MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEGUGURAN


__ADS_3

Suara tangisan dari kamar Vero terdengar, Mei sampai bangun melihat mamanya menangis, Vero sudah duduk berlutut meminta maaf.


Minuman yang ada di samping Vero milik Saka, dia hanya mengejek Vero yang sudah tidak bisa menyentuh minuman lagi.


Can langsung berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Air mata Vero menetes melihat istrinya sedang hamil besar, minum alkohol sampai muntah.


"Ayo ke rumah sakit sayang, nanti terjadi sesuatu bagaimana?" Vero panik sendiri, Can memilih mendiamkan suaminya lalu tidur memeluk putrinya.


Mei mengusap wajah Vero, meminta untuk tidur bersama, meminta Papanya tidak sedih. Adiknya pasti baik-baik saja.


Rasa penyesalan tetap ada di hati Vero, dia mengabaikan istrinya yang sedang hamil. Sibuk bersenang-senang sampai lupa waktu.


Di kamar Steven juga sama, Windy marah-marah melihat tingkah Stev yang melupakan dirinya sampai tidur sendirian.


Stev hanya diam saja, mendudukkan kepalanya mengakui jika dirinya salah. Tatapan Windy tajam, Stev dimarahi sibuk mengusap perut Windy.


"Apa yang Ay lakukan?" Windy menepis tangan Stev.


"Tidak boleh membentak sayang, kasihan nanti dia dengar." Stev menutup perut Windy.


Di dalam hati Windy menahan tawa, suaminya memang aneh tidak perduli Windy mengomel Stev sibuk mengurus perut Windy.


"Ay tadi kenapa keluar?"


"Mencari Ravi sama Erik, mereka asik mengobrol. Maaf ya sayang, aku pikir baru jam satu dini hari, ternyata hampir subuh." Steven tersenyum mencium bibir Windy yang cemberut.


"Ya sudah Windy maafkan, jangan diulangi lagi." Tatapan Windy tajam, memperingati Steven yang menganggukkan kepalanya.


Stev langsung memeluk Windy, memintanya tidur kembali.


***


Saka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, Ghina sudah memejamkan matanya, menggunakan selimut tebal. Bunga indah yang memperindah kamar sudah Ghina buang ke tempat sampah.


"Sayang bangun, jangan berpura-pura tidur. Jika marah bentak aku, pukul dan lakukan sesuka kamu." Saka menarik tangan Ghina, tapi ditepis kuat sampai terkena wajah Saka.


"Terserah kamu." Saka menendang ranjang langsung mandi.


Air mata Ghina langsung menetes, berusaha menyembunyikan kesedihannya tidak menunjukkan sedikitpun rasa sakit hatinya.


Saka keluar dari kamar mandi, langsung mencari bajunya memilih tidur di sofa sambil menatap wajah Ghina yang ditutupi dengan selimut.

__ADS_1


Langkah kaki Saka terdengar, menarik selimut kuat. Menatap istrinya yang menutup wajahnya. Saka langsung berada di atas tubuh Ghina, membalik tubuh keduanya sampai Ghina di atas.


"Maaf, aku lupa waktu. Kamu mengkhawatirkan aku bersama wanita lain, Ghina percaya satu kali saja jika kamu wanita satu-satunya. Jika terus tidak percaya, pertengkaran kita tidak ada habisnya. Maafkan aku yang keras kepala, egois, juga sulit mengatakan maaf. Aku tidak ingin janji, tapi akan memperbaikinya." Saka mencium kening istrinya yang masih menolak untuk melihatnya.


"Lepaskan."


"Lepaskan saja sendiri jika bisa." Senyuman Saka terlihat, Ghina memberontak, tapi tidak terlepas sedikitpun.


Tangan Ghina memukul tubuh Saka yang tersenyum, suara teriakan Saka meringis karena tangannya terbentur ranjang.


"Awww,"


"Sakit, coba Ghin lihat." Ghina meniup tangan suaminya yang memerah.


"Jahat banget." Saka menatap tajam.


"Iya maaf, lagian tidak sengaja." Kepala Ghina tertunduk, Saka langsung tertawa menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Keduanya diam saling tatap, Saka mengusap wajah wanita cantik di hadapannya yang selalu membuat darahnya naik.


"Kenapa kamu selalu menolak lamaran aku Ghin? apa karena Windy dan Stev yang terpisah?"


"Yang, dulu aku memiliki seorang sahabat. Ghin terjatuh ke dalam air, dia juga terjun menyelamatkan Ghina, tapi sayang dia yang tenggelam. Saat Ghina melihat ke air dia sudah menghilang." Air mata Ghina menetes, menangis dalam pelukan suaminya.


Saka mengusap punggung Ghina, pengacara cantik yang terlihat manja dan selalu berpura-pura kuat, kehidupan Ghina tidak seindah Saka yang hanya kehilangan sosok Ibu, Ghina kehilangan keduanya tanpa ada pengakuan.


Hidup dengan cara dikasihani oleh orang-orang membuat Ghina selalu tersenyum, Windy salah satu anak kecil yang selalu membantunya.


Bahkan saat dirinya ingin bunuh diri, Windy yang menahannya.


"Windy sama seperti Ghina yang menunggu sesuatu timbul dari air, menunggu sesuatu yang pastinya tidak akan pernah kembali. Sesakit itu melihat Windy yang tertawa menunggu Steven." Ghina menghapus air matanya.


"Sekarang mereka sudah bahagia, kamu juga sudah bisa bahagia. Setidaknya beban kamu sudah lepas, melihat Windy yang sekarang." Saka mencium kening Ghina lembut, ada perasaan sakit mendengar cerita istrinya.


"Bagaimana jika Steven tidak pernah ditemukan? apa mungkin kita tidak akan pernah menikah?" Tatapan Saka langsung tajam.


"Mungkin, Ghina ingin selalu menemani Windy menunggu di jembatan. Sampai menemukan jawaban dari setiap doa dan usaha, jawaban akan datang sehingga kita harus lebih banyak bersabar untuk menunggu." Senyuman Ghina terlihat mengecup bibir lelaki gila dihadapannya.


"Wanita memang aneh."


"Iya, lebih anehnya aku mencintai lelaki gila seperti ayang, lelaki yang hidup tanpa aturan, pergi kerja pulangnya bersenang-senang." Ghina menggeleng kepalanya, Saka hanya tertawa.

__ADS_1


Tidak menyalahkan sedikitpun tuduhan Ghina, dia memang selalu terlalu bebas untuk bersenang-senang.


Hidup Saka memiliki banyak rahasia negara, di mata banyak orang dirinya hanya tahu bersenang-senang, tapi sebenarnya setiap dia melangkah mempertaruhkan nyawa.


"Yang, Ghina tahu pekerjaan kita berat, tapi boleh tidak sekali saja egois untuk memprioritaskan Ghin menjadi yang utama."


"Maksudnya?" Saka menahan tawa, dia mengerti ucapan istrinya yang meminta Saka mengurangi kehidupannya yang selalu mengintai penjahat.


"Kurangi jalan-jalan dan bersenang-senangnya." Ghina menyentuh rambut Saka yang masih basah.


"Kita bisa berjalan-jalan bersama, senang-senang bersama."


"Tidak mau, Ghina takut."


"Kamu memiliki banyak ketakutan Ghin, mulai sekarang jangan takut lagi, karena kamu sudah mendapatkan seluruh waktu aku. Bagaimana jika aku menjadi pengganguran?"


Ghina memukul Saka, dia tidak ingin anak-anaknya memiliki ayah yang tidak menjadi panutan.


"Baiklah, tapi aku mendapatkan hadiah apa jika kamu menjadi yang utama?"


"Emhhh, dapat doa dari istri." Ghina melipat kedua tangannya.


"Aku menginginkan anak, sebaiknya kita membuatnya dari pada mengobrol tidak jelas." Saka membuka bajunya, Ghina memukul wajahnya.


"Dasar pria mesum." Ghina teriak kuat, suara tawa Saka terdengar bersamaan dengan teriakan Ghina.


"Jawab satu pertanyaan aku?"


"Apa benar saat aku mabuk kita melakukannya?" Saka menakup wajah cantik dihadapannya.


"Kamu tidak mengingatnya sama sekali, sedikitpun tidak ingat?" Ghina menatap balik, berharap Saka menjawabnya.


"Jawab pertanyaan aku Ghin?"


Ghina menundukkan kepalanya, tersenyum menganggukkan kepalanya, jika mereka melakukannya.


"Aku hamil, tapi tidak berani memberitahu kamu. Saat aku datang ke apartemen, kamu bersama wanita lain. Saat dia berusaha empat belas minggu keguguran." Air mata Ghina menetes mengigat malangnya nasibnya yang selalu tersakiti.


Saka terduduk lemas, tidak percaya dengan pendengarannya.


***

__ADS_1


__ADS_2