MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEHILANGAN LAGI


__ADS_3

Vero menyentuh dadanya, Reva menatap Vero menanyakan mungkin lukanya sakit kembali. Vero menggelengkan kepalanya, mengatakan dadanya terasa sakit tapi bukan sakitnya luka.


Windy datang sambil tersenyum, Windy dan Bima baru saja mengantar Mommy dan Bunda sekeluarga pulang.


Senyum Windy terlihat, menatap Vero yang sudah bisa berjalan.


"Di mana kak Stev?" Vero menatap Windy.


"Ayo kita menemuinya." Windy mengandeng Vero, meminta Mami Papinya pulang lebih dulu.


Saka juga datang mengucapkan selamat untuk Vero akhirnya dia bisa pulang, tatapan Saka terlihat sedih membuat perasaan Vero semakin tidak nyaman.


"Dokter sialan yang membantu Brit di mana?"


"Mereka akan membusuk di penjara." Saka tersenyum membantu Vero berjalan ke arah mobil.


Windy hanya akan pergi bersama Vero, Saka harus menjemput Ghina menemui mereka di tempat Stev.


Saka menganggukkan kepalanya, langsung melangkah pergi. Windy membukakan pintu mobil, meminta Vero masuk.


Senyuman Windy terlihat, Vero semakin merasakan tidak nyaman. Senyuman palsu, pasti sesuatu terjadi kepada kakaknya.


Mobil langsung melaju, pandangan Vero melihat ke luar jendela mobil. Air matanya perlahan jatuh, hampir dua bulan di rawat, Steven tidak pernah datang menemuinya.


Vero mengigit bibir bawahnya, menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir. Dadanya semakin sesak, tidak merespon Windy yang terus mengoceh menemani Vero mengobrol.


"Vero jawab pertanyaan aku." Windy memukul pelan lengan Vero.


"Fokus menyetir Win, aku ingin tidur sebentar."


"Sebentar kita sampai." Windy mempercepat laju mobilnya.


Vero melihat jalanan menuju jembatan tempat kejadian mengerikan, di mana Vero dan Steven diserang.


"Jangan berhenti di sini." Vero berpegangan kuat, takut melihat jembatan.


Mobil berhenti di tengah jembatan, Windy langsung melangkah keluar, berdiri di jembatan melihat ke bawah air.


"Keluar Vero." Windy memanggil Vero.


Pintu mobil terbuka, kaki tangan Vero bergetar. Air matanya menetes menyentuh jembatan melihat ke arah air langsung memalingkan wajahnya.


Windy hanya diam membiarkan Vero memahami situasi, tangisan Vero semakin terdengar menyayat hati.


Windy terus berusaha menahan air matanya, mengigit bibir bawahnya sampai berdarah, merasakan sesak dadanya.


"Di mana kak Stev?" Vero duduk memeluk jembatan.


"Di mana kakakku?"

__ADS_1


"Di mana Win?"


Windy duduk menepuk punggung Vero, mengatakan Steven jatuh, membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali.


Vero menatap Windy, air mata sudah mengalir membasahi kedua pipinya. Bibir Vero bergetar menatap Windy menggelengkan kepalanya.


"Bohong."


Windy tersenyum menatap ke bawah air memeluk besi jembatan, satu tetes air mata Windy jatuh.


"Win, kak Stev di mana?"


"Belum ketemu." Windy menghapus air matanya.


Suara tangisan Vero terdengar, memukul besi jembatan memanggil nama kakaknya. Saka langsung datang memeluk Vero memintanya untuk tenang.


Ghina menangis melihat Vero yang hancur menjadi orang terakhir yang tahu berita kehilangan Kakaknya.


"Kak, kak ..." Vero terduduk langsung bersujud memukulkan tangannya dengan besi.


"Kenapa meninggalkan Vero kak? kak Stev sudah janji akan menemani Vero, mengajari Vero, melihat Vero menjadi orang baik. Kak Stev bohong." Vero teriak kuat sambil menangis histeris.


"Vero, perhatikan keadaan kamu." Saka mengusap punggung Vero.


"Jahat, kalian semua jahat tidak pernah menepati janji, Mommy Daddy sekarang Kak Stev juga pergi. Vero tidak punya alasan hidup sendiri di dunia ini." Vero mengacak rambutnya, memukul dadanya yang sesak.


Vero langsung berdiri melihat ke bawah air, langsung berlari ingin turun ke bawah. Saka mengejar Vero meminta Vero tenang, Stev sudah lama menghilang.


Air mata Saka kembali menetes, tidak tega melihat keadaan Vero yang terguncang. Windy saja ingin melompat dari atas jembatan, apalagi Vero yang sangat bergantung kepada Steven.


Saka tahu Windy hancur, dia berpura-pura kuat demi keluarganya. Melihat keadaan Vero lebih hancur lagi.


"Kak ... kak Stev pulang." Vero langsung terjun ke air.


Saka menarik Vero memarahinya melihat Vero yang ingin terbawa arus, Stev pasti akan kecewa jika tahu Vero seperti ini.


Tangisan Vero kuat, teriak membuat suaranya hilang terguling di rumput melihat langit yang kejam dengan kehidupannya.


"Kenapa tidak mengambil nyawaku saja? aku ingin tinggal bersama kedua orangtuaku, kak Stev. Ambil saja aku." Vero mengutuk langit yang cerah tidak seperti kehidupan yang menyakitkan.


Saka memeluk Vero, berjanji akan menjaga Vero seperti amanah Steven. Saka akan melindungi Vero sampai dia menemukan kebahagiaannya.


"Kamu kuat Vero, harus bangkit."


"Kak Saka, tolong cari kak Stev. Vero akan melakukan apapun agar kak Stev ketemu."


"Tanpa kamu minta akan aku lakukan, kami sudah berjuang siang dan malam, menyusuri sungai mencari keberadaan Stev, bahkan sudah ada yang menyelam."


"Air ini dingin, kak Stev pasti kedinginan."

__ADS_1


Saka mengusap air matanya, memeluk Vero yang terus menangis memukul tanah.


"Kak Stev ayo pulang jangan menangis, Winda juga kuat." Winda tersenyum dari atas jembatan, melambaikan tangannya kepada Vero.


"Ayo naik Kak Stev." Winda memanggil Vero.


Vero langsung melangkah naik, melihat Winda yang tersenyum, berjalan menggunakan sepatu roda mendekati Windy.


"Winda kamu melihat kak Stev?"


"Iya, kak Stevero." Winda melemparkan satu ikan meminta ikannya mencari Steven.


Winda memeluk Vero, meminta Vero kuat seperti kakaknya Windy, harus banyak berdoa agar Allah memberikan yang terbaik.


Vero meneteskan kembali air matanya, berdiri melihat air yang mengalir. Bahkan ikan Winda juga menghilang dibawa arus.


"Kak Stev jatuh pasti kesulitan bernafas?"


"Ikan Winda jatuh bisa bernafas, kak Steven juga bisa bernafas. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, mungkin sekarang kak Steven ada di tempat yang indah, tidak merasakan sakit lagi, kita harus berdoa terus." Winda mengusap tangan Vero.


"Bagaimana caranya aku hidup?"


"Kak Stev harus bernafas agar hidup, jangan lupa makan agar tidak lapar, minum juga paling penting jangan lupa mandi nanti busuk."


Vero tertawa, Windy juga tertawa lalu menangis lagi. Winda menatap kakaknya Windy yang tersenyum palsu.


Winda mundur, berjalan menggunakan sepatu rodanya meneteskan air matanya terhenti saat terjatuh.


"Sampai kapan senyuman palsu terlihat, Winda tidak suka." Winda mengusap luka kakinya.


"Berpura-pura lebih baik daripada terpuruk dalam luka, rasa sakit tidak mudah terlupakan Winda." Wildan membantu Winda berdiri, meminta naik ke punggung untuk digendong.


Winda langsung naik, Wildan berjalan mendekati Windy meminta untuk segera pulang. Windy menatap Vero yang menolak untuk kembali, dia masih ingin berdiam diri.


Wildan meminta Windy pulang, dia yang akan menemani Vero bersama Saka. Winda juga pulang bersama Ghina dan Windy meninggalkan Vero yang masih duduk memeluk jembatan.


"Kak Stev yang hidup harus tetap menjalani kehidupan, sedangkan yang tiada jangan diratapi."


"Wildan, di mana kak Stev?"


"Entahlah, Wildan juga sedang bertanya-tanya."


"Dia pasti kembali?"


"Jangan berharap kak, jika terus berharap dengan sesuatu yang tidak pasti kita tidak bisa hidup."


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...

__ADS_1


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***


__ADS_2