
Suara Vira terdengar memanggil Daddy-nya, meminta untuk ke meja makan, Mommy dan yang lainnya sudah menunggu.
Rama tersenyum menepuk pundak Steven, senyum Stev juga terlihat langsung menggendong Vira untuk melangkah ke ruang makan.
Terlihat canda tawa Windy bersama Ravi dan Tian, jujur Stev merasakan cemburu bahkan dengan Ravi yang masih remaja. Bagaimana Stev bisa menghindari perasaannya, hanya kata sabar yang tepat untuk Stev bertahan dan menunggu lebih lama lagi, menyerahkan takdir hidupnya kepada sang maha pencipta.
Suara tawa Vero terdengar di samping Windy, tatapan mata Windy terlihat menatap Stev yang hanya tersenyum biasa saja.
"Ayo semuanya makan dulu." Bima meminta Tian memimpin doa makan."
Vero melipatkan kedua tangannya, Winda menatap tajam melihat Vero berbeda dari mereka.
"Kak Tian, kenapa kak Vero berdoa tangannya berbeda dari kita?" Winda menatap Tian yang langsung melihat Vero.
"Winda, agama bukan hanya Islam, banyak agama lainnya, setiap agama memiliki cara sendiri, salah satu Om Vero yang berbeda dari kita."
Vero tersenyum langsung mengubah cara berdoa, menadahkan kedua tangannya.
"Maaf ya kak Ver, Winda belum terbiasa, Papi pernah mengatakan, walaupun kita berbeda tapi tetap satu jua, saling menghormati perbedaan, menghargai adat istiadat setempat." Winda tersenyum, Vero tersenyum mengusap kepala Winda.
Stev tersenyum merasakan kehangatan keluarga, makanan khas seorang ibu juga terasa, Stev tiba-tiba teringat Ibunya.
Acara makan penuh kebahagiaan, kebersamaan juga canda dan tawa. Selesai makan Windy bermanja-manja kepada Maminya.
"Win, bisa kamu tinggalkan Steven?" Reva mengelus rambut Windy.
"Berikan Windy alasan yang pantas Mami, jika alasannya sesuai Windy akan mengikuti Mami." Windy menggenggam tangan Reva.
"Perasaan Mami tidak enak, Mami mengkhawatirkan kamu." Reva mencium tangan Windy.
"Mommy, Windy anaknya Reva Pratiwi, tidak ada yang perlu kita takuti, percayakan semuanya kepada Allah.". Windy mencium tangan Maminya.
Reva hanya bisa menghela nafasnya, Windy memang masih kecil, tapi pikirannya sangat dewasa. Menentang Windy hanya akan membuatnya menjadi seorang pemberontak.
"Mami, dukung Windy untuk mendapatkan restu Papi. Biasanya Mommy selalu mendukung Windy."
__ADS_1
"Maafkan Mami sayang, berikan Mami sedikit waktu untuk berpikir."
Windy tersenyum mengagukan kepalanya, Maminya menyimpan rahasia yang memang belum waktunya Windy mengetahuinya. Sejujurnya Windy juga ragu dengan kenyataan yang sedang dia hadapi.
Suara Aunty Septi, sahabatnya Mami Reva datang. Mami langsung melangkah keluar, Windy menarik nafas panjang melangkah mencari Papinya.
Di taman belakang Steven berdiri melihat langit yang mulai senja, Windy melihat Stev langsung melangkah mendekat melihat wajah Stev yang tidak berkedip menatap langit.
"Ada apa dengan langit Om?" Windy melihat arah pandang Stev, melihat keindahan langit yang memukau.
"Langit indah, bumi juga indah, kamu juga indah." Stev tersenyum melihat Windy.
Steven duduk mengobrol banyak hal bersama Windy, dari lantai atas Wildan melihat kakaknya sambil tersenyum.
"Om ingin tahu dulu Mami marah saat dua Win main hujan, kita berdua dilarang masuk ke dalam rumah, di dalam Wildan yang dimarahin." Windy tertawa.
"Dua Win siapa?"
"Windy dan Winda Om."
Ponsel Steven berbunyi, panggilan dari Raka yang melaporkan penemuannya di Korea, Stev meminta Windy masuk, dia ingin sendiri karena ada panggilan penting.
Saka mengungkap semua yang dia temukan, Mikel memang terlibat dengan Renata, tapi bukan antara anak dan Ayah, tapi Rena selingkuhan Mikel.
Mengetahui Rena tertangkap Mikel tidak perduli, bahkan seakan tidak mengenal Rena. Istri Mikel yang membuka suara mengutuk Rena dihukum seberat-beratnya, dia bukan hanya penipu, tapi pelakorr.
Stev penasaran dengan keturunan Mikel, Saka menarik nafas panjang, berat sekali dia mengatakan kebenaran soal anak Mikel.
Sebelum menikahi Angela, Mikel memiliki seorang putri, tapi dia berpisah dengan kekasihnya yang ternyata sedang hamil tua, Mikel mengetahuinya setelah kekasihnya melahirkan.
"Di mana anak itu sekarang?" Steven langsung bernada tinggi, membalikan tubuhnya melihat Bima berdiri di belakangnya.
"Dia sudah meninggal Stev." Saka memijit pelipisnya.
Saka akan menyelidiki lebih lanjut penyebab kematian anaknya Mikel, dia tidak bisa mencari bukti jika Mikel terlibat dengan kejahatan Renata.
__ADS_1
Panggilan langsung mati, Stev tersenyum melihat Bima. Langkah kaki Bima mendekati Stev, menepuk pundaknya menatap mata Stev yang menyimpan masalah.
"Jika sudah siap untuk bercerita, katakan Stev. Jangan kamu pendam seorang diri, kamu memiliki seorang kakak, siap mengambil alih beban dipundak kamu." Bima mengusap kepala Steven, langsung melangkah masuk meninggalkan Stev yang berdiri diam.
"Saat kecelakaan, dia selamat tidak?" Stev menatap punggung Bima yang berhenti, membalik badannya menghadap Stev.
"Dia, siapa dia Stev." Bima masih berbicara tenang, juga tersenyum.
"Bayi, dia terlempar bersama Stev dari dalam mobil. Bayi yang ada dalam gendongan kak Stevie." Steven menundukkan kepalanya, bayangan kecelakaan yang meledak tepat di depan matanya.
Setetes air mata Steven menetes, bayangan kakaknya yang membuat dirinya hidup seorang diri. Baru saja ditinggalkan sosok ibu, ditinggalkan Ayah bersama wanita lain, melihat kakaknya sekeluarga terbakar di dalam mobil.
Stev yang masih remaja, hancur batin juga jiwanya melihat seluruh keluarganya pergi.
Bima mendekati Steven, memegang kedua pundaknya. Meminta Stev mengangkat kepalanya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Bima menghapus air mata Stev.
"Katakan jika kam Bim tidak terlibat, kak Bima bukan orang jahat. Steven takut menerima kenyataan satu-satunya orang yang Stev percaya di dunia ini berkhianat." Steven mengusap matanya menenangkan dirinya.
"Kak Bim bukan orang jahat Steven, jika kamu ingin tahu kebenarannya lupakan rasa bersalah kamu. Sampai detik ini kamu belum merelakan kepergian Stevie. Selama rasa bersalah ada di hati kamu, kamu tidak akan siap menerima kebenaran." Bima menepuk dada Steven.
Steven memegang dadanya, dia memang tidak pernah rela melepaskan kakaknya yang meninggal secara tragis, terkadang ada rasa bersalah, kenapa hanya dirinya yang selamat.
"Saat kamu siap merelakan, siap tahu kebenarannya, siap menerima kenyataan. Kita lawan mereka bersama, ini bukan hanya soal kamu, juga soal kak Bim yang belum bisa melindungi kalian. Jika kamu ingin tahu alasan mengapa kak Bim selalu mengatakan rangkul Vero, genggam Vero, selamatkan Vero. Dia akan menjadi satu alasan kamu harus kuat." Bima menghembuskan nafasnya.
"Jujur Stev membenci Ayah dan Ibunya Vero, tapi terkadang Stev menyadari dia tidak bersalah. Dia berhak mencintai Ibunya."
"Syukurlah, sedikit demi sedikit hati kamu mulai membuka hati, hal yang paling kak Bima syukuri di dunia bisa bersaman Bisma, saudara satu-satunya. Kamu juga harus bersatu dengan Vero, jangan berpisah lagi."
"Kak, maafkan Stev jika suatu hari mengecewakan."
"Akan kak Bima maafkan."
***
__ADS_1