
Suara tangisan bayi menggema di dalam ruangan operasi, diikuti tangisan Windy yang menepuk pelan punggung putranya.
Dokter Nana lompat-lompat bahagia, menatap Dokter termuda yang melangkah pergi dari pintu darurat, sambil meneteskan air matanya.
Windy sadar merasakan bayinya sedang memeluk, bersamaan dengan anaknya yang menangis kuat.
"Wira sayang, selamat datang nak. Terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan Mommy dan Daddy." Windy mengusap tubuh putranya yang masih tidak menggunakan apapun.
Dokter Nana langsung mengambil Wira kecil, meletakan kembali ke dalam inkubator. Seorang perawat langsung berlari keluar menemui keluarga.
"Ayah bayi silahkan masuk, bayinya harus dibacakan azan." Senyuman perawat terlihat, membantu Steven untuk berdiri.
Steven langsung berlari masuk, sedangkan keluarga yang lain masih terdiam tidak merespon dalam keadaan binggung.
Erik berlari langsung bergabung dengan keluarga, dia menatap Ravi yang menangis.
"Rik, kamu dari mana anak kak Windy tidak selamat." Ravi memukul Erik yang yang menatap pintu.
"Dia baik-baik saja, kalian tidak mendengar suara tangisannya, coba dekati pintu, ada suara Uee Uee." Erik tersenyum menempelkan telinganya di pintu.
Ravi, Wildan, Tian melakukan hal yang sama langsung berpelukan. Bima tersenyum memeluk istrinya yang masih belum sadar.
Teriak Viana dan Jum menyadarkan Reva, keduanya berpelukan bisa mendengar suara Stev mengumandangkan adzan.
Dokter Nana mengeluarkan Windy dan bayi yang baik-baik saja, Stev tidak bisa berhenti menangis memeluk putranya yang sangat mirip dirinya.
Stev juga mencium Windy bertubi-tubi, tubuhnya yang ingin tumbang memiliki tenaga kembali.
Windy tersenyum melihat seluruh keluarga tertawa bahagia, mengikuti Windy yang akan pindah kamar rawat.
***
Bima menggenggam tangan Windy, mencium kening putrinya yang sangat luar biasa. Menatap bayi kecil yang tertidur di sampingnya membuat Bima sangat bahagia.
"Papi, Wira sangat mirip Om Stev." Windy tertawa lucu, langsung menutup mulutnya melihat Wira bergerak.
"Om Stev, dia memang mirip dengan Daddy-nya. Bule kecil kesayangan Kakek." Bima menyentuh hidung mancung Wira.
"Kesayangan Nek mud juga." Reva memeluk Bima dari belakang.
Semuanya gemes sekali melihat pipi gembul Wira, ketampanan Stev turun kepada putranya.
__ADS_1
"Siapa nama panjangnya Win?" Jum menatap Windy yang tersenyum.
"Wira Bramasta Alvaro, Wira nama yang diberikan oleh Saka, sedangkan Bramasta keluarga Papi, Alvaro keluarga Om Stev." Windy mengusap pipi putranya.
"Kenapa Saka yang memberikannya nama?"
"Saka menyukai nama Wira yang berarti pemberani. Sama seperti Steven yang berani bertahan sendiri dengan segala masalahnya, tanpa menunjukkan kepada siapapun, sampai akhirnya Ay Stev hilang, Saka selalu mengatakan jika dia selalu didatangi oleh anak kecil bernama Wira bergandengan tangan dengan Stev, sehingga kami terus percaya Ay Stev masih hidup." Windy mengusap air matanya.
"Kamu ingin Wira hadir dalam hidup Stev?" Viana mengusap kepala Windy.
"Iya Mom, Windy ingin Wira hadir di sisi Daddy-nya sebagai pengganti besarnya luka kehilangan." Windy mencium kening Wira yang terbangun.
"Amin, jadi anak yang Sholeh ya sayang, kalian harus bahagia selalu atas izin Allah." Bima menggendong Wira yang hanya diam saja.
"Papi boleh Wildan menggendongnya." Wildan menyiapkan pangkuan dan tangannya.
Bima menyerahkan kepada Wildan, Ravi, Tian, Erik tersenyum bahagia melihat Wira kecil yang sangat menggemaskan.
"Di mana Steven?" Reva tidak melihat Steven sejak menemui dokter Nana.
"Langsung membeli makan Mam di kantin bawah." Windy tersenyum menatap adik-adiknya bahagia melihat putranya.
"Di mana empat gadis nakal?"
***
Steven berjalan pelan, melihat Vira berlari langsung mengejarnya menghentikan langkah Vira.
"Vira, kenapa kamu berlari?" Stev menatap Vira yang menangis.
"Kak Stev, ayo ikut Vira kak." Vira menarik tangan Steven menuju ke tempat Bella dan Billa yang sedang menangis di depan kamar rawat, baju Billa penuh darah.
"Ada apa ini?" Stev meletakan makanan, memeluk Bella dan Billa yang menangis sesenggukan.
"Winda di dalam kamar rawat, kepalanya mengeluarkan darah, Billa sudah obati, tapi darah tidak ingin berhenti, terus Winda meringis sakit kepala, lalu pingsan." Billa tangannya gemetaran, menjelaskan kepada Steven.
Mereka sudah berusaha untuk menghubungi keluarga, tapi tidak ada yang menjawab. Akhirnya mereka meminta bantuan penjaga mencari taksi langsung ke rumah sakit.
Vira sudah berkeliling setiap lantai rumah sakit mencari kedua orang tuanya, tapi tidak ada. Ketiganya sangat ketakutan jika terjadi sesuatu, mereka tidak bisa menolong Winda yang kepalanya terluka.
Steven meneteskan air matanya, langsung menghubungi Wildan ternyata nomornya tidak aktif. Papi juga tidak ada jawaban, Stev menghubungi Bisma yang biasanya bermain game langsung mendapatkan jawaban.
__ADS_1
Stev mengatakan soal keadaan Winda, meminta untuk tenang, berbicara dengan Bima secara perlahan untuk menemuinya di lantai tempat Winda yang sedang ditangani dokter.
Bisma langsung permisi kepada semua orang, menarik Bima untuk keluar bersamanya.
"Ada apa Bisma?"
"Ikut saja, jangan khawatir dulu." Bisma berlari bersama Bima menuju lantai yang Steven jelaskan.
Bima kaget melihat Vira menangis, Bella langsung memeluk Ayahnya menangis ketakutan.
"Ada ini Stev?"
"Winda dirawat Papi, tapi dokter belum keluar. Steven mengulangi penjelasan anak-anak, kepala Winda berdarah." Stev mengusap punggung Bima.
"Sudah jangan menangis lagi, Winda gadis kecil Papi yang kuat." Bima langsung memeluk Vira yang meminta maaf tidak bisa menjaga adik-adiknya.
"Kenapa Winda bisa terluka Billa?"
"Menolong kak Windy yang hampir jatuh pingsan, berhasil menangkap kak Windy, tapi kakinya tergelincir di tanggan taman langsung jatuh. Kaki Winda juga bengkak besar sekali Ayah, Billa sudah mengompres dengan air dingin, tapi semakin besar." Billa menutup wajahnya menangis, merasa bersalah melihat adiknya terluka.
Bisma memeluk kedua putrinya untuk tidak mengkhawatirkan Winda, meskipun dia yang paling kecil anaknya sangat kuat sama seperti Windy.
Steven diminta kembali lebih dulu, tidak mengatakan apapun kepada Reva dan Windy. Bima akan menunggui putrinya.
Stev menganggukkan kepalanya langsung melangkah kembali ke kamar Windy, tersenyum melihat Windy yang mencium tangannya.
Reva masih asik tertawa melihat Wira di dalam boks bayi, tatapan Stev terarah kepada Wildan yang memegang dadanya.
"Kenapa kamu Wil?"
"Tidak kak, dada Wil dari tadi sakit. Mungkin mengkhawatirkan kak Windy." Wildan tersenyum, menghidupkan ponselnya, mengusap dadanya.
"Winda." Reva langsung melangkah keluar mencari Bima untuk menjemput putrinya, saat Wildan merasakan dadanya tidak nyaman, pasti ada sesuatu kepada putrinya, begitupun sebaliknya.
"Mam, ayo masuk."
"Ke mana Papi, minta supir membawa Winda ke rumah sakit." Reva duduk di luar meminjam ponsel Stev, karena ponselnya tertinggal.
Steven hanya duduk menemani Reva yang menghubungi Bima, tapi tidak mendapatkan jawaban.
Pesan dari Bima masuk mengatakan Winda akan di operasi, karena kehilangan banyak darah. Kepalanya terbentur kuat, juga ada pembekuan darah. Bima meminta dirahasiakan dari Reva.
__ADS_1
Air mata Reva menetes, menjatuhkan handphone Stev langsung berlari untuk melihat putrinya. Steven langsung mengejar Reva yang memukul tombol lift.
***