
Pintu kamar Stev terbuka, Windy langsung melihat ke arah kamar. Steven melangkah menuruni tangga dengan santai untuk makan malam bersama.
Windy langsung berdiri mendekati Stev, senyuman Steven terlihat menatap Windy.
"Sudah makan malam Windy?" Stev melangkah melewati Windy.
"Maaf soal restoran, nanti Windy kenalkan. Ay jangan salah paham." Windy langsung melangkah mengikuti langkah kaki Steven menuju dapur.
Bima menatap Windy dan Steven dari lantai atas, Reva juga mengamati sambil tersenyum.
"Sayang, apa semua pria tampan jika cemburu cuek, diam, dingin, bukan mengamuk?" Reva memeluk pinggang Bima.
"Mungkin saja sayang, tergantung orang masing-masing."
Steven duduk langsung mengambil makan, Windy juga duduk di samping Stev. Keduanya hanya diam sampai Steven selesai makan.
Sesekali Windy menatap Stev, suara Winda terdengar nyaring langsung duduk di meja makan bersama yang lainnya.
"Kak Stev sudah makan? kenapa tidak menunggu kita?" Winda menatap tajam.
"Maaf Winda, Om pikir kalian sudah makan. Lanjutkan makanannya, Om kerja dulu." Steven membersihkan bekas makannya.
"Om, tumben sudah berubah lagi menjadi Om. Orang tua memang sulit dimengerti." Winda bergumam, mengabaikan Steven menunggu keluarga untuk berkumpul makan malam.
Windy mengikuti Stev, masuk ke dalam ruangan kerja menarik tangan Steven untuk menatapnya.
"Om, Windy sudah minta maaf jangan abaikan Windy."
"Apa yang kamu rasakan jika aku yang berduaan dengan wanita lain? Windy setia bukan hanya soal menjaga perasaan pasangan, tapi bisa menjaga pergaulan. Aku percaya kamu tidak ada hubungan apapun, kalian hanya sebatas rekan kerja, tapi rasa kecewa pasti ada." Stev langsung duduk mengambil beberapa berkas.
Windy meneteskan air matanya, sudah banyak Windy bersabar melihat Steven bersama banyak wanita, tapi tidak sedikitpun Windy menjauh, marah karena Windy percaya cinta sejatinya.
"Jika ada masalah seharunya om bicara, Windy tidak merasa bersalah karena Windy sudah berkata jujur sedang makan bersama teman kerja." Windy melangkah keluar meninggalkan Steven.
"Aku tidak marah Windy, jika aku mempertanyakan siapa pria yang bersama kamu berarti aku tidak percaya. Diam aku bukan karena marah, tapi karena kamu tidak menjaga status kamu, makan berduaan tertawa bahagia."
"Dia hanya rekan kerja Om."
"Aku tidak tahu selama tiga tahun ini siapa saja rekan kerja kamu. Jika bersama perempuan kamu boleh makan berdua, jalan, tertawa bercanda, tapi jika dia laki-laki seharusnya kamu hadirkan orang ketiga, jika tidak ada makan di kantor agar tidak terjadi fitnah."
Windy melangkah keluar membanting pintu, langsung melipat kedua tangannya di dada. Winda tersenyum melihat Windy yang emosi.
"Kak Windy, kata orang tua zaman dulu mendekati hari pernikahan banyak ujiannya. Ada perdebatan, selisih paham, awalnya baik mulai egois, hadirnya orang ketiga, selalu mencari kesalahan, juga mulai ragu dengan pasangan. Kak Windy sedang ada di fase yang mana?" Winda menatap tajam.
__ADS_1
"Winda, Om Stev marah kak Windy makan bersama orang lain."
"Memangnya kak Stev mengatakan jika dia marah." Winda duduk di depan pintu bersama Windy.
"Dia bilangnya tidak, tapi cara bicaranya mengatakan sedang marah."
"Kak Win, jika kak Stev mengatakan tidak berarti abaikan saja. Berdebat hanya akan membuat egois ingin menang sendiri, betul teman-teman?" Winda menatap Vira, Bella dan Billa yang baru muncul.
"Betul." Vira, Bella Billa ikut duduk.
Windy tersenyum berkumpul dengan empat gadis kecil yang paling pintar soal cinta, Windy hanya kasihan melihat Billa yang hanya celingak-celinguk melihat Winda, Bella dan Vira membicarakan pria tampan.
"Kalian ini sudah cantik, pintar, kaya, tapi sayang tidak akan punya pacar." Windy tertawa kecil.
"Kak Windy, Winda tidak punya pacar karena kak Wildan, matanya tajam mengalahkan elang yang siap menerkam." Bibir Winda monyong menatap Wildan yang lewat.
"Bella juga takut, semakin kita besar Wildan semakin menakutkan. Dia pernah mencengkram rahang laki-laki yang memberikan Bella bunga, cengkeramannya mengalahkan singa." Bella merinding mengerikan.
"Vira tidak membutuhkan pria manapun, karena yayang Wildan yang paling tampan, keren, pintar pria paling sempurna."
Windy menyentuh kening Vira, berpikir Vira sedang kerasukan karena mengagumi pemuda semenakutkan Wildan, wajah tampannya tidak sesuai dengan cara bicaranya yang dingin.
"Billa kamu kenapa diam saja?"
"Billa tidak tahu ingin bicara apa, jadinya ikut saja."
"Kak Windy kira-kira dong, masa iya kita terjun dari gedung berarti kita bunuh diri." Bella memonyongkan bibirnya.
"Iya kak Win, masa iya kita bunuh diri berjamaah." Winda tertawa kuat.
"Jika satu terjun, kita menonton saja langsung kirim doa kepada malaikat maut agar segera masuk neraka." Vira tersenyum.
Semuanya menatap Vira yang membicarakan neraka, seakan-akan Vira manusia satu-satunya yang tidak berdosa.
"Vira, jangan bahas neraka lebih menakutkan dari terjun dari atas gedung." Bella memeluk Billa takut.
Steven membuka pintu melihat Windy bercerita dengan anak-anak, kepala Stev menggeleng mendengar lelucon Vira yang tidak lucu, tapi bisa membuat yang lain tertawa.
"Kak Windy harus menunggu kak Stev minta maaf, karena wanita tidak pernah salah." Vira memberikan semangat.
"Tidak boleh seperti itu Vira, jika kak Stev tidak minta maaf masalah tidak akan selesai." Winda meminta Windy meminta maaf.
"Biarkan saja, Bella Billa kalian dukung siapa?"
__ADS_1
"Billa dukung Winda saja."
"Bella dukung Vira."
"Sebenarnya kak Windy harus minta maaf atau tidak?"
"Minta maaf." Vira tertawa kuat.
"Dasar Vira tidak punya pendirian, baru saja mencari dukungan sudah berpindah haluan."
"Hanya bercanda kak Windy, jangan marah-marah nanti cepat tua."
"Kak Windy sudah berkali-kali minta maaf, tapi tidak dimaafkan."
Vira mengedipkan kedua matanya melihat Stev, langsung tersenyum melangkah pergi, Bella Billa juga tersenyum menarik Winda untuk pergi.
"Kalian ingin pergi ke mana?" Windy teriak kuat.
Steven menutup telinganya, Windy tersenyum melihat Stev langsung memeluknya. Steven juga tersenyum melihat tingkah Windy.
"Maaf, lain kali Windy akan bertiga."
"Sama siapa?"
"Jerry dan temannya Jerry." Windy tersenyum mengantungkan tangannya di leher Stev.
"Baiklah, aku juga malam ini makan malam dengan Jeni dan ...." Stev menahan tangan Windy yang sudah memukulinya dengan suara Windy teriak kuat.
"Windy Steven kalian tidak ingat waktu, ini sudah waktunya jam tidur." Reva menatap tajam.
"Om Stev ingin keluar makan malam bersama Jeni." Windy cemberut.
"Steven beraninya kamu, lanjut pukuli jika perlu Mami bantu." Reva sudah ingin mendekati Steven sampai tangannya ditarik Bima.
"Sudah berhenti bertengkar dan berdebat, sebaiknya tidur karena besok kita harus pulang. Steven kamu juga berhenti mengerjai Windy jika tidak ingin babak belur." Bima menarik Reva masuk kamar.
***
Novel ini akan lanjut tayang bulan depan, menunggu Bianka season 2 tamat.
Mohon pengertiannya karena pekerjaan dunia nyata sedang sibuk, jadi mengutamakan pekerjaan.
Penyebaran covid yang semakin banyak, juga banyaknya korban meninggal. Mohon teman-teman menjaga kesehatan juga ya, hindari kerumunan, jika tidak perlu jangan keluar rumah, gunakan masker.
__ADS_1
***
SAMPAI BERTEMU BULAN DEPAN.