
Hari libur Steven memilih untuk berolahraga, Vero sudah pergi jalan-jalan dengan komunitas mobilnya. Windy berdiri di depan pintu melihat Steven sambil tersenyum.
"Apa yang kamu lakukan, nanti gigi kamu kering kebanyakan tersenyum." Stev mengambil handuk, mengelap keringatnya meminta Windy duduk mendekat.
"Om, hari ini kita jalan-jalan, Windy ingin ke pantai."
"Bersama teman-teman kamu, pantai lumayan jauh dari sini." Steven mengambil minum dari tangan Windy.
"Berdua sama Om." Windy tersenyum, Stev juga tersenyum mengambil ponselnya.
Suara panggilan terdengar, suara teriakan Winda nyaring. Stev melambaikan tangannya, melihat bocah nakal yang sedang berenang.
Bima tersenyum melihat Stev, juga Windy. Stev membuat rencana untuk pulang menemui keluarga Windy, karena Windy juga sedang menganggur, Win juga ingin pindah jurusan, Bima sudah mendukung keputusan Windy, Stev juga akan mengawasi.
[Kapan kalian berangkat Stev?]
[Hari ini kak Bim, masih menunggu Vero.]
Windy tersenyum sangat bahagia bisa kembali, langsung menyiapkan seluruh keperluannya.
Steven menolak untuk pergi ke Korea, memilih untuk mengantar Windy pulang, rahasia sebenernya ada pada Bima, kedatangan Stev, bukan untuk mencari tahu, tapi hanya ingin mengenal Bima yang dulu dan sekarang.
Persiapan sudah dilakukan, Vero pulang dengan bibirnya yang monyong, dia baru saja ingin balapan, tapi diminta segera untuk pulang, kopernya sudah disiapkan.
"Salah Vero apa kak Stev? kenapa Vero diusir, Vero mengakui jika melakukan balapan liar, tidak akan mengulanginya lagi, jangan usir Vero." Wajah sedih Vero terlihat.
"Ohhhh, jadi setiap malam keluar ternyata balapan, berapa nyawa kamu Vero?" Stev melemparkan dua koper.
"Satu, tapi saat balapan menggunakan nyawa ikan, bernafas pakai insang." Vero menahan tawa, langsung mengambil koper melangkah keluar.
Suara Windy terdengar membawa kopernya, melihat Vero yang cemberut, langsung memasukkan koper di bagasi.
"Win, kita diusir bersamaan secara langsung?"
"Kita ingin mudik." Windy menjitak kepala Vero.
"Ohhhh mudik, naik apa?" Vero duduk di bagasi melihat Windy yang sangat bahagia.
"Pesawat, kalau kamu mau bisa menggunakan sepeda." Windy masuk ke mobil.
__ADS_1
Steven muncul berbicara sebentar dengan penjaga rumah, langsung menutup bagasi mengabaikan Vero yang masih duduk berpikir.
Mobil jalan, Vero langsung merangkak duduk di bagian penumpang, bibirnya kembali monyong, menatap Steven kesal.
"Kenapa mata kamu Ver? minta di congkel." Stev melihat ke belakang.
"Kak Stev, sekali-kali lihat Vero, menutup bagasi kuat sekali, untungnya bisa merangkak, jika bagasi yang khusus untuk barang, Vero bisa mati." Ver langsung berbaring, kakinya di kaca mobil.
"Pernah melihat orang bersembunyi di bagasi mobil, jika pernah nyatanya mereka masih hidup." Steven menahan tubuh Windy, langsung mengerem kejut membuat Vero terjatuh.
Windy langsung tertawa kuat, melihat Vero jatuh di bawah, suara teriakannya kuat menyakitkan telinga. Stev hanya tersenyum terkadang lucu melihat tingkah Vero yang rada bodoh.
Saat bangun dari jatuhnya Vero langsung menjambak Steven, Windy langsung teriak kaget, menjambak Vero balik dengan kedua tangannya.
"Windy sakit, kak Stev yang mulai duluan." Vero menutup matanya, Windy langsung minta maaf.
"Maaf maaf, upah es krim." Windy membujuk Vero seperti membujuk Winda.
"Lima." Vero tertawa bersama Windy, Stev juga tersenyum melihat dua bocah tua yang kekanakan.
Sesampainya di bandara, Stev memegang koper, Windy memeluk lengan Stev sambil membawa koper, Vero menatap sinis dua orang yang seharusnya tidak membawa dia.
Vero masuk menggunakan topi, kacamata hitam duduk di samping seseorang yang membuat Windy tertawa, Stev juga menahan tawanya, Windy sudah sembunyi di dada Stev tidak kuat melihat Vero yang harus duduk dengan nenek dan cucunya.
"Sial banget nasib gue, hancur sudah ketampanan seorang Vero." Vero menurunkan kacamatanya menatap tajam bocah yang ingin duduk dipangkuan.
"Om, jahat sekali kepada Vero." Windy menatap Steven yang belum berhenti tersenyum.
Steven juga tidak bermaksud mengerjai adiknya, mungkin sudah takdir Vero harus duduk dengan seorang Nenek.
Selama penerbangan Windy tidur di dada Stev, satu tangan Stev memeluk pundak Windy. Seorang wanita cantik menatap Steven yang hanya cuek saja.
Seorang pramugari berjalan mendekati Stev, membisikan sesuatu yang membuat Stev tatapannya tajam. Windy terbangun melihat Stev yang kesal, Windy melihat seorang wanita yang menatap Stev, melihat kertas yang sudah diremas.
Windy mengambilnya, langsung membuka isi kertas, permintaan untuk bertemu di hotel, Windy langsung menatap sinis, melihat nomor handphone yang tertera.
Windy mengerti mengapa Maminya selalu cemburuan, memang sulit berada di sisi pria tampan, secantik apapun kita tetap akan ada orang ketiga.
"Awas kamu, Om Stev milik Windy." Batin Windy menatap tajam.
__ADS_1
Vero menatap Windy yang sudah mirip singa betina, Vero langsung melangkah ke depan untuk menemui seorang pramugari, langsung menabrak kepala wanita yang menatap Steven.
Suara tertawa banyak orang terdengar, seorang pramugari meminta Vero kembali duduk.
"Dasar buta!"
"Maaf Tante, matanya melihat ke depan, jangan ke samping, terus lehernya normal belum patahkan." Vero membuka kacamata mengedipkan matanya.
Windy melempar kertas, Vero mengambilnya langsung menyebutkan nomor yang tertera dengan suara yang cukup besar.
"Terima orderan, jika ada yang membutuhkan servis AC, kulkas, tv, jendela, pintu atau atap rumah, silahkan hubungi nomor ini." Vero mengulangi kembali dengan suara lantang.
Windy tersenyum menatap Vero yang sudah duduk, memejamkan matanya sejenak menahan ngantuk. Windy memeluk lengan Stev, menatap wajah lelaki yang sangat dicintainya.
"Om, Tante itu cantik tidak?"
"Cantik kamu Win, karena Om mencintai kamu. Jangan pertanyakan jika bisa menyakiti hati kamu, juga jangan marah karena banyaknya penggoda, lelaki yang setia tidak tertarik dengan wanita penggoda." Steven mengusap kepala Windy.
Windy tersenyum, kata Maminya sekuat apapun lelaki setia, jika tidak dijaga pasti akan lepas juga, wanita yang menginginkan kehidupan mewah tidak pernah berhenti, jika tidak ingin kehilangan lebih baik berhati-hati, atau antisipasi sebelum terjadi.
"Hayo melamun apa?"
"Emhhh, takut Om berpaling."
Stev memberikan jari kelingkingnya, mengucapkan janji untuk setia, Steven berjanji akan membawa Windy ke pelaminan, akan terus menunggu sampai Windy yang memutuskan untuk meninggalkannya
Windy juga berjanji tidak akan pernah melepaskan, Windy yakin seiring berjalannya waktu kedua orangtuanya akan mengerti jika Windy dan Steven saling mencintai.
Bersatunya jari kelingking, sebagai janji untuk saling percaya, menunggu, setia. Windy mencium pipi Steven, Stev mengacak rambut Windy gemes melihat gadis cantik, mungil.
Dalam hati Stev takut dengan Bima, tapi di satu sisi Stev juga takut kehilangan Windy.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1