
Hari libur dari dunia pekerjaan tiba, Reva bangun pagi melihat Bima yang sedang berada di dalam ruangan olahraganya. Windy juga ikut Bima untuk hanya menonton sambil ngemil santai.
Reva akan membuat sarapan untuk mereka, karena asistennya sedang mudik juga ada yang sedang libur. Jadi tidak ada yang bisa memasak, sebenarnya Bima tidak mempermasalahkan Reva masak atau tidak karena sekarang banyak yang antar makanan siap saji.
Dengan modal video YT Reva mulai bergelut di dapur, Reva memang terlahir dari keluarga sederhana, tapi soal masak cukup menjadi trauma baginya.
Pertama Reva mulai mencuci beras dan memasukkannya ke dalam penanak nasi dan mencolokkannya di listrik. Lalu mengambil ayam yang sudah di bumbui dan siap di goreng. Reva memanaskan minyak, sebelum ayam dicemplungkan Reva tarik nafas buang nafas berdoa dalam hati semoga tidak meledak. Barulah ayam masuk perlahan, Reva sudah berlari menunggu minyak tenang barulah dia mendekat.
Menggoreng ayam berhasil, lalu memasak sayur kangkung kesukaan Windy. Reva mencari cara paling mudah cara memasang kangkung, juga bumbunya yang simpel.
"Ini enak ditumbuk atau diiris ya?" Reva memutuskan mengiris dan memasaknya perlahan, setelah dua hidangan jadi Reva tersenyum bangga kepada dirinya sendiri.
Mata Reva masih berkeliling mencari sesuatu di dalam kulkas, tapi dia tidak mengerti cara membuat sambal.
"Sudahlah dua menu saja cukup, Reva pusing." Cepat Reva berlari menemui suami dan anaknya yang ternyata sudah mandi dan asik menonton TV.
"Mau sarapan tidak?"
"Mau Mami."
"Papi pesanan makanan dulu, Windy sama Mami mau makan apa?"
"Jadi kalian mau makanan siap saji? sia-sia aku masak, buang saja yang tadi aku masak." Reva langsung melangkah pergi, berlari ke kamar dan menutup kuat pintu.
Windy langsung tersenyum, Bima juga tersenyum menelan ludahnya.
"Ayolah Papi, Windy mau makan masakan Mami."
"Papi juga mau," Bima langsung bangkit menemui Reva ke dalam kamarnya.
Pintu diketuk, Reva sedang asik bermain handphone sambil tiduran. Bima masuk dan mendekat, ikut berbaring dan memeluk pinggang Reva. Bima ikut melihat film yang Reva tonton di handphonenya, Reva tersenyum memuji ketampanan song Jong Ki.
"Duren ganteng banget,"
"Siapa dia?"
"Song Jong Ki duda keren Korea."
"Ohhhh!" panjang Bima menyebutkan OHH.
Berkali-kali Reva tersenyum memuji ketampanan, Song Jong Ki yang bermain laga di film Vincenzo. Wajah Bima berubah kesal, dia saja tidak pernah di puji tampan, gagah.
"Pandangi saja terus,"
"Ini udah dipandangi, malam ini bisa mimpi indah."
Bima langsung cepat merampas ponsel Reva, dihapus semua film yang sudah Reva download. Dibuangnya ponsel Reva ke sofa, tatapan Bima semakin dingin. Reva melangkah perlahan ingin turun tapi pinggangnya sudah ditahan Bima.
__ADS_1
"Masih mau melihat aktor Korea?"
"Enggak! Ayy juga ganteng, gagah, keren mirip aktor WEILONG." Reva menahan tawa, melihat Bima cemburu dengan aktor yang bahkan tidak mengenali Reva.
"Siapa Weilong?"
Reva gemas melihat Bima yang semakin lucu, apalagi kalau cemburu. Diciumnya wajah tampan suaminya, Bima yang awalnya kesal menahan tawa.
"Sayang, siang juga belum, jangan suka mancing."
"Ya sudah kalau tidak mau dicium, Reva mau keluar.".
Saat Reva berdiri Bima menariknya, sampai duduk dipangkuan. Wajahnya mendekati Reva dan mengigit pelan bibir bawah Reva sampai terjadi pergulatan. Reva menahan Bima yang mulai meminta lebih, bajunya sudah terangkat. Dadanya sudah diremas membuat Reva bersuara yang semakin menggoda.
"Sekali ya sayang,"
"Nanti malam juga bisa."
"Beda, sekarang pengen."
Pintu kamar terbuka, Bima langsung cepat melepaskan kedua tangannya dari dada Reva. Kepala Reva juga menoleh kearah Windy yang tersenyum mengejutkan.
"Mami masih marah ya Papi, wajahnya Papi sampai merah."
Melihat wajah Bima yang sedang panas-panasnya tapi harus tertun'da, bahkan terhenti. Reva memukuli Bima lalu langsung turun meninggalkan Bima yang sedang tegang.
"Windy lapar Mami, boleh makan tidak?"
"Win, kenapa harus menganggu Papi membuat adik kamu." Bima merapikan penampilannya, dan langsung melangkah turun.
Selama berjalan ke ruang makan, Reva mengajari Windy untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Walaupun orang tua sendiri harus menjaga sopan santun, apalagi Windy yang sudah mulai beranjak remaja. Reva juga memperingati Windy untuk menjaga hubungan dengan seorang pria.
"Kenapa Mami Windy masih kecil?"
"Kamu sudah mulai besar sayang, sebentar lagi ulangtahun yang kesebelasan. Mami ingin mengajari kamu menjaga diri dari usia muda agar kamu tidak penasaran dengan pergaulan bebas."
"Seperti pacaran ya Mami?"
"Iya, Windy sudah tahu pacaran?"
"Kakak kelas Windy juga pacaran, mereka selalu gandengan tangan."
"Windy jangan coba-coba untuk pacaran, apapun yang Windy ingin lakukan harus atas izin Mami."
Windy tersenyum sambil menggagukan kepalanya, Reva sosok wanita Cinta pertama Windy. Wanita pertama yang terlihat sangat tulus di mata Windy, bahkan dia tidak menemukan pada ibu kandungnya.
"Windy ambil nasi sayang, makan lauk kangkung sama ayam tidak apakan sayang."
__ADS_1
"Iya Mami, Windy suka apapun yang Mami masak."
Bima juga datang mendekat, mencicipi sayur kangkung yang rasanya tidak kalah enak. Bima tersenyum melihat Reva yang manyun.
"Enak sayang, sering-sering masaknya."
'Mami nasinya di mana?" Windy balik lagi sambil tersenyum.
"Biar Papi yang ambil," Bima melangkah ke dapur, Windy hanya menahan tawa.
"Mami!" teriak Bima dari dapur, membuat kening Reva berkerut.
"Iya," Reva menjawab dengan kesal, sedangkan Windy sudah cekikikan tertawa.
"Sini sayang," Bima menahan tawa menunggu Reva mendekat, saat sampai Reva semakin manyun.
"Apa?"
"Mana nasinya?"
"Ayy, susah rabun ya, ini di depan mata. Tinggal buka tutupnya, lihat isinya." mata Reva melotot, Bima menutup mulutnya ingin tertawa tapi Reva semakin marah.
"Itu beras sayang?"
Beras yang Reva masak belum berubah menjadi nasi, padahal bacaan yang dia nonton hanya butuh waktu 30menit tapi nyatanya sudah hampir dua jam belum masak.
"Kenapa masih tetap beras, aku yang bodoh atau alat masak nasi ini yang rusak."
Bima memeluk Reva dari belakang, bukan salah tempat masaknya atau Reva yang bodoh tapi hanya kesalahan kecil yang istrinya lakukan membuat mereka tidak jadi makan, tapi tidak mungkin menertawakan Reva karena dia sudah berusaha untuk mencoba menjadi istri dan ibu yang baik.
"Ayy kita tidak bisa makan?" Reva langsung ingin menangis melihat kebodohannya, dia tidak mengerti salahnya di mana.
"Kita makan lauk nya saya, kalau nasinya masak baru kita makan lagi."
"Tapi nasinya tidak mau masak."
"Kamu lupa mengganti tombolnya, jika masih berbentuk beras tekan warna merah, nanti kalau sudah masak dia otomatis berubah warna hijau." Bima langsung mempraktekkan, Reva hanya menggagukan kepalanya.
"Reva bodoh banget,"
"Kamu tidak bodoh sayang, namanya juga tidak tahu. Tidak masalah, yang terpenting ada niat di hati untuk belajar memasak, lagian Ayy tidak memaksa kamu untuk masak."
"Terimakasih Ayy, dan maafkan Reva."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***