
Mobil Steven melaju kembali, tapi tiba-tiba truk besar juga maju, menghantam mobil Steven. Dia berusaha untuk menghindar, tapi tubuhnya langsung terlempar keluar mobil.
Steven lebih beruntung tidak ada mobil lain yang melaju, tatapan mata Steven langsung gelap masih berusaha untuk duduk, mobilnya hancur hampir tidak berbentuk.
Sebuah mobil kecil melaju dengan kecepatan tinggi, tubuh Steven langsung ditarik ke pinggir jalan. Steven pingsan, langsung dilarikan ke rumah sakit.
Seseorang menunggu Steven di ruang tunggu, berharap Stev baik-baik saja. Berkali-kali selalu memperingati Steven untuk berhati-hati.
Perasaan tidak enaknya terjawab, Steven memang berada dalam bahaya. Mengirimkan anak buahnya untuk melihat pergerakan Stev yang ternyata memang sedang dalam bahaya.
Seorang Dokter keluar, mengatakan Steven baik-baik saja, dia hanya harus di rawat sementara untuk melakukan pengecekan seluruh tubuh, Dokter hanya ingin memastikan tidak ada luka dalam.
"Pasien akan segera pindah ke ruangan rawat inap, silahkan menemuinya di sana." Dokter langsung pamitan.
Ponsel Steven memperlihatkan pesan dengan seorang wanita, mungkin pacar Steven, langsung melakukan panggilan untuk mengabarinya, tapi berkali-kali tidak mendapatkan jawaban.
"Sebenarnya kamu punya pacar tidak? percumah punya wajah tampan, tapi jomblo."
"Bukan urusan kamu." Steven langsung merampas ponselnya, layar ponselnya sudah retak.
"Kak kenapa begitu membenci aku? padahal kita bersaudara, di dunia hanya sisa kita berdua."
"Aku hanya hidup seorang diri!" Steven berusaha untuk berdiri, memalingkan wajahnya.
"Kejam sekali, padahal aku yang menyelamatkan kamu, seharusnya ucapkan kata terima kasih Steven." Stevero menarik kerah baju Steven.
"Lebih baik aku mati dalam kecelakaan, dari pada harus mengucapkan terima kasih." Steven menatap Vero tajam, memintanya segera keluar.
Vero menatap tajam langsung menendang kursinya, melihat Steven yang meringis memegang dadanya. Vero melangkah pergi, tapi langsung balik lagi.
"Siapa Windy? jangan jelaskan, aku akan mencari tahu soal dia, sepertinya dia akan menjadi mainan baru." Vero mengedip matanya kepada Steven, langsung melangkah pergi.
Steven memejamkan matanya, berusaha untuk duduk melihat sesuatu yang Vero tinggalkan di meja. Steven membuangnya begitu saja, seadanya Stevero mengikuti keinginan Steven untuk berhenti mengelola bisnis seorang koruptor yang selalu menipu banyak orang, mungkin hubungan keduanya tidak akan seburuk ini.
***
__ADS_1
Windy melihat ponselnya, ingin melakukan panggilan untuk Steven, tapi tidak ingin mengganggu, Windy hanya penasaran mengapa Om Bule menghubunginya.
Seseorang berdiri memperhatikan Windy, mata Windy dan Vero bertemu, tatapan Windy tajam, melihat lelaki yang menatapnya sambil senyum-senyum tidak jelas.
Windy melangkah mendekati Vero, melipat kedua tangannya. Vero langsung tertawa, lucu melihat kakaknya mencintai wanita ABG, sedangkan Steven lebih dari 30 tahun.
"Sudah gila, jika gila jangan di sini, lurus, belok kanan, belok kiri, sampai." Windy tersenyum sinis.
"Sampai mana?" Vero menatap Windy balik.
"Jembatan, langsung lompat, mati tidak menyusahkan hidup orang lain." Windy langsung melangkah pergi, tangannya langsung ditahan oleh Vero.
"Jangan sentuh Windy!" Vero kaget melihat Windy memutar tangannya.
"Windy stop, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu, setelahnya aku akan pergi." Vero mengusap tangannya yang sakit.
Vero mengeluarkan ponselnya, menunjukkan keadaan mobil Steven. Windy langsung menatap tajam, ingin melayangkan pukulan, tapi Vero berhasil menangkis, menahan tangan Windy.
"Bukan aku pelakunya, Steven sekarang di rawat di rumah sakit." Vero langsung melepaskan Windy, langsung melangkah pergi.
Windy menghubungi Steven, tapi sudah tidak aktif lagi. Mobil Windy melaju dengan kecepatan tinggi, jantungnya berdegup kencang berharap Steven baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit, Windy langsung berlari menuju kamar yang sudah Vero tulis. Sampai di depan pintu kamar Steven, Windy tidak langsung masuk, melihat Steven yang masih duduk diam, matanya terpejam, berkali-kali menghela nafasnya.
Windy mengetuk pintu, langsung masuk mendekati Steven yang juga sudah menatapnya. Steven tersenyum, memperlihatkan jika dirinya baik-baik saja.
"Win, kenapa kamu bisa ada di sini?" Steven menatap Windy yang melihat banyaknya luka Steven.
"Kenapa bisa seperti ini Om? maafkan Windy tidak menjawab panggilan Om." Windy duduk menatap Steven.
"Jangan dipikirkan, ini kesalahan Om yang tidak konsentrasi, tidak berhati-hati sampai akhirnya kecelakaan." Steven tersenyum melihat Windy.
Windy tidak banyak tanya, terutama soal lelaki yang memberitahunya soal keadaan Steven, Windy membiarkan Steven tidur beristirahat, Windy yang akan menjaga selama Steven di rumah sakit.
Steven masih tinggal di rumah sakit, Windy setia menunggu, bersama Wilo, terkadang ada Lukas, Steven banyak diam, Windy juga lebih pilih diam mengerjakan desain bajunya.
__ADS_1
Steven terbangun melihat Windy tidur di sofa, Steven mengambil laptop yang dia minta Windy mengambilnya di apartemennya.
Steven melihat beberapa bukti soal kecelakaannya, Steven melihat rekaman di daerah apartemen. Dia sudah diikuti dari jauh, beberapa kepolisian mulai menyelidiki, Steven menuntut supir yang menabraknya.
Beberapa bukti Steven serahkan beberapa orang yang terlibat, Steven mengumpat kasar, masih orang yang sama, Steven pasti akan memasukkannya dalam penjara, dengan tuntutan yang berat.
Windy terbangun, langsung mendekati Steven mengambil laptop, langsung meletakkan di meja. Steven terdiam menatap Windy.
"Tidur Om, setelah sehat terserah Om ingin melakukan apa, tapi sekarang pulihkan dulu tubuh Om." Windy berbicara dengan nada yang sangat dingin, Steven hanya berdehem, langsung berbaring memejamkan matanya.
Windy duduk menunggu Steven yang mulai terlelap, luka sudah mengering, tapi masih banyak luka memar. Windy tidak mengerti kehidupan seorang pengacara yang ternyata berbahaya, atau Steven saja yang suka memperumit masalah, membahayakan dirinya.
***
Suara pertengkaran anak-anak terdengar, Steven membuka matanya melihat seorang anak kecil cantik duduk di ranjang tidurnya sambil cemberut. Winda mengelus wajah Steven mendoakannya cepat sembuh, bercerita jika dia selalu salah.
"Hallo Uncle, aku Winda wanita paling cantik selain Mami, sama kak Windy juga. Hmmmzz Mommy Vi juga cantik, Bunda Jum juga cantik, Vira, cantik, Bella, Billa juga cantik, kami keluarga cantik." Winda tersenyum melihat Steven sudah bangun.
"Jadinya kamu cantik nomor ke berapa? terakhir." Steven tersenyum.
"Emmhhhh, pertama tapi diam-diam ya Uncle, nanti Bella marah, Vira lebih marah lagi." Winda tersenyum menutup mulutnya, giginya yang ompong membuat Steven menahan sakit perut ingin tertawa lepas.
"Kenapa kamu bisa ompong?" Steven sekuat tenaga menahan tawa.
"Kata Mami gigi Winda ganti yang baru, jadi ompong dulu, menunggu tumbuh." Winda menunjukkan giginya.
"Memangnya gigi kamu ganti dengan gigi ikan, atau ayam."
Winda terdiam sedang berpikir, melihat kakaknya Wildan yang duduk dipojokan sedang membuka komputernya.
"Gigi ikan seperti apa Uncle? ada tulang tidak? Winda ingin ganti gigi ular kak Ravi saja." Winda meminta penawaran.
Steven tertawa kecil, membayangkan gigi ular. Seram sekali putra Viana Arsen yang memelihara ular.
***
__ADS_1