MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PELINDUNG


__ADS_3

Kehebohan sedang terjadi, Windy sedang mencoba mobil baru Vero. Reva Bima juga duduk santai sambil mengemil.


Steven duduk sendiri di lantai atas, hanya melihat kehebohan di bawah. Windy melihat Steven yang mondar-mandir, langsung melangkah masuk menuju ke balkon untuk menemui Stev.


"Om, apa yang sedang Om pikirkan?" Windy menatap Steven serius.


Steven hanya menggelengkan kepalanya, senyum terpaksa juga diperlihatkan. Reva melihat Steven dan Windy yang sedang berbicara.


Reva menatap Bima yang sedang menghubungi sekretarisnya, mengatur jadwal kepulangan mereka, juga membahas masalah pekerjaan.


Beberapa mobil datang, Glen tersenyum menatap Bima, langsung berjabatan tangan, Reva diam saja tetap duduk, tatapan matanya melihat Winda yang sibuk bermain bersama Vero.


Bima mengobrol bersama Glen, Reva melangkah pergi duduk di pinggir kolam berenang, menatap bunga yang sedang bermekaran.


Setiap perjalanan cinta memiliki masalah, sanggup tidaknya bertahan yang menjadi tanda tanya. Reva tahu rasanya berjuang ingin mendapatkan cinta, tahu rasanya mengejar cinta, kesamaan Windy dan Reva hanya mencintai pria dewasa, tapi di sini masalah bukan soal mereka yang saling mencintai, tapi soal restu.


Seharusnya Bima tidak memiliki alasan menolak niat baik Steven, juga bisa menjadi alasan agar Windy tidak dipaksa menjadi ratu, jika hari itu tiba pasti Windy harus menikah dengan anak bangsawan.


Reva memijit pelipisnya, Bima sudah berdiri di samping Reva menatap istrinya yang terlihat banyak beban pikiran.


Bima memilih pergi, Reva akan bicara jika ada sesuatu, saat diam dia sedang berpikir untuk mengambil keputusan, baru berbicara dengannya.


Acara makan malam, perayaan ulang tahun Vero dilakukan di mansion, tidak banyak yang diundang, hanya Bima sekeluarga, Steven, Glen, Saka, Bagus, Ghina, Wilona dan Lukas


Makan malam mewah, Vero tersenyum bahagia melihat acara keluarga, mengucapkan terima kasih kepada Steven, Windy, Bima dan Reva.


"Wowww, makanannya enak semua, pasti memesan online." Saka tersenyum, Reva menatap tajam merasa tersindir.


"Mami, kata uncle ganteng ini benar. Mustahil Mami yang masak, nasi saja menggunakan alat elektronik canggih tidak masak." Winda tersenyum sambil mengunyah daging yang dipotong kecil oleh Steven.


"Winda, Mami bukan tidak bisa masak, hanya saja tidak tahu cara menggunakannya."


"Sama saja kak Stev, intinya tidak bisa. Masakan kak Stev enak, Winda suka." Senyum Winda terlihat, mengabaikan mata Maminya yang melotot.


"Wildan sudah selesai makan, Wildan permisi."

__ADS_1


Saka menatap Wildan, berdehem membuat Wildan berhenti, Saka mengembalikan pelacak buatan Wildan yang Saka ambil dari Steven.


"Bocah jenius, tapi sayang tidak pandai bergaul."


"Koreksi diri sendiri uncle, lelaki yang bertanggung jawab tidak dinilai dari pergaulannya, tapi dari sikapnya." Wildan tersenyum, Saka langsung menatap sinis.


Windy menatap Ghina yang terlihat santai saja, wanita hebat dia wanita yang bisa menyembunyikan lukanya.


Selesai makan malam masih di isi dengan acara berkumpul, Reva duduk bersama Windy, Wilona dan Ghina yang sibuk membahas desain untuk butik Windy.


"Tante boleh bertanya sesuatu?" Wilo tersenyum melihat Reva.


"Boleh, tanyakan saja."


"Tante seorang desainer, bagaimana cerita awalnya Tante?"


Reva tersenyum, menceritakan jika dirinya hanya wanita biasa dari keluarga biasa, lebih tepatnya kekurangan. Reva sejak kecil sudah bekerja, jualan kue, membantu menjahit, mencuci baju, menggambar banyak pekerjaan yang pernah Reva lakukan.


Sampai akhirnya dia bertemu seorang sahabat, Kaka, bahkan bisa menjadi sosok ibu. Viana orang yang merangkul Reva, belajar dan merangkai sebuah mimpi, menjadi desainer bukanlah cita-cita, tapi satu pekerjaan yang Reva sukai, membuat baju agar bisa mempercantik diri.


"Lanjut Mami."


"Sayang, bisa kamu tolong Mami membuat minum, sekalian bersama Ghina." Windy langsung berdiri, Ghina juga berdiri. Ghina melihat ada minuman di dekat mereka, tapi cuek saja, Windy juga menyadari jika Maminya ingin berbicara pribadi dengan Wilo.


Wilona tersenyum menatap Reva, gaya duduknya langsung berubah. Kebenaran soal Reva yang sangat peka, cerdas bisa Wilo rasakan.


Tatapan mata Reva menakutkan, tidak herna dia menjadi desainer termuda, juga paling sukses pada masanya.


"Siapa kamu? jangan pernah sentuh Windy, aku memang tidak pernah membunuh, tapi sudah terlalu banyak orang yang aku hancurkan." Reva menatap sinis.


"Saya sahabat Windy, kita sahabat sejati."


"Kamu tahu arti sahabat, atau kamu sedang melindungi tuan kamu?" Reva mencengkram rahang Wilo.


"Upzz ketahuan, kamu memang hebat mengenali seseorang." Wilona tertawa melepaskan tangan Reva.

__ADS_1


Wilona langsung melayang pukulan, tapi Reva bisa menahan, memutar tangan Wilo.


"Ternyata ahli bela diri juga, tidak heran Windy bisa melindungi dirinya."


Reva menatap sinis, Wildan berdiri menatap tajam Wilo, senyum Wilo terlihat. Reva meminta Wildan mendekati.


"Jika Tante ingin menjadi pelindung, harus cerdik, ahli bela diri, peka, bisa menyembunyikan identitas. Berapa kali Tante kehilangan kesempatan melindungi kak Windy. Saat penyerangan di jembatan, penyerangan di pemakaman." Wildan duduk di samping Maminya.


Senyum Reva terlihat, Bima dan Reva sudah mempersiapkan diri untuk bertemu raja, Reva juga sejak pertama tahu soal keturunan Windy melakukan segala cara melindungi putrinya. Jika Wildan dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


"Maafkan aku yang kurang berpengalaman."


"Windy dilindungi oleh keluarga Bramasta, ratu sudah lama gagal melindungi putri." Reva langsung melangkah pergi, mengandeng tangan Wildan.


Reva menatap tajam Wildan memintanya berhenti ikut campur, berapa jauh Wildan mendengar pembicaraan Bima dan Reva.


"Wildan, Mami memperingati terakhir kalinya, jika kamu melanggar seluruh akses kamu akan Mami hentikan."


"Wildan hanya ingin melindungi kak Windy, Papi belum mengetahui yang berniat melindungi dan menyingkirkan kak Windy siapa, pihak mana?"


"Sayang, selama Mami dan Papi masih hidup, tidak akan kami biarkan kak Windy terluka."


"Mami, luka apa yang ingin dilindungi, akan banyak korban Mami, mungkin Kak Windy bisa diselamatkan, tapi luka hati kehilangan orang sekitar tidak bisa diperhitungkan Mami."


Windy muncul menepuk pundak Wildan, membenarkan ucapan Maminya agar Wildan tidak ikut campur. Windy sudah mengetahui soal Wilo sejak awal, tapi tidak mempermasalahkan, Wilona bertugas melindunginya.


Wildan melangkah pergi, Reva memeluk Windy, bersyukur putrinya mengetahui segalanya. Sudah sangat siap menerima kebenaran tentang dirinya, Windy bisa membedakan siapa kawan dan lawan.


"Mami, Om Stev gelisah. Apa ada sesuatu? dia selingkuh dari Windy?" Windy menghela.


"Dia ingin jujur kepada Papi, kalian harus bersiap mendengar jawaban Papi."


"Baguslah, Windy menunggu kejujuran Om Stev. Windy ingin menikah cepat, Om Stev akan melindungi Windy, dia satu-satunya orang yang berhak atas Windy karena berstatus suami. Tidak akan ada yang bisa membawa Windy kembali ke istana."


Reva mengangguk kepalanya, setuju dengan pemikiran Windy.

__ADS_1


***


__ADS_2