MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 ANGELA


__ADS_3

Sesampai di rumah Bima sudah menunggu di depan pintu, melihat Steven dan Vero pulang mandi hujan. Vero menatap Bima langsung menundukkan kepalanya.


"Masuk kamar sekarang, langsung ganti baju." Bima menatap dingin Vero dan Steven yang langsung masuk ke dalam kamar.


Bima duduk di ruang tamu, Reva menepuk pundak suaminya memeluk erat dari belakang.


"Ayy, Reva takut jika suatu hari Windy marah, walaupun kita menutupi semuanya demi kebaikan, tapi tidak ada yang baik tanpa kejujuran." Reva mengeratkan pelukannya.


"Iya sayang, biarkan mereka tahu secara perlahan, tugas aku berusaha untuk melindungi mereka." Bima mencium pipi Reva.


"Kita beristirahat sekarang, atau sholat malam?" Reva memeluk lengan Bima menuju kamar mereka.


Wildan juga terbangun saat Maminya masuk kamar mencium keningnya. Wildan membuka tabletnya melihat penemuannya soal kecelakaan yang menimpa Steven dan keluarganya.


"Dia bukan kak Windy atau satu nama beda orang, siapapun kalian yang ingin menyingkirkan kak Win, tidak akan Wil biarkan." Wildan masuk ke dalam kamarnya.


Steven duduk di sofa, meminta bantuan Tegar mencari keberadaan Britania. Mungkin dia mengetahui sesuatu, Steven tidak bisa menghubungi Tegar membuat keningnya berkerut.


"Kak mandi dulu." Vero menatap Steven yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Ponsel Steven berbunyi, Vero langsung mengambilnya menjawab panggilan dari rekan kerja kakaknya. Vero langsung terduduk handphone langsung terjatuh begitu saja, jantungnya berdegup kencang.


Steven di kamar mandi berendam, memejamkan matanya, memijit pelipisnya. Hampir satu jam barulah Steven keluar melihat Vero duduk di lantai, handphone juga terjatuh.


Tangan Steven ingin mengambil ponselnya, tapi Vero langsung menahannya, menatap tajam Steven yang tetap memaksa untuk mengambil handphonenya.


Mata Steven terbuka lebar, kaget mendapatkan pesan Tegar meninggal dibunuh orang yang tidak diketahui, tangan Stev bergetar.


"Vero, sekarang juga kak Stev kembali. Kamu jaga Windy, kabari kak Stev saat kalian kembali." Steven langsung mengambil paspor dan identitas lainnya.


"Kak Stev." Vero menghela nafasnya.

__ADS_1


Steven mengetuk pintu kamar Bima, Reva langsung membuka melihat Stev menggunakan jaket. Bima menatap Stev penuh tanda tanya. Steven menjelaskan jika dia harus kembali, salah satu temannya meninggal.


"Steven, jangan pergi. Kamu tidak bisa bertindak terburu-buru." Bima keluar meminta Steven mengikutinya.


"Kak Bim, bukan Stev terburu-buru, Tegar orang yang Stev kirim untuk mengetahui penyebab ditutupnya kasus juga pemecatan Angela. Dia meninggal sebelum memberikan laporan apapun." Steven berjalan di belakang Bima.


"Stev, orang yang ingin kamu korek informasi bukan orang sembarang. Kamu tidak bisa bergerak sendiri, mengungkap kejahatan Mikel hanya sia-sia, kalian tidak akan mendapatkan apapun." Bima membuka pintu ruang kerjanya.


"Dia meninggal atas perintah Steven."


"Siapa yang mengabari kamu? kamu mengenal mereka? sudah berapa lama kamu menjadi pengacara?" Bima menatap tajam.


Steven terdiam dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, terlalu banyak yang dia kejar, konsentrasi buyar, apapun salah, tidak ada titik terang, kebenaran yang Stev cari memiliki banyak teka-teki.


"Berapa lama kamu bekerja sebagai pengacara? mental kamu lemah Stev, baru digoyang sedikit kamu sudah hampir tumbang."


"Stev tidak tahu kak."


"Dari awal sudah dikatakan, jika kamu belum siap jangan. Kenapa memaksa? Steven harta tahta kekuasaan jauh lebih kuat dari sebuah kebenaran." Bima mencengkram tangan Stev.


Saka juga mendapatkan kabar yang sama, sudah kembali lebih dulu ke markas, menghentikan penyelidikan kepada Mikel, tapi belum bisa mencari tahu soal Tegar.


Bukan hanya Steven dan Saka yang mendapatkan kabar, Bagus juga mendapatkan kabarnya. Bahkan sudah diteror mengirimkan tulisan mati, meminta Bagus mundur meninggalkan kasus yang sedang dia selidiki jika ingin hidup.


"Masih ingin kembali tanpa penjelasan, saat kamu keluar dari sini beberapa meter sudah ada tabrakan. Stev kekuasaan bisa mengendalikan jarak, harta bisa membuat semuanya terkendali."


"Apa yang harus Stev lakukan, sepertinya mereka akan mulai menyakiti keluarga kak Bima."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan anak dan istri kak Bim, mereka aman dalam perlindungan kak Bima."


Bima menghidupkan layarnya menunjukkan foto Mikel, Steven menatap Mikel yang terlihat sangat tua, menunjukkan foto Angela yang sangat cantik, seksi, bahkan wajahnya awet muda.

__ADS_1


Stev mendengarkan cerita Bima soal Angela dan Brit, dua wanita yang menginginkan hidup mewah. Angela berusia 17 tahun, dia putri seorang pengacara hebat. Bukan Angela yang melawan Stevie, tapi Ibu Angela. Nama anak dan Ibu sama-sama Angela.


"Steven binggung kak Bim, Angela ada 2 Ibu dan anak. Berarti Angela kecil menggunakan identitas Ibunya."


"Iya, dia membunuh Ibunya, tapi indentitas yang meninggal dirinya. Tidak banyak yang mengetahui identitasnya yang dinyatakan melakukan operasi, tapi ini kebenaran, Angela berbahaya. Setiap orang yang mengetahui tentang dia pasti terbunuh salah satunya orang tua Vero, Stevie dan kak Bim."


Steven menatap Bima yang memejamkan matanya, Stev meletakkan kepalanya di meja kerja Bima, menggenggam erat tangan memukul meja pelan.


"Kamu tidak penasaran, kenapa kak Bim satu-satunya orang yang masih hidup?"


"Karena kak Bima memiliki kekuasaan, harta dan tahta juga kebenaran." Steven tersenyum melihat Bima.


"Tapi aku tidak bisa mengungkap kematian Stevie, dia berpulang tanpa keadilan. Semua barang bukti kecelakaan hilang, seluruh orang yang terlibat juga meninggal. Aku sudah berusaha menggunakan segala cara, tapi terkadang kak Bima harus mundur demi banyak orang di belakang kak Bim, tidak bisa mengorbankan lebih banyak orang lagi." Bima mengakui jika dia kalah melawan Mikel dan Angela, dia melarikan diri memilih bahagia seorang diri, meninggalkan semuanya terkubur tanpa keadilan.


"Kak, putri mereka juga meninggal bersama dalam kecelakaan, berarti ...."


"Iya, dia meninggal, di sana aku paling hancur Stev, aku ingin menghukum mereka semua, tapi aku tidak bisa melakukan apapun, sudah kak Bim katakan ada yang lain harus kak Bim lindungi. Tolong jangan kamu bahas soal Windy, dia tidak ada sangkut-pautnya dengan Mikel."


Steven diam, melihat mata Bima yang berkaca-kaca. Steven mengungkit kembali soal putrinya yang meninggal bersama keluarga Steven.


"Maafkan kak Stevie soal dia kak?"


"Kak Bim yang ingin minta maaf, memilih hidup bahagia, membiarkan kamu tanpa keluarga."


"Kak Bim, berikan Steven kesempatan untuk menangkap Angela. Dia harus bertanggung jawab atas kematian kak Stevie dan banyak orang lainnya."


Bima menepuk genggaman tangan Steven, Bima memberikan izin Stev mengungkap semuanya, sebelum Stev memulai, dia harus mengikhlaskan kepergian keluarganya, tidak bertindak sendiri, juga tidak membahayakan dirinya.


Steven tersenyum berjanji mengikhlaskan kepergian Kakaknya, akan fokus tidak akan goyah lagi, tidak perduli seberat apa jalan di depan, Steven akan berjuang sampai ke ujung jalan.


***

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2