MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TIBA DI BALI


__ADS_3

Dokter sudah mengizinkan Windy untuk pergi, persiapan keberangkatan juga sudah dibawa ke bandara.


Windy pergi bersama Stev diikuti oleh Tian, Ravi, Erik, Vira, twins B juga twin W. Keberangkatan sangat santai demi keamanan Windy, bukan hanya Steven yang berjaga, tapi Ravi, Tian Erik juga siap berjaga.


Pesawat akhirnya terbang, sepanjang perjalanan Windy tidak tidur karena melihat awan di atas pesawat.


Stev juga tidak tidur, sesekali melirik anak-anak yang sudah terlelap.


Tangan Steven menggenggam jari jemari Windy, tersenyum menatap istrinya yang sangat cantik meskipun pemalas mandi.


"Nanti jangan nakal, kita bukan liburan." Steven mencium kening Windy lembut.


senyuman Windy terlihat, dia juga ingin bersenang-senang, tapi juga tidak ingin jika kandungannya terjadi sesuatu.


Beberapa jam di pesawat akhirnya Stev dan rombongan tiba di Bali, mobil sudah menunggu mereka langsung menuju hotel tempat pernikahan.


Tatapan mata Bella tajam melihat hotel tempat menginap ternyata milik perusahaan BB, Tian langsung merangkul pundak Bella yang melangkah masuk.


"Kak Tian, nanti Bella ingin menikah di hotel ini."


"Iya, cari dulu pasangannya."


Saka tersenyum menyambut Steven sekeluarga, Paman Sam juga langsung merangkul Steven memperkenalkan dengan adiknya Saka yang masih kecil.


Vero sekeluarga juga sudah sampai dan beristirahat di lantai atas khusus tamu undangan dari pihak keluarga, Stev juga langsung ingin ke kamar karena ingin Windy harus istirahat.


Di dalam kamar Windy melihat ke arah luar bangunan mengusap perutnya yang mulai terlihat besar, Winda sedang mandi sambil bernyanyi.


"Winda ayo cepat dek." Windy berteriak.


Winda langsung berlari, di rambutnya penuh busa sabun. Windy menatap tajam meminta Winda mempercepat mandinya.


Teriak terdengar, Windy meminta Bella, Billa dan Vira masuk. Ketiganya sudah mandi dan duduk manis.


"Kalian bertiga sudah bulanan belum? ingat jika sudah halangan jangan dekat-dekat dengan sembarang lelaki, gunakan baju yang sopan, jaga sikap." Windy mengingatkan ketiga wanita yang semakin cantik.


"Vira udah, Bella Billa juga, tapi Winda belum. Berarti dia masih anak kecil." Vira tertawa melihat Winda keluar kamar mandi dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Tidak akan lama lagi, kalian berempat sudah remaja, Wildan saja sudah lompat kelas berkali-kali."


"Kita juga lompat kelas, guru selalu menghukum dijemur tiang bendera, cuci WC, jalan jongkok, lompat-lompat, angkat kaki. Tidak ada perubahan dari zaman ke zaman." Vira menggelengkan kepalanya, menggunakan lipstik yang berwarna merah.


"Memangnya seharusnya guru menghukum apa?" Windy menahan tawa.


"Kalian sebaiknya pulang! pasti enak sekali bisa main sepuasnya." Bella tertawa diikuti yang lainnya.


Windy meminta Vira mendekat, menghapus lipstik merah. Memberikan lip balm agar bibir Vira tidak kering. Dia masih muda, jangan mirip Tante-tante girang.


"Ingat pesan kak Win, jangan pernah pacaran apalagi dekat dengan lelaki. Berbahaya, kalian bisa hamil seperti kak Windy. Jika kak Win sudah boleh, karena sudah menikah." Windy mengusap perutnya.


Vira, Bella, Billa dan Winda terdiam mendengar ucapan Windy, langsung merinding menaikan bulu kuduk.


***


Steven ada di lantai bawah bersama Saka mengobrol berdua soal pernikahan, Ghina juga ada mempertanyakan Windy yang sedang beristirahat.


"Kenapa dengan Windy Stev?"


"Kamu yang muntah-muntah Stev? aneh sekali." Saka menatap tajam.


"Hal biasa seperti itu, nikmati saja Stev setidaknya kamu bisa meringankan sedikit beban seorang ibu yang sedang mengandung." Ghina tertawa, merasa lucu dengan ekspresi Steven.


"Jangan tertawa, nanti kalian berdua bisa merasa bertapa tidak nyamannya pagi hari harus muntah, tapi aku bahagia karena bisa merasakan moments langka." Steven tertawa, langsung mengambil Mei yang minta digendong.


Suara canda dan tawa masih terdengar hebohnya di lantai satu, Steven langsung pamit ingin mengecek keadaan Windy. Saka dan Ghina langsung ikut ingi menyapa.


Di dalam lift Stev tersenyum melihat Saka yang merapikan rambut calon istrinya, playboy yang terkenal suka gonta-ganti wanita akhirnya akan segera menikah.


"Jujur aku bahagia untuk kalian berdua, harus hidup harmonis bahagia selalu." Steven merangkul Saka yang tersenyum memeluk pinggang Ghina


Steven membuka kamar, menatap Windy yang sedang tertidur.


"Kalian berdua tunggu di sini, aku ingin mengecek kamar sebelah." Steven langsung melangkah ke kamar sebelah, melihat Vira, Winda, Bella dan Billa sedang terlelap tidur.


Windy terbangun merasakan sentuhan Ghina, tersenyum langsung berpelukan.

__ADS_1


"Maaf ya tadi kamu datang aku tidak menyambut." Ghina menatap sedih.


"Memangnya siapa aku sampai harus disambut kak, Windy bisa datang saja senang, soalnya Ay Stev sempat melarang aku untuk pergi." Windy memasang wajah cemberut.


"Wajar Win, namanya juga khawatir, apalagi ingin menyambut anak pertama, pasti sangat sensitif. Jika aku juga akan melakukan hal yang sama." Saka memainkan ponselnya sambil menunggu Steven.


"Iya, sebenarnya aku juga ada rasa takut, sejak sempat keguguran."


"Bismillah saja Win, diberikan kesehatan sudah suatu anugerah. Pokonya yang utama harus sehat, ibu sehat anak juga sehat.


Steven muncul, langsung merangkul Windy mempertanyakan keadaan kandungan Windy.


"Ay dari mana?"


"Mengecek anak gadis, Ravi Erik sedang keluar mencari makanan, Wildan ada di kamar kalau Tian sedang menemui pihak hotel." Steven mejelaskan agar tidak ada kekhawatiran Windy.


"Stev kita keluar saja, kalian harus Istirahat. Tidak masalah jika besok keluarnya siang, jangan menangis jika makanan habis." Saka tertawa mengejek Steven dan Windy.


Suara Windy besar meminta disisakan es krim, daging, sate. Saka dan Ghina hanya tertawa mendengarkan keinginan bumil.


"Sayang Ay mandi dulu, nanti makanan malam datang. Kita makan di kamar saja bersama yang lainnya." Steven langsung cepat mandi, karena tubuhnya lelah seharinya perjalanan.


Windy tertidur kembali, karena keluar kamar tidak diizinkan tidur menjadi pilihan terbaik.


Selesai mandi, Stev langsung memeluk tubuh istrinya yang sudah terlelap tidur. Ikutan memejamkan matanya untuk segara tidur menghilangkan sedikit rasa lelah.


"Sehat terus anak Daddy, kita bertemu nanti ya nak. Selamat bobo Mommy, selamat bobo anak kesayangan Daddy." Mata Stev terpejam, tangannya mengusap perut istrinya yang sudah terasa mulai menggemuk.


Tidur Windy mulai tidak tenang, tubuhnya sakit semua juga mulai merasakan lelah, melihat wajah suaminya yang baru saja beristirahat tidak tega, akhirnya Windy memijit tubuhnya sendiri.


Suatu kebahagiaan bisa hamil, tapi prosesnya tidak semudah yang orang bayangkan. Senyuman Windy terlihat memotret perutnya, sungguh membuat Windy sangat bahagia.


"Mommy akan kuat agar kamu bisa lahir ke dunia ini, melihat indahnya dunia yang menyimpan banyak kebahagiaan. Nanti kamu harus sekuat Daddy, menjadi sumber kebahagiaan kami." Usapan tangan Windy terus mengelus perutnya, seakan-akan sedang mengobrol dengan anaknya.


***


Ada sedikit cerita Saka dan Ghina yang singkat, baru balik lagi ke Windy Stev bulan ini tamat lanjut season Winda.

__ADS_1


__ADS_2