
Steven membangunkan Windy, mereka sudah tiba di kantor polisi, Windy menguap memeluk lengan Steven langsung melangkah masuk.
"Stev, apa kabar?"
"Baik pak, terima kasih bantuannya." Steven bersalaman dengan kepala kepolisian.
Semuanya menyapa Steven, cukup kaget melihat Vero juga bersama Steven.
"Kenapa bocah tengil ini bisa bersama kamu Stev?"
"Dia adik saya pak, jadi dia harus bersama saya, kasus ini akan berakhir tanpa melibatkan Vero."
"Baiklah Stev, kita hanya harus maju satu langkah lagi."
Steven menggagukan kepalanya, melihat lima belas tersangka sudah tertangkap, Stev meminta Vero dan Windy tetap di dalam ruangan, dia langsung turun langsung.
"Ver, selama ini kamu menjadi tangan kanan perusahaan mereka, tidak mungkin tidak mengenali pimpinannya?" Bagus menatap Vero.
"Tidak, jika aku tahu mungkin sudah mati bersama kedua orangtuaku." Vero menatap tajam, melihat belasan orang yang terlibat.
Windy menatap Vero sedih, menepuk pundaknya menguatkan. Windy tahu rasanya ingin hidup bersama keluarga yang utuh.
"Di antara mereka semua, tidak ada satupun yang mengenal pimpinan utama." Vero menghela nafas.
"Memangnya pimpinan utamanya siapa, Uncle Bisma selalu mengatakan musuh sebenarnya tidak terlihat, tapi dia sangat dekat. Bisa jadi seseorang yang setiap hari bertemu." Windy melihat beberapa barang bukti yang ditayangkan.
Beberapa ciri-ciri pimpinan di kumpulkan, Steven diam berdiri coba menerima setiap keterangan. Stev bahkan tidak ingin menatap Tegar, hatinya kecewa, seseorang yang dia anggap teman, keluarga luar tapi bisa mengkhianatinya hanya karena materi.
Semua tahanan sudah keluar, Steve duduk memijit pelipisnya, Bagus datang mengeluarkan beberapa penemuannya dari beberapa detektif yang menyamar.
"Stev, kenapa tidak ada satupun sesuai dengan sasaran kita?" Saka melihat semua gambar ciri-ciri.
"Dia seorang wanita, memiliki tato di bagian pahanya yang bertulisan Angel." Steven memutar pulpen di meja.
"Berarti semua dugaan kita salah, mereka sebenarnya korban." Bagus menatap Steven tajam.
"C apa maksudnya kode C, aku pernah mendengarnya." Steve memijit pelipisnya coba menggigat di mana dia mendengar kode C.
__ADS_1
"C berarti child, Angel C berarti malaikat kecil." Windy berbicara membuat Stev, Bagus, dan Saka melihat ke sumber suara.
"Twins W yang mengatakan, pemimpin menggunakan kode Angel C." Steven mengigat Wildan menulis Angel C, gambar malaikat kecil, bersayap hitam.
Saka akan mulai menyelidiki pemilik tato Angel C, Steven mengagukan kepalanya memilih untuk pulang. Mobil Steven juga sudah menunggu di parkiran kantor polisi.
Windy tersenyum melihat Stev, langsung memeluk lengannya. Vero hanya seperti umpan nyamuk, Steven membukakan pintu untuk Windy, mempersalahkan masuk, Vero hanya diam saja berdiri di luar.
"Sampai kapan kamu berdiri seperti orang bodoh, cepat masuk." Steven menepuk pipi Vero yang langsung tersenyum masuk ke dalam mobil.
Waktu sudah hampir subuh, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Steven melihat Windy yang masih mendengarkan musik, melukis gambar pakaian untuk desain terbarunya.
Windy melihat mobil masuk ke dalam pekarangan rumah yang sangat mewah, mobil penuh tersusun di depan.
Vero terpesona melihat rumah yang super mewah, rumah peninggalan Ibu Steven, pernah digadaikan, tapi Bima yang membelinya, Stev membelinya kembali dengan cara menyicil.
"Rumah kak Stevie?" Vero menutup mulutnya.
"Ini peninggalan Mami, kak Stevie menyerahkan kepada Steven, tapi sempat digadai oleh Papi kamu, akhirnya kak Bim yang membelinya, aku menyicil ulang."
Windy langsung melangkah masuk, rumah berbeda dengan apartemen, penjagaan ketat juga memiliki banyak pelayan. Orang yang setia kepada Mami Steven bertahan sampai akhirnya Steven menjadi pemiliknya.
Vero melihat foto Mami Steven, foto Stevie sekeluarga. Vero menyentuh foto anak kecil yang mungkin sekarang sudah ABG.
"Maafkan Vero Kak Stevie, Vero harus dihukum karena membunuh kakak, walaupun Vero tidak mengerti apapun, tetap saja Vero bodoh." Vero melipatkan kedua tangannya memohon ampunan.
Steven juga langsung masuk ke dalam kamarnya, membersihkan tubuhnya, Vero binggung harus menunjuk kamar yang mana, jadinya menunggu Steven turun.
"Apa yang Om Vero lakukan?" Windy sudah menggunakan mukenah.
"Om Om Om, aku masih muda. Steven yang tua."
"Kalau bukan Om lalu siapa?"
"Panggil Vero, jadinya kita bisa seumuran." Vero tersenyum, Windy setuju untuk memanggil Vero.
Steven mendengar perdebatan Windy dan Vero, melihat Steven di lantai atas, Vero juga ingin mandi. Steven menunjukkan kamar tamu, juga melemparkan pakaian baru untuk Vero.
__ADS_1
"Terima kasih kak, rasanya Vero memiliki keluarga lagi." Vero langsung tersenyum melangkah ke kamar kosong.
Windy meminta Steven turun shalat bersama, Stev tersenyum mengagukan kepalanya. Langsung turun meminta Windy mengikutinya, kakak ipar Stev seorang muslim yang taat beribadah, kakaknya mengikuti agama suaminya, Stev juga ikut-ikutan saja.
Senyum Windy terlihat, kamar yang sangat rapi khusus untuk beribadah. Steven masuk kamar mandi mengambil wudhu, Windy menyiapkan tempat mereka untuk sholat.
"Om Stev bisa menjadi imam?"
"Jangan meremehkan Win, walaupun jarang setidaknya Om pernah." Steven tersenyum.
Karena masih ada waktu menunggu, Steven membuka lemari kecil yang sudah lama tidak Stev buka, perlahan Steven mulai membaca beberapa Ayat, Windy duduk di belakang sambil meneteskan air matanya.
"Subhanallah, Windy bisa jatuh cinta lagi jika mendengar suara merdunya." Batin Windy sambil memejamkan matanya menikmati suara Stev.
Steven langsung mengumandangkan adzan, keduanya sholat bersama. Vero tersenyum melihat kakaknya beribadah dengan khusuk.
Vero melihat Steven dan Windy menadahkan tangannya, Vero ikut duduk menadahkan tangannya juga, ketiganya terdiam dalam doa masing-masing.
Vero memejamkan matanya, berdoa memohon ampunan untuk semua kesalahan, Vero selama ini menganggap hidupnya hanya perlu bersenang-senang, tapi sekarang Vero merasakan hukuman, atas dosanya.
Kedua orangtuanya jahat kepada orang lain, tapi tidak kepadanya. Melihat kedua orangtuanya meninggal di depan mata Vero ingin balas dendam, tapi bukannya menang, Vero semakin jatuh.
Saat ini dia hanya bisa bergantung kepada kakaknya, satu-satunya keluarganya, satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatinya.
"Maafkan Vero kak Stev, kak Stevie, si kecil, Vero memang tidak tahu malu, tapi ke mana Vero harus berlari, Vero hidup sendirian, menjadi kambing hitam." Vero mengusap matanya.
Windy Steven terdiam melihat Vero di belakang melihat sedang menangis, ikut berdoa meminta ampunan.
"Vero sekarang kamu sudah berubah, tidak boleh jahat lagi. Allah saja maha pengampun, apalagi Om Stev. Jadi kalian berdua harus saling memaafkan." Windy tersenyum menatap Vero dan Steven.
"kamu sudah besar Vero, belajar lebih dewasa, berhenti bersenang-senang, lupakan dendam kamu, hidup kamu tidak akan bahagia jika terus dendam. Kembali kuliah lagi, jadilah orang yang berguna." Steven menatap Vero tulus.
"Maafkan Vero kak Stev."
"Jika kamu ingin aku maafkan, Ikuti semua ucapan aku, berhenti membuat masalah, ingat Vero aku keluarga kamu satu-satunya."
"Alhamdulillah, Windy senang melihat om Stev dan Vero akur." Windy tersenyum menyentuh tangan Stev.
__ADS_1
***