MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 SELALU MENDUKUNG


__ADS_3

Tubuh Winda yang masih basah langsung membersikan bekas rambut Ais, Mami juga langsung membantu Winda untuk membersihkan sisa rambut.


"Kenapa kamu menceburkan diri ke kolam?" Mami mengerutkan keningnya, binggung dengan tingkah Winda.


"Mami harus tahu, jika pelaku bisa menjadi korban, tapi dia tidak bisa menjadi kambing hitam." Winda tertawa, langsung menatap pintu yang terbuka.


"Saatnya pelaku menjadi korban." Winda mengedipkan matanya, langsung duduk di kursi sambil kedinginan.


Ar langsung menjatuhkan makanan yang dia bawa, berlari mendekati Winda yang basah kuyup.


"Mami, Winda baru saja sakit kenapa kalian masih bertengkar?" Ar menaikkan nadanya, langsung menggendong Winda ke kamar, tangan Winda melambaikan kepada Mami.


"Winda sialan, jadi aku dia jadikan kambing hitam." Mami langsung cepat berpikir, dia tidak ingin mendengar ceramah Ar.


Di kamar Winda menahan tawa, langsung mengganti bajunya agar tidak masuk angin.


Suara pintu diketuk terdengar, Mami masuk membawakan susu. Tatapan Ar sangat dingin, tidak tahu lagi cara menghentikan Mami dan Winda agar berhenti saling menjatuhkan.


"Syukurnya Winda baik-baik saja, Mami tidak menyangka Ais menyakiti Winda. Sekarang Ais sudah diusir, dia tidak sebaik mulutnya ternyata dia hanya menginginkan harta kamu." Ekspresi Mami terlihat sangat marah, Winda tersenyum melihat kambing hitamnya ingin menjadi korban.


"Ya sudah mi, sekarang istirahat. Ar akan mengurus semuanya."


Winda langsung duduk, memijit kepalanya yang terasa sakit. Ar juga duduk di pinggir ranjang meminta Winda mengikutinya untuk makan.


Di meja makan Ar hanya diam saja, melihat ada rambut kecil yang ada di sekitar villa. Dugaan Ar tidak mungkin salah, jika Winda sudah menyerang Ais karena tas yang rusak.


Makanan Winda hampir habis, menatap Ar yang hanya diam saja menemaninya makan.


"Aku mengusir Ais, juga memberikan dia pelajaran." Senyuman licik Winda terlihat, mata Winda melihat wajah Ar yang terlihat sangat dingin.

__ADS_1


Tatapan Ar melihat wajah Winda yang juga menatapnya dengan cara menantang, apapun yang terjadi di villa semuanya berada dalam pengawasan Ar. Sekalipun CCTV di matikan Ar tetap tahu.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa Win, bertengkar juga mencari musuh sudah menjadi hobi." Ar meneguk minumannya.


Wajah Winda terkejut mendengar ucapan Ar, jika Ais melarikan diri dan tertabrak di jalanan. Ar melihat secara langsung kecelakaan, tapi perasaannya jauh lebih khawatir memikirkan Winda.


Orang kepercayaan Ar memberikan kabar jika Ais mengalami koma, berita lebih buruk lagi jika Ais sebenarnya putri bungsu keluarga terpandang.


"Winda kamu mengenal keluarga Ais?" Ar menatap istrinya yang duduk santai tidak merasa bersalah sama sekali.


"Tentu, keluarga mereka sangat berkuasa di sini. Kakaknya orang selalu bersaing bersama kamu, dia bajingan yang menganggap wanita hanya pemuas. Ar jangan coba halangi aku, karena cepat atau lambat aku akan menyeret dia ke jalur hukum." Winda langsung menatap tajam, Winda melangkah pergi.


Tangan Ar langsung memeluk Winda erat, Mami memperhatikan wajah Ar yang terlihat sangat tersakiti dengan tindakan Winda.


"Winda, aku orang pertama maju ke depan jika ada yang menyakiti kamu. Meskipun tujuan kamu menikahi aku, karena ingin menyelesaikan kasus yang kamu selidiki." Ar mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak ingin menghacurkan hidup kamu untuk kedua kalinya, apalagi sekarang hubungan keluarga kita sangat dekat. Ar aku tidak bisa menjadi pengacara menjadi seperti harapan aku sebelum melihat dia di dalam penjara." Winda membalik badannya, meneteskan air matanya langsung memeluk Ar.


"Jangan hentikan aku untuk menuntut mereka, Lili harus mendapatkan keadilan." Winda melipatkan kedua tangannya.


"Oke, tapi kamu harus jujur sama aku juga tidak bertidak tanpa pengawasan. Winda, mereka keluarga terpandang juga keluarga besar, sedangkan aku hanya seorang anak yang baru lahir, bernasib baik bisa sukses. Mereka bertindak karena sudah terbiasa berkuasa, sedangkan aku harus bertidak dan memikirkan keamanan banyak orang. Kehilangan kemewahan tidak menakutkan, tapi kehilangan orang-orang yang ada di depan hanya untuk melindungi aku, sungguh aku tidak bisa." Ar menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa mengorbankan banyak orang hanya demi keuntungan dirinya.


Winda menyentuh wajah Ar, meminta mengingat jika dia memiliki keluarga besar yang juga berkuasa. Keluarga Prasetya sangat dihormati, bahkan anak cucunya.


"Kamu memiliki keluarga besar juga, mereka tidak akan membiarkan putra utama tersakiti. Sedikit saja kamu tergores berarti mereka mengibarkan bendera perang." Senyuman Winda terlihat, Ar juga tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Berarti besok Winda sudah boleh pergi keluar?"


"Enggak, tunggu laporan soal pergerakan keluarga Ais." Ar merangkul Winda untuk ke kamar beristirahat.

__ADS_1


"Kak Wil kecelakaan, tapi Alhamdulillah dia baik-baik saja." Winda melangkah menaiki tangga.


"Aku tahu, Dewa meninggal. Kita harus turut berdukacita untuk Randu."


"Randu? apa dia masih hidup?"


"Iya, dia selamat dari maut atas bantuan Wildan. Allah juga mengirim Dewa untuk menyelamatkan Wildan."


"Haruskah kita pulang untuk melihat pemakaman?"


"Aku rasa tidak, karena kita tidak dibutuhkan di sana."


"Aish, Kenapa kamu jujur sekali Ar?"


"Aku memang selalu jujur Win." Tangan Ar menarik pintu untuk menutupnya.


Mami meneteskan air matanya melihat Winda dan Ar yang saling mendukung, Mami langsung melangkah ke kamarnya membuka sebuah kotak.


Foto Ar saat masih bayi yang menangis kelaparan, Ummi orang yang berkeliling mencari ASI untuknya agar berhenti menangis.


"Maafkan Ummi Abi, jujur sejak kecil Ummi menyayangi Ar, tapi rasa benci terhadap ibunya terlalu besar. Sekarang putra kesayangan Abi sudah menikah dengan wanita gila, tapi dia terlihat bahagia." Ummi memeluk foto suaminya.


Kejadian puluhan tahun yang lalu teringat kembali, keadaan memaksa Ummi untuk mengkhianati suaminya demi untuk menjaga putranya yang sedang berjuang untuk pendidikannya.


"Keluarga Prasetya, seandainya dulu kalian cepat menyelamatkan anak ini mungkin hidupnya tidak begitu menyakitkan. Dia sudah cerdas dan jenius sejak kecil sehingga banyak yang ingin membunuhnya, demi melindungi aku menghacurkan keluarga kami. Maafkan Ummi Abi, sungguh Ummi menyesal. Seandainya Ummi memercayai kemampuan Ar, tidak mungkin Abi meninggal. Hanya karena takut hidup susah, Ummi memilih menjadi wanita kotor. Menjatuhkan harga diri Abi, merusak masa depan Ar." Tangisan Ummi sangat menyayat hati.


Melihat Ar tumbuh dengan baik membuat kebahagiaan sendiri bagi seorang ibu, tapi menjauh dan menghilang mungkin cara satu-satunya agar Ar hidup bahagia.


"Winda, wanita keras kepala yang tidak pernah mengalah. Kenapa dulu kamu tidak mendengarkan aku untuk tutup mulut, tapi kamu menyiarkan secara langsung sehingga kita memiliki dendam untuk saling menyakiti. Kamu juga harus bertanggung jawab atas kematian suamiku, tapi sebenarnya aku yang salah." Foto diletakkan kembali, menyembunyikannya di dalam kotak yang menjadi harta paling berharga.

__ADS_1


***


__ADS_2