MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MENCINTAI KAMU


__ADS_3

Langkah kaki Stev memasuki bandara, menggenggam tangan Winda dan Windy yang tersenyum bahagia.


Stev berpamitan dengan Vero, mencium kening Mei dan memeluk Mou. Berpamitan dengan Saka dan Ghina agar bersiap-siap menyusul mereka.


Bima juga pamitan meminta doa agar mereka semua selamat sampai tujuan, Reva memeluk Can agar nanti berkunjung ke kediaman mereka.


Semuanya melambaikan tangannya Bima, Rama, Bisma sekeluarga melangkah masuk ke bandara karena menggunakan jet pribadi karena mereka membawa anak-anak.


Suara pertengkaran Winda dan Vira yang rebutan tempat duduk menjadi rusuh, pramugari sampai binggung ingin melerainya.


"Kalian berdua ingin Mami lempar keluar dari pesawat ini?" Reva menatap tajam.


"Mami tidak takut dituntut Bramasta dan Prasetya?" Winda menahan tawa.


"Kamu tidak tahu, jika aku nyonya Bramasta?" Reva menarik telinga Putrinya.


Winda memonyongkan bibirnya, langsung duduk bersama Vira sambil saling mendorong.


Windy tersenyum menatap ke luar, Stev menggenggam tangan Windy tidak mengerti apa yang sedang calon istrinya pikirkan.


"Ay, Windy bahagia."


"Aku tahu, terlihat dari wajah kamu yang tidak bisa menunjukkan kesedihan."


"Benarkah?"


"Bisa diam tidak kalian berdua, Mami ingin tidur." Reva menatap tajam.


"Syirik aja Va, kekasih hati ada di sebelah."


"Susah ada buntutnya, lihat saja Winda sudah mirip cicak." Reva menatap kesal, menatap Bima yang menepuk pundak Winda yang terlelap.


Semuanya terlelap tidur, hanya Steven yang masih menatap langit malam. Menatap Windy yang duduk di sampingnya, perlahan air mata Stev menetes karena merasakan rindu juga rasa bersalah kepada Windy yang menunggunya selama ini.


"Windy, banyak kata-kata yang tidak bisa aku ungkapkan, ada banyak luka juga kebahagiaan yang sulit aku bagikan. Dicintai oleh kamu sungguh tidak pantas aku miliki, kamu sudah bertahan cukup lama, menanggung kesedihan juga luka seorang diri, bagaimana aku membayarnya Win? bahkan besarnya cintaku juga tidak bisa membalasnya." Stev mengusap wajah Windy pelan.


"Cinta tidak butuh balasan Stev." Bisma membuka matanya.


"Maaf kak Bisma, Stev mengganggu tidur."


"Tidak masalah, kamu jangan mengukur sebesar apa perjuangan Windy, cukup kamu perbesar lagi rasa cinta kamu, jadikan dia wanita yang paling beruntung bisa memiliki kamu."


"Siap kak, aku sangat mencintai dia berjanji akan membahagiakan dia sampai maut memisahkan."


"Cintailah wanita kamu, tapi ingat jangan melebihi besarnya cinta kamu kepada yang maha pencipta."


"Subhanallah, kak Bisma sekarang banyak berubah." Steven tersenyum bahagia.


"Bagaimana aku tidak berubah Stev, memiliki seorang bidadari surga yang bisa menenangkan hati. Dia bangun subuh menyiapkan semuanya, aku malu sebagai lelaki tidak ikut bangun, aku ingin menjadi panutan untuk dirinya juga anak-anak kami."

__ADS_1


"Kak Bima, kak Bisma, Rama, dan Reva menjadi panutan untuk Stev agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kami." Stev tersenyum menatap Windy.


Jum tersenyum mengusap lengan Bisma yang masih memeluk Bella, sedangkan Billa tidur dipangkuannya.


Memiliki dua anak kembar membuat Bisma sangat sensitif, menjaga keduanya untuk tetap aman, juga sangat siaga menjaga putra mereka, tanpa mengurangi sedikitpun kasih sayang.


"Ayah berhasil menjadi panutan kami, mungkin banyak lelaki di luar sana akan mengeluh karena melihat keributan anak-anak, tapi Ayah tidak tetap memeluk mereka bersama, bahkan sangat mencintai aku dan putraku." Jum mencium pipi Bisma, satu tangannya menggenggam tangan Bastian.


Steven tersenyum mendengar suara lembut Bunda Jum di belakang kursinya, keluarga bahagia yang sangat harmonis.


***


Pesawat tiba, Windy memeluk Papinya karena akhirnya bisa pulang dengan bahagia ke negara yang paling Windy cintai.


Steven menyetir mobil ke arah kediaman orang tua Windy, perumahan yang paling hangat, juga tempat paling tenang karena seluruh orang sangat akur.


Sampai di rumah Windy langsung melangkah masuk, sudah hampir tiga tahun Windy tidak pulang.


"Selamat datang nona Windy."


"Terima kasih bibi, Windy pulang bersama calon suami Windy."


"Alhamdulillah, nona Windy bisa melupakan kekasihnya yang sudah tiada, bibi ikut senang."


Reva langsung tertawa, menepuk pundak asisten rumahnya yang mengatakan Steven sudah mati.


"Dia orang yang sama bi, bedanya dia semakin tua." Reva mengejek Steven.


"Tidak masalah bibi, terima kasih atas perhatiannya." Stev tersenyum.


Wildan menemani Steven masuk ke kamar tamu, kamar yang biasanya Steven gunakan jika berkunjung menemui Bima.


"Selamat datang kembali kak, Wildan bahagia melihat kak Stev kembali di tengah keluarga kami. Jangan pergi lagi." Wildan menundukkan kepalanya melangkah pergi.


"Wildan terima kasih juga kamu sudah berjuang menemukan Kak Stev, apapun yang kamu butuhkan akan kak Stev berikan."


Wildan tersenyum langsung melangkah ke kamarnya, Steven menutup pintu merapikan bajunya menatap kamar yang masih rapi.


Bima mengetuk pintu, membukanya perlahan melihat Steven yang baru sudah sholat. Bima tersenyum menutup perlahan membiarkan Steven menyelesaikan sholatnya.


"Papi, kenapa sendirian?"


"Steven sedang sholat dan mengaji."


"Windy langsung tersenyum menatap Reva yang duduk diam, karena merasa malu melihat seorang mualaf juga tahu rasa bersyukur.


"Sudah sholat Windy?"


"Sudah Papi, Mami yang belum."

__ADS_1


"Mami lagi halangan, kita tunggu Steven untuk makan malam."


Winda berlari kencang langsung mendobrak pintu kamar Steven sambil tersenyum, meminta Steven cepat bergabung karena dia sudah lapar.


"Ayo cepat kak Stev, nanti Winda mati."


"Maaf Winda." Steven melangkah keluar bersama Winda yang wajahnya cemberut.


"Ayo kita makan, Winda hampir pingsan."


"Winda, kamu sudah mencuri lima ayam goreng."


"Bukan Winda mungkin Mami, ularnya kak Ravi."


"Alasan saja!" Reva menatap tajam putri nakalnya.


Winda langsung mengunyah ayamnya, Steven tersenyum bisa makan malam bersama kembali.


Semuanya makan dengan penuh canda dan tawa, perdebatan Winda dan Reva tidak pernah berhenti terdengar, belum lagi candaan Windy yang membuat ramai.


"Stev kalian ingin menikah di mana?"


"Winda ingin di hotel berbintang, ada pesta kue besar, banyak makanan juga mainan."


"Winda yang ditanyai kak Stev, bukan kamu." Wildan menatap tajam.


"Winda hanya memberikan saran."


Bima tersenyum meminta Stev, Reva, Windy mengikutinya ke ruangan kerja.


Bima melangkah, Winda menjadi orang pertama yang mengikuti membuat Steven tertawa karena Winda belum berubah masih mengemaskan.


"Winda kamu tidak diundang." Reva teriak kuat.


"Siapa juga yang ingin ikut, Winda ingin main ke rumah Vira, terus ke rumah Bel dan Bil." Winda melangkah pergi.


"Sudah malam sayang, besok saja. Winda istirahat ke kamar."


"Sebentar saja Papi."


"Sudah malam nak, besok ya." Bima menggendong Winda yang harus membuat kesepakatan dengan putri kesayangannya.


Steven dan Windy tersenyum, melangkah bersama masuk ke dalam ruangan kerja Bima. Melihat foto keluarga, ada juga foto Steven dan Vero.


"Winda sudah besar, tapi masih manja."


"Dia tidak akan pernah besar Ay, bagi kami dia hiburan terlucu, penenang hati. Mendengar suaranya kesedihan langsung hilang." Windy memeluk Steven yang juga memeluknya erat.


"Aku mencintai kamu Windy, sangat mencintai kamu."

__ADS_1


***


__ADS_2