
Sebenarnya Bima sangat berat melepaskan Reva pergi sendiri. Matanya menatap Reva yang tersenyum, ingin sekali rasanya Bima menyewa pengawal karena perasaannya sedang khawatir.
"Reva berhati-hati menyetir mobilnya, kamu bisa bergantian dengan Septi. Jangan memaksakan diri jika kelelahan, atau menggunakan supir saja." Bima terus menyakinkan Reva untuk menggunakan supir pribadinya.
"Tidak mau supir ay, Reva akan berhati-hati. Insyaallah selamat datang sampai tujuan."
Bima sedikit merasakan perasaan tidak enak, dia ingin mengantar Reva tapi ada hal penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Brit menuntut hak asuh Windy, Bima akan mempertahankan Windy dalam jalur hukum. Ammar sedang tugas ke luar kota, sedangkan Ivan masih di luar negeri yang juga berangkat tadi malam.
"Kamu harus menghubungi aku satu jam sekali." Bima memegang pundak Reva memandangi serius.
"Dapatkan hak asuh Windy, jangan khawatirkan Reva. Reva janji satu jam sekali akan menghubungi ay." Reva tersenyum memberikan Bima semangat, karena Windy udara untuk Bima bernafas.
Bima menarik Reva dalam pelukannya, Reva membalas pelukan sangat lama dia impikan. Merasakan pelukan hangat Bima.
"Hello! tidak kasihan dengan kita berdua." Septi menyindir.
Bima melepaskan kepergian Reva, Bima juga memasang pelacak di mobil Reva tanpa sepengetahuannya.
"Hati-hati di jalan calon istriku" Bima mengerutkan keningnya merasa geli dengan gumaman nya.
"Siap calon suamiku."
***
Thea membanting berkasnya, dia sudah pasti kalah dipersidangan. Bima juga sudah memberikan peringatan, adik Thea masuk dengan senyum bahagia.
"Apa yang membuat kamu bahagia?" Thea duduk disamping adiknya yang rada kurang normal.
"Aku menyingkirkan wanita penggoda!" tawa jahat terdengar. Thea tersenyum bisa memanfaatkan adiknya yang bodoh.
"Kamu menyingkirkan Reva!" Thea tersenyum, walaupun tidak bisa mendapatkan cinta Bima tapi bisa membuat Bima menderita sudah lebih dari cukup.
"Lihat saja! besok akan ada pemberitaan Reva Pratiwi desainer muda mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat."
"Kamu yang terbaik adikku sayang!"
__ADS_1
Setelah mendapatkan asupan energi sesat, Thea pergi menuju pengadilan untuk menjatuhkan Brit. Karena Thea tidak membutuhkannya lagi.
Bima dan Steven juga sudah datang, langsung masuk menuju ruangan. Brit sudah menunggunya dengan penuh kecemasan, Brit duduk di samping Bima sambil menuggu Ketuk palu dimulai.
"Bima! jaga Windy dengan baik ya. Aku akan pergi meninggalkan negara ini, tapi akankah lebih baik kita kembali rujuk." Brit mengutarakan keseriusannya.
"Carilah kebahagiaan kamu Brit, tinggalkan semua kebiasaan buruk kamu, inilah nasehat terakhir aku."
Steven yang mendengar langsung tertawa, wanita murahan. Menggoda lelaki yang memiliki wanita sempurna demi wanita serpihan, sungguh merugikan.
Persidangan dimulai, Steven mengeluarkan seluruh laporan yang membuat Brit hanya duduk diam, Thea juga nampak tidak perduli. Semua tuntutan diterima pengacara dari Brit tanpa melakukan perdebatan, Bima merasakan keanehan, tidak ada perlawanan dari pihak lawan.
Persidangan berakhir dengan penetapan Bima menjadi orang tua Windy secara sah, tidak ada yang bisa mengugat Bima karena anak. Tanpa banyak bicara Bima langsung mengucapakan terimakasih, langsung melangkah pergi tanpa melirik Brit ataupun Thea.
***
Selama diperjalanan hanya penuh canda dan tawa, Reva melihat ponselnya yang mendadak mati dan memasangkan power Bank, satu jam lagi baru dihidupkan karena harus menghubungi Bima.
Dari awal perjalanan, Reva sudah menyadari mobil yang mengikutinya. Tapi demi keamanan yang lainnya Reva hanya santai dan tertawa, ponselnya sengaja dimatikan mungkin sudah ada yang mengincarnya.
"Thea! adikmu yang gila, kamu ajarkan kejahatan. Dasar manusia tidak punya akhlak." Batin Reva sambil tersenyum.
Reva sengaja mengulur waktu, karena mencari posisi yang tepat untuk bermain-main dengan penjahat receh. Kehidupan menjadi orang berada dan terpandang, memang tidak kekurangan uang tapi inilah resiko terbesarnya, memiliki banyak orang yang tidak suka, iri, juga saling menjatuhkan. Sangat berbeda jauh dengan kehidupan Reva dahulu yang hanya memiliki masalah kekurangan biaya hidup, tapi dengan bekerja dan terus berusaha, ada saja jalannya rezeki.
Di jalan Reva bernyanyi, kecepatannya juga tidak terlalu mengebut. Septi melihat mobil di belakang mereka dengan kecepatan tinggi ingin menabrak mobil Reva.
Septi terdiam, memandangi Tya dan Reva, lalu melihat lagi kebelakang. Perasaan Septi tidak enak, cara pengendara mobil memang sengaja mendekati mobil Reva.
"Reva! tambah kecepatan, ada orang mau nabrak kita." Septi menoleh ke belakang bersama dengan Tya, Reva sebenarnya sudah mengetahuinya.
"Gunakan sabuk pengaman lebih kencang!" Reva langsung melihat kaca spionnya, melihat sekitar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Septi dan Chintya mengencangkan sabuk pengaman dengan jantung yang berdegup.
"Kalian berdua jangan tegang, gue janji tidak akan membuat kalian terluka." Reva tertawa melihat wajah Septi yang mirip kertas diremas.
"Fokus Reva!" Teriak Septi takut, dia heran keadaan tegang masih sempat tertawa.
__ADS_1
"Konsentrasi Reva, kita percaya kamu bisa di andalkan." Tya tidak kalah panik.
Septi mengambil ponselnya, mengirimkan lokasi kepada Ammar. Setidaknya dengan memberitahu Ammar bisa mengirim keamanan ke lokasi mereka.
"Sayang! mobil kita dibuntuti, tolong laporkan keamanan, kawasan di sini cukup sepi! Septi menggunakan pesan suara menghubungi Ammar jika mereka di serang, ada yang ingin menabrak mereka di jalan tol. Septi mengucapakan detail ciri-ciri mobil juga flat nomor.
"Enak Lo Sep, pacar Lo seorang polisi. Langsung bilang aja, Habang dede diserang." Reva yang terus mempercepat laju mobilnya dengan tawanya yang terlihat santai.
Chintya tertawa mendengar ucapan Reva yang tidak ada takutnya, Septi juga ikut tersenyum melihat sahabatnya yang masih bisa menghibur disaat tegang. Septi tahu Reva sangat ahli dalam kebut-kebutan, seharusnya Reva menjadi pembalap bukan Desainer.
Reva sudah mengecek seluruh area jalan, di depannya akan ada persimpangan. Di sanalah akhir dari balapan mereka yang akan di menangkan Reva Pratiwi.
Melihat Sebuah simpangan Reva membanting setir langsung belok mendadak, Septi berpegang kuat, memejamkan matanya, Tya juga terus berdoa dalam hati sambil memejamkan matanya. Mobil di belakang Reva juga tidak terkendali karena belokkan mendadak, tidak bisa menghindar akhirnya terjun bebas ke arah pohon besar, suara tabrakan dengan pohon sangat kuat sampai mobil mengeluarkan asap.
Reva hanya tersenyum, memandangi kedua sahabatnya, bibir mereka terus melantunkan doa yang rasanya sudah berada di surga ulah Reva. Suara mobil polisi terdengar, ternyata Ammar langsung menyambungkan lokasi Septi dan menghubungi polisi terdekat.
Mobil polisi mendekati lokasi kecelakaan, Reva menyobek baju Septi yang membuatnya kaget, mengacak-acak rambut Tya menyobek bajunya dan memberikan sedikit luka cakaran kukunya.
"Gila Lo!" Septi yang baru saja selamat dari maut, sekarang melihat ulah Reva yang mulai konyol.
"ikuti saja, pelaku harus mendapatkan pembalasannya." Reva tersenyum manis.
Septi dan Tya tidak habis pikir dengan tindakan Reva yang aneh. Reva sudah mengetahui siapa dalang utama yang menyerangnya. Reva akan membalikkan fakta dan membuat pelaku dihukum berat karena menyerangnya. Septi dan Tya mengikuti rencana Reva yang soal drama paling hebat.
"Dasar perempuan licik! sebenarnya kamu cocok jadi penjahat Reva."
"enak saja, mana ada penjahat secantik aku."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT.
***
__ADS_1