MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 DIJAMBAK BUMIL


__ADS_3

Kamar hotel sangat indah, Winda tersenyum melihat pemandangan juga udara sejuk karena jauh dari keramaian.


Pelukan dari belakang sudah bisa Winda duga, suami tampannya.


"Sayang Wira lucu ya, dibalik kenakalan dia didihkan kebaikan tertanam dengan baik di dalam hatinya. Satu hal lagi, dia pintar mengalihkan perhatian untuk menghindari banyak pertanyaan." Ar mengagumi sosok Wira yang cerdik, lucu, juga pintar.


"Abi menyukai Wira, semoga saja anak kita setampan dia."


"Sayang, nanti dia mirip kak Stev, tampannya Wira dapat dari bule Daddy-nya."


"Ya sudah, cerdiknya atau nakalnya." Winda tertawa melihat suaminya yang mengemaskan.


"Abi juga mengagumi Raka, dia pintar, berwibawa, calon pemimpin yang luar biasa."


Winda duduk mendengar cerita suaminya soal kekagumannya kepada Wira, Raka, juga menyukai diamnya Elang yang masih kecil sudah mengerti banyak hal, menggemaskannya Bening, lucunya Asih dan Em yang nakal.


"Sayang Abi menyukai mereka suami, tapi mereka tidak dekat dengan Abi, rasanya ingin bermain dengan mereka." Senyuman Ar terlihat mengigat momen mengemaskan mereka.


Winda memeluk suaminya, Ar yang hidup sendiri merasakan kesepian, setelah tahu enaknya memiliki keluarga yang ramai membuatnya bahagia.


Tangan Ar mengusap perut buncit istrinya, mencium berkali-kali tidak sabar lagi melihat kelahiran anak-anak.


"Abi ingin cowok atau cewek?" tangan mengusap rambut suaminya.


"Dua-duanya, ingin putri cantik seperti kamu." Bibir Ar menyentuh bibir istrinya, Winda mencoba menghentikan Ar, karena belum makan malam.


Ar tidak bisa menahan diri, membuka baju istrinya melihat perutnya sangat menggemaskan.


"I love you anak Abi, sehat terus di dalam sana, jangan nakal nanti Umi kesulitan." Banyak hal yang Ar bicarakan dengan anaknya, Winda hanya bisa tersenyum melihatnya.


Suara ketukan pintu terdengar, baru saja tangan Ar ingin meraba area lain, tapi tangannya sudah dihentikan.


"Makan malam dulu Abi, baru buka warung." Winda mencium bibir suaminya.


"Tiga ronde ya sayang."


"Ihh, tidak kasihan sama baby-nya." Suara Winda pelan.


"Oke deh, dua ronde."

__ADS_1


Seluruh keluarga kumpul makan malam bersama, sesekali bercerita soal jalannya proyek yang baru sudah ditandatangani.


"Aduh." Bella berteriak, menatap tidak suka.


semuanya hening.


Sudah larut malam Tian masih belum muncul ke kamarnya, Bella berjalan ke arah dapur ternyata masih ada Billa, Binar, Winda dan Vira, juga Windy masih ramai bercerita banyak hal.


"Bel, aku pikir kamu sudah tidur. Kita ke kamar kamu mengorok." Vira menegur.


Bella mengangguk kepalanya, dia memang sudah tertidur, tapi bangun lagi karena merasakan sakit perutnya.


Winda dan Vira langsung melihat ke arah Bella, membiarkan duduk bersama untuk bercerita dan mengobrol santai.


"Aw sakit Bella." Vira dan Winda menahan tangan Bella.


Suara teriakan langsung heboh, Billa teriak kuat, Kasih juga langsung histeris karena kaget melihat air ketuban pecah.


Windy dan Binar juga kebingungan, mereka membantu Winda dan Vira untuk melepaskan diri.


"Sakit." Winda menahan rambutnya.


"Sialan kamu Bella, cari mati kamu ya." Vira teriak, merasakan rambutnya dicengkeram ke. Wildan dan Ara kaget melihat istri mereka terguling di lantai, lama menahan tangan Bella yang mencengkram rambut keduanya.


Tian langsung memeluk Bella, memintanya melepaskan Vira dan Winda yabg rambutnya acak-acakan mirip singa, mereka tidak tega ingin membalas Bella.


Rambut Vira Winda lepas, kedua tangan Belle mencengkram kuat rambut Tian. Teriakkan kuat, tidak binggung cara membawa istrinya.


"Aku tidak akan memaafkan kamu Bella,. rambutku hancur, kurang ajar." Vira langsung memukul televisi.


Winda juga sama langsung dibawa pergi oleh Ar, kemarahan Winda meluap melihat rambutannya sudah mengumpal bahkan harus dipotong.


Semua orang kerepotan di luar, Tian lebih sengsara lagi karena ulah Bella yang ingin melahirkan.


"Siapkan mobil kita melahirkan sekarang?" Erik menatap Billa yang terkejut.


"Ke lumah cakit cekalang Papa, bukan melahirkan cekalang. Em belum hamil soalnya." Senyuman Em terlihat menatap Papanya fokus melihat Bella.


"Bapak sama anak sama saja bicaranya tidak jelas." Ravi menahan tawa.

__ADS_1


"Billa, aku tidak memungkinkan lagi ke rumah sakit. Itu bayi sudah ingin keluar." Bella teriak kuat, membuat semua histeris.


Bella dibawa ke kamar, Binar melangkah mendekat. Dia yang akan membantu Bella melahirkan, meskipun dirinya tidak memilki gelar, dia pernah bekerja di rumah sakit, juga tempat persalinan.


Bunda jum panik, Viana Reva juga panik melihat keadaan Tian. Mereka kasihan melihatnya dijambak habis.


Winda melangkah mendekati kamar, seluruh pria mondar-mandir di depan kamar, ini akan menjadi sejarah lahiran bukan di rumah sakit.


Vira menerabas masuk, Winda juga masuk. Bella masih sempat tertawa melihat rambut Vira dan Winda.


Kasih menggenggam satu tangan Bella, Billa juga memegang dengan kuat, Tian yang hanya pasrah.


"Bella, tarik nafas. Kepala bayi sudah kelihatan?" Binar memberikan arahan.


Bella sekuat tenaganya mendorong bayi keluar, wajah Vira dan Winda meringis, Bella banjir keringat, Tian meminta bantuan menghubungi dokter. Ternyata Erik sudah lebih dulu bergerak.


Tangan Tian berdarah, cengkraman Bella sangat kuat. Air mata menetes melihat keadaan istrinya yang berjuang tanpa Dokter.


Suara tangisan bayi terdengar, Jum langsung mendekat. Membungkus bayi laki-laki dengan kain membiarkannya menangis.


Winda meneteskan air matanya melihat Bella menangis mendengar suara anaknya, Tian lebih parah lagi sudah banjir air mata.


Billa langsung menyambut keponakan untuk di bersihkan dari darah, bayi laki-laki yang sangat tampan.


Dia luar rumah tangisan Bisma pecah, dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Bella memang wanita tangguh, tapi dia tetaplah seorang putri. Bisma tidak tega mendengar suara putrinya yang teriak kuat.


"Puluhan tahun aku membesarkan kamu Bella, memberikan yang terbaik, tapi saat ini kamu berteriak kesakitan sedangkan ayah tidak bisa melakukan apapun." Bisma terduduk mengusap air matanya.


Nazar Bisma jika anak dan cucunya baik-baik saja, akan membangun rumah sakit terbesar di beberapa kota agar lebih mudah dijangkau masyarakat, sehingga tidak seperti keadaan Bella yang sudah larut malam tidak memungkinkan ke rumah sakit, karena jarak yang sangat jauh.


Wildan duduk dengan wajahnya yang tegang, Ar lebih panik lagi, kakinya sampai gemetaran membayangkan jika dia diposisi Tian, pasti rasanya ingin gila melihat istri hamil kembar, tapi melahirkan seadanya bahkan baju dan persiapan bayi juga belum ada.


"Ya Allah selamatkan ibu dan bayi, berikan kami kabar yang baik juga dengan penuh kebahagiaan menyambut kedatangan dua bayi atas izin mu ya Allah." Ar menahan kakinya yang terus bergetar, merasakan tangan Rama mengusap kepalanya.


Suara bayi terdengar, semua orang teriak seperti sedang menonton sepak bola dan tim yang mendukung mencetak gol. Sebesar itu bahagianya mendengar suara bayi.


***


belum revisi 2

__ADS_1


__ADS_2