MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 MENGUNGKAP


__ADS_3

Sepulang bekerja Ar menemani Winda untuk jalan-jalan berkeliling pusat perbelanjaan, membeli pakaian, karena Winda tidak membawa banyak pakaian.


Winda tidak menyadari sepanjang berkeliling mall mereka saling menggenggam, Winda membeli baju, kosmetik, tas, high heels dengan harga yang tinggi.


Tatapan Winda tajam, melihat Ar membelikan untuk ummi juga agar tidak ada kecemburuan terhadap ibu dan istri.


"Winda, belikan ini untuk ummi. Kamu juga pilihkan beberapa baju untuk Aisyah, dia juga datang tidak membawa banyak barang." Ar memilih baju, memberikan kepada penjaga.


"Saya menginginkan semua baju di sini, di sana juga, itu semuanya di bungkus. Bayar menggunakan kartu ini." Winda menyerahkan kartu Ar langsung melangkah pergi.


Ar langsung meminta penjaga untuk mengurus soal pesanan Winda, cepat Ar berlari menahan tangan Winda.


Tepisan tangan Winda kuat, melukai wajah Ar sampai berdarah. Winda tidak perduli langsung memberhentikan taksi, Ar menahan untuk pulang bersama.


"Winda."


Mata Winda terpejam, mendengar Ar memperhatikan Ais membuatnya panas hati Winda.


"Menyebalkan sekali kamu Ar." Winda meminta taksi berhenti di tempat mobil sewaan, Winda ingin pergi ke suatu tempat.


Selesai bertukar mobil Winda langsung melaju ke tempat yang dicarinya, mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di lokasi Winda langsung berjalan melihat sekitar, menunjukan beberapa foto kepada orang-orang yang lalu lalang di sekitar.


"Eliza, benar kamu juga mencari kunci dan saksi kejadian yang menimpa aku." Wildan langsung berlari mengikuti Liza yang mengetuk pintu seseorang.


Melihat Liza yang pergi tanpa hasil membuat Winda mengerutkan keningnya, karena Liza tidak mendapatkan hasil apapun.


Winda mengetuk pintu kembali, seseorang keluar, sangat terkejut melihat Winda yang muncul dihadapannya.


"Melihat dari ekspresi kamu, aku bisa menebak jika mengenal aku dengan baik."


"Kenapa kamu ada di sini? sudah aku katakan jangan pernah muncul Winda."


"Aku datang untuk membalas dendam, pelakunya harus membusuk di penjara." Winda langsung melangkah pergi.


"Eliza ada di sini, jangan sampai kalian bertemu."

__ADS_1


"Kami tinggal satu rumah Riska, aku menikahi putranya." Winda tersenyum, melangkah masuk ke dalam rumah sederhana.


"Kamu gila, dia wanita jahat Winda. Siapa putranya?" Riska meminta Windy duduk, mendengar cerita.


Winda menceritakan semuanya, soal hubungan keluarganya dan suaminya. Riska tidak percaya jika Windy nekat menikahi putra wanita yang menghacurkan hidupnya.


"Kejadian hari itu membunuh sekitar hampir sepuluh orang Win, hanya ada tiga orang yang berhasil keluar. Kamu, aku juga Lili yang sekarang dirawat di rumah sakit jiwa. Semuanya bukan salah kamu, kematian mereka bukan salah kamu, tapi pemilik Bar yang membunuhnya bahkan kami para pelayan juga hampir celaka. Winda aku mohon jangan datang lagi ke sini, aku tidak ingin berurusan dengan kamu." Riska meminta Winda pergi, menutup kasus yang Winda selidiki.


Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah pergi untuk pamitan. Winda meletakan kotak kado untuk anak Riska.


"Maafkan Winda, terimakasih sudah hidup dengan baik. Aku tidak akan berkunjung lagi." Winda langsung melangkah pergi, meninggalkan rumah sederhana sambil tersenyum.


Winda berjanji akan menuntut keadilan untuk sepuluh orang yang menjadi korban, juga membalas luka Lili yang menjadi gila, karena menjadi korban pelecehan.


"Aku akan mengungkap kembali' kejadian lama, kalian harus bertanggung jawab." Winda meneteskan air matanya melihat banyak darah, ingatan soal darah, membuat Winda ingin muntah.


***


Ar mondar-mandir di depan pintu menunggu Winda pulang, ponsel Winda tidak aktif membuat khawatir.


"Kak, ayo duduk. Ais akan membuatkan minum."


Winda tiba di villa, langsung melangkah masuk. Ar langsung mengejar Winda untuk masuk ke dalam kamar, teriakan Mami dan Ais tidak dipedulikan.


"Kamu dari mana Win?"


"Bekerja, mulai hari ini aku akan mengumpulkan bukti sebuah kasus pelecehan. Kamu jangan coba-coba menghentikan." Winda langsung membuka bajunya untuk mandi.


Ar tidak melarang apapun, tapi jika berbahaya Ar tidak akan membiarkan Winda bertindak.


Pintu kamar mandi terbuka, Ar mengambil baju mematikan air shower menutupi tubuh Winda.


"Kasus apa? jika kamu ingin bertidak setidaknya cerita. Aku tidak akan membiarkan kamu melakukan sesuatu yang berbahaya." Nada bicara Ar mulai naik.


Winda mengerutkan keningnya, tatapan mata Ar menunjukkan jika dia mengetahui apa yang sedang Winda selidiki.


Tangan Winda, menahan kerah baju Ar yang menghindari tatapan mata Winda.

__ADS_1


"Lihat aku dengan jelas, kamu tahu soal apa yang aku selidiki? sudah aku katakan, dengan menatap mata aku bisa membaca pikiran kamu." Winda berteriak, Ar langsung ingin melangkah pergi, tapi Winda menahan kuat.


"Jawab, jangan coba berbohong. Jika kamu ketahuan berbohong, aku tidak akan memaafkan kamu. Katakan?" Winda mendorong Ar ke arah dinding, mata keduanya beradu pandang saling mengintrogasi.


"Aku tidak ingin menjawabnya Winda, tapi jika apa yang kamu lakukan membahayakan, maka maafkan aku harus bersikap tegas.


"Bajingan kamu Ar." Winda mencengkram kuat lengan Ar, kukunya menancap membuat darah keluar.


"Aku bukan bajingan, tapi aku lelaki yang sangat mencintai kamu. Winda apa yang aku lakukan demi kebaikan kamu, sungguh semuanya demi kamu." Tangan Ar mengusap wajah Winda.


"Aku akan menangkap mereka, hidup aku tidak akan tenang jika belum memenjarakan mereka." Winda menatap tajam, mendorong Ar sampai terjatuh.


"Kamu menikahi aku hanya sebatas balas dendam?" Ar berusaha untuk berdiri.


Senyuman Winda terlihat, sejak awal sudah Winda katakan jika dirinya tidak mencintai, seandainya Winda tahu jika Ar bagian dari Prasetya tidak mungkin mereka menikah.


Winda tidak butuh cinta, tujuan Winda hanya mengungkap kejadian sepuluh tahun yang lalu baru hidupnya akan tenang.


Dada Ar terasa sesak, langsung melangkah keluar meninggalkan Winda sendirian. Kebaikan, sikap lembutnya tidak mengubah sedikitpun.


Hal apa yang membuat kita Winda membencinya? apa hanya karena dia anak dari wanita yang menyakitinya?


Meskipun Ar tidak bisa menjadi lelaki yang Winda harapkan, tapi cintanya terhadap tulus tanpa syarat.


Besarnya rasa cinta Ar tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, tapi semuanya tidak mengubah perasaan Winda yang semakin membencinya.


Semalaman Ar hanya duduk diam di dalam ruangan kerja, masih merasakan sesak di dadanya mendengarkan pengakuan Winda.


"Ikhlas Ar, berjuang tidak semudah membalik telapak tangan. Jika hari ini membenci mungkin besok membaik." Senyuman Ar terlihat, ingin melupakan kejadian pahit yang baru saja terjadi.


Winda berdiri di depan pintu ruangan Ar, memegang handle pintu karena takut tidur sendirian.


Ar juga berdiri di depan pintu, ragu ingin tidur bersama Winda, tidak ingin menganggu.


Pintu terbuka secara bersamaan, Winda langsung teriak memeluk Ar kuat. Sikap Winda yang penakut dengan hal horor tidak bisa menahan diri.


"Kamar mandi mati, air shower juga mati. Di sini ada hantu." Winda langsung memeluk erat tidak ingin melepaskan.

__ADS_1


"Hantu, mungkin aku hantunya. Sebaiknya menjauhi jangan dipeluk nanti semakin takut." Ar melepaskan Winda.


***


__ADS_2