memijit kaki putranya yang lelah mengikuti keinginan Maminya.


"Capek ya sayang, sini peluk Papi." Josua mengusap kepala putranya, Ar tersenyum melihat sosok ayah yang sangat penyayang.


"Papi, tadi Mami bertengkar di mall."


"Eh dasar mulut bocor." Mami menatap tajam.


Winda tertawa kuat, Mami dilihat dari luar saja sudah mirip singa.


"Kenapa lagi kamu Liza, sudah aku katakan jangan membuat masalah."


"Hmz, mereka orangtua satu sekolah dengan Jack, mereka mengatakan jika kepintaran Jack karena Papinya menyuap sekolah. Mami tidak terima, langsung tampar saja mulutnya, Jambak rambut, jangankan perempuan laki-laki saja aku patahkan tulangnya jika menyentuh anakku." Mami langsung cemberut tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Setuju mami, Winda siap bantu. Kita ratakan sampai tujuh turunan." Winda berjabatan tangan dengan Mami.


"Winda." Ar menatap serius, sedangkan Winda tidak perduli. Dia langsung mencari tahu keluarga yang menyentuh Jack.

__ADS_1


Ar mengutarakan niat hatinya untuk berpamitan pergi ke beberapa negara, dan akan menetap di Indonesia.


Mami terkejut, Ar akan pergi dan entah kapan dia akan kembali. Baru saja terasa bersama sudah dipisahkan kembali.


"Mami, Ar tahu sebenarnya Mami sangat baik. Izinkan Ar pamitan, jaga diri baik-baik hubungi Ar jika butuh sesuatu." Senyuman Ar terlihat, mencium tangan Maminya.


"Om, Ar titip Mami, maafkan sikap Mami yang selalu memancing emosi, jika butuh bantuan hubungi Ar, karena kita keluarga."


"Kamu tenang saja Ar, aku sudah delapan tahun mengahadapi sikap dia yang selalu membuat masalah." Senyuman Josua juga terlihat, berjabatan tangan dengan Ar.


"Winda jaga putra Mami."


"Tidak mau, dia yang harus menjaga Winda." Tatapan Winda seakan-akan mengejek.


Winda dan Ar pamitan langsung melangkah pergi, keduanya ke bandara bersama beberapa tim yang Ar libatkan dalam bisnis.


Sesampainya di bandara Ar meminta bawahannya untuk mempersiapkan keberangkatan, mereka pergi menggunakan jet pribadi milik Ar.


"Silahkan masuk sayang."


Ar menyambut tangan Winda, memintanya untuk beristirahat karena perjalanan mereka panjang.


Di dalam pesawat, Winda mulai tertidur sedangkan Ar masih fokus membaca beberapa berkas penting.


Sekretaris Ar tersenyum melihat tuan muda yang pekerja keras, tapi masih tetap mengutamakan kenyamanan istrinya.


"Abi, Winda masih mengantuk."


Senyuman Ar terlihat, mempersilahkan Winda tidur. Menggendongnya untuk turun pesawat pindah ke mobil.


Beberapa mobil mewah juga terlihat sudah menunggu, Ar turun dengan santai menggendong Winda yang masih terlelap tidur.


Di mobil Winda masih tetap tidur sedangkan Ar sudah mengikuti rapat virtual, sekretaris Ar sampai binggung melihat Winda yang memeluk Ar sedangkan dia sedang rapat.


"Abi buka bajunya, Winda ingin tidur di atas." Tangan Winda meraba ke dalam baju.


Suara Winda terdengar sampai ke tempat meeting, Ar langsung berdehem meminta semuanya fokus.


"Abi!" Winda memukul dada Ar.


"Sabar sayang, kita masih di mobil." Ar mengunakan bahasa Indonesia, mengusap kepala Winda agar tidak ada yang mengerti bahasa mereka.


Hanya sekretaris Ar yang tersenyum mengaruk kepalanya, mendengarkan ocehan Winda yang minta dipeluk.

__ADS_1


"Kenapa kamu tertawa?" Ar tersenyum menyelesaikan meeting melihat sekretarisnya.


"Maaf tuan muda, hanya saja tidak terbiasa dengan keromantisan ini."


"Menikahlah, kamu akan merasakan indahnya pernikahan. Jangan juga terlalu terburu-buru, tidak masalah terlambat asalkan mendapatkan yang tepat. Jika sudah merasa cocok langsung halalkan." Suara lembut Ar terdengar, mengusap wajah Winda yang tertidur dengan nyenyak.


"Siap Tuan muda, saya belum berani jatuh cinta. Mungkin masih terlalu fokus karir."


"Karir kamu akan mengikuti rezeki, berambisi boleh, tapi jangan berlebihan." Ar meminta dibangunkan jika tiba di hotel, dia ingin beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa lelah.


Mobil melaju menuju hotel yang sudah di pesan, sekretaris Ar melihat ke belakang wajah Winda juga wajah tuanya. Sungguh sepasang suami istri yang berbeda karakter, tapi bisa bersatu.


Tiba di hotel, Ar belum dibangunkan karena tidurnya terlihat sangat nyenyak. Sektretaris kepercayaan Ar tidak tega membangunkan, membiarkan Ar beristirahat sebentar.


Winda terbangun melihat mobil berhenti, melihat sekretaris yang sibuk membaca beberapa berkas yang akan mereka urus.


"Abi, ayo bangun."


"Sore nyonya, maaf tidak membangunkan, soalnya Tuan belum istirahat, jadi lebih baik tidur sebentar, karena malam ada meeting di tempat pameran."


Winda mengurungkan niatnya membangunkan Ar, memainkan ponselnya melihat pesan Vira yang akhirnya merasakan surga dunia.


Sungguh Winda tidak menyangka, kakaknya mengerti cara membuat anak, Winda pikir hanya tahunya membaca buku.


"Semoga kita segera memiliki baby, tunggu Winda kembali." Senyuman Winda terlihat mencium pipi suaminya.


Mata Ar langsung terbuka, mencium bibir Winda lupa jika mereka masih ada di mobil.


"Maaf Tuan, saya permisi."


Ar mengusap wajahnya, tidak menyadari jika masih ada orang lain di antara mereka. Winda langsung keluar melangkah bersama Ar ke dalam hotel.


Wajah Ar masih mengantuk, terlihat juga konsentrasi yang belum bisa fokus.


Pintu kamar hotel terbuka, Ar langsung lanjut tidur karena masih sangat mengantuk. Winda sudah meletakan kepalanya di dada, bermain game bersama Bella yang sedang hamil pekerjaannya hanya membuat masalah.


[Kak Bel, sudah berapa bulan?] Winda menunggu jawaban dari Kaka sepupunya.


[Tahun bodoh.]


[Kandungan kak Bel, bukan game.] Winda merasa kesal.


[Masuk enam bulan, cepatlah pulang setiap hari komplek kita heboh. Em anaknya Billa suka membuat masalah, kemarin saat hujan dia hanyut di selokan.] Bella tertawa, melihat Em yang menatapnya tajam.

__ADS_1


Winda langsung tertawa, rasanya sangat rindu dengan semua keluarganya. Selain orang tua, rindu dengan keponakannya yang mulai tumbuh besar.


***


__ADS_2