MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 TERTEMBAK


__ADS_3

Seluruh persiapan sudah hampir selesai, seluruh keluarga sudah berkumpul di sebuah butik yang sangat besar.


Steven masih di kantor bersama Vero yang sebentar lagi bergabung bersama keluarga, Vero mempercepat kerjanya agar bisa segera ikut mencoba bajunya.


Steven melangkah ke parkiran bersama Vero, ponsel Steven berbunyi langsung menjawab panggilan Windy.


Suara Winda mengomel sudah terdengar, Steven tertawa meminta maaf karena dia terlambat, Winda akhirnya memaafkan meminta Steven berhati-hati dalam menyetir.


Di butik Windy dan Wildan tidak tenang, keduanya selalu melihat ke arah luar. Berharap Steven segera sampai.


"Windy sayang tenanglah, Stev sudah jalan ke sini." Reva mencium kening Windy.


"Perasaan Windy tidak tenang Mami, ada perasaan gelisah, takut, sedih, dada Windy juga merasakan sesak." Tangan Windy menyentuh dadanya.


Ghina juga datang langsung memeluk Windy, mengucapkan selamat menempuh hidup baru. Windy akan segera menjadi seorang istri.


Windy menceritakan kegelisahan, Ghina menatap Reva dan Bima mencoba mencari tahu soal keamanan.


Saka mengatakan jika semuanya aman, penjagaan juga di perketat termasuk soal tamu yang akan datang.


Windy tersenyum, dia tahu jika keamanan acara pernikahan sangat ketat, tapi Windy tidak mengerti dengan dirinya yang merasakan ketakutan, bahkan air matanya menetes sedangkan Windy sedang tidak bersedih.


Saka keluar dari kantor, langsung ingin menuju ke butik bertemu Ghina sekalian menjemputnya. Langkah Saka terhenti saat mendapatkan kabar Britania melakukan bunuh diri, sekarang sedang di larikan ke rumah sakit.


Mobil Saka yang awalnya ingin ke butik, langsung putra arah untuk menuju rumah sakit. Brit bisa saja melarikan diri, Saka meminta kepolisian yang membawa Brit berhati-hati, jangan sampai Brit mengecoh mereka.


Windy dan Ghina langsung berdiri serempak saat mendapatkan kabar Brit bunuh diri, tangan Windy gemetaran langsung menghubungi Steven untuk meminta berhati-hati.


Bima meminta Windy tenang, Brit bunuh diri berarti sedang dalam perawatan medis, tidak mudah baginya melarikan diri.


Windy berusaha untuk tenang, menghubungi Steven yang nomornya sudah tidak aktif lagi, nomor Vero juga sudah tidak aktif.


Bima menghubungi Glen untuk memperketat penjagaan Brit, meminta mata-mata mereka mengawasi Steven mencari tahu keberadaannya.


Ghina juga menghubungi Bagus, ternyata Bagus sedang berada di luar kota. Dia sedang melakukan perjalanan bisnis, ada beberapa kasus yang sedang dia selidiki.


Wildan menghela nafasnya, melihat kehebohan di butik. Mengambil tabletnya mencari tahu keberadaan Steven.


"Brit sudah merencanakan sejak awal, dia pasti melarikan diri." Wildan melangkah pergi meninggalkan butik.


"Kak Wildan ingin pergi ke mana?"


"Menyelamatkan kak Stev, dia sudah kehilangan kontak sejak keluar dari kantor."


"Winda ikut kak."

__ADS_1


"Diam di sini, jangan ikut campur." Wildan melangkah pergi.


Winda mengambil sepatu rodanya, langsung mengejar Wildan yang melangkah menggunakan sepatu roda.


Wildan menggelengkan kepalanya melihat Winda yang keras kepala, Winda dan Wildan melangkah bersama menuju ke tempat keberadaan Steven, walaupun Wildan tidak begitu yakin.


Saka memukul setir mobil, jalanan macet sehingga Saka menggunakan alarm kepolisian untuk bisa melewati banyaknya mobil yang tersusun di jalanan.


Sesampainya di rumah sakit sedang terjadi keributan, puluhan polisi berlalu lalang panik. Saka menemui polisi yang bertugas, menanyakan bagaimana keadaan Brit.


"Di mana Brit?"


"Maaf Saka, dia melarikan diri dibantu oleh dokter yang menanganinya."


"Siapa dokternya?!" Saka teriak marah.


"Sisilia, bahkan ada sekitar lima orang yang terlibat dengan Brit juga melarikan diri saat akan dibawa ke penjara setelah persidangan."


"Bodoh, pelarian ini sudah direncanakan sejak awal." Saka menghubungi Ghina untuk berhati-hati karena Brit dan Lia melarikan diri bersama.


Windy juga harus berhati-hati, karena incaran mereka pasti orang terdekat.


Saka berusaha mencari keberadaan Steven, meminta bantuan seluruh tim-nya untuk melacak, menemukan mobil Stev.


Paman Sam kesulitan mengawasi keberadaan Stev yang hobi gonta-ganti mobil, jadinya dia memasang kepada seluruh mobil Stev pelacak, tetapi khusus mobil lama, untuk mobil baru belum pernah Paman Sam lihat.


Saka mengucapkan terima kasih, dia akan segera menemukan Stev. Pelacak aktif semua, puluhan pelacak berada di Mansion, hanya ada satu yang berada jauh, Saka langsung menuju ke sana.


Mobil Steven juga sudah tidak jalan lagi, pasti ada masalah yang menghentikan laju mobilnya.


***


Perjalanan yang macet membuat Steven menghela nafas, Vero memilih untuk tidur karena dia kurang tidur terlalu banyak bekerja.


Stev mencari jalan pintas, karena ingin segera sampai. Dia juga sangat merindukan Windy.


Dari kejauhan Steven melihat beberapa mobil mengikutinya, Stev membangunkan Vero untuk berhati-hati ada yang mengikuti mereka.


Vero melihat ke belakang, meminta Steven mempercepat laju mobilnya. Kejar-kejaran terjadi, jalanan yang tidak begitu ramai memudahkan Steven untuk mengebut.


"Di depan kita sudah ditutup, kita harus bertarung kak?"


"Astaghfirullah Al azim, siapa lagi mereka?"


"Kak Stev, cari kesempatan untuk melarikan diri, Vero akan menahan mereka."

__ADS_1


Steven mengehentikan laju mobilnya, langsung keluar bersama Vero. Tatapan mata Steven tajam melihat Britania dan Sisilia ada di depan mereka, lima orang polisi juga terlihat di depan mereka.


"Alasan aku membenci hukum, dijadikan tempat menutupi kejahatan. Seharusnya kalian melayani rakyat, tapi kenyataannya kalian berkhianat kepada rakyat dan negara." Vero meludah kesal.


"Rencana membunuh Steven, tapi karena ada Stevero langsung kita bunuh saja keduanya." Brit meminta puluhan orang berbadan besar menyerang.


Pertarungan terjadi, suara tembakan terdengar. Kekuatan yang tidak seimbang membuat Steven dan Vero kewalahan.


Tubuh Vero sudah terguling, menerima pukulan bertubi-tubi, belum lagi tendangan menghantam perutnya.


Suara teriakan Steven terdengar, tubuh Steven dipegang. Brit ingin Steven melihat kematian adiknya.


"Vero." Steven memberontak, langsung berlari, tapi langsung terjatuh karena kakinya Brit tembak.


Teriakan Vero terdengar, meminta Steven bertahan. Wajah Steven dipukuli, bekas tembakan juga ditendang kuat membuatnya berteriak.


Vero merangkak mendekati Steven, meminta Brit membunuhnya melepaskan kakaknya. Vero akan memberikan Brit jalan untuk melarikan diri.


Britania menolak, Stev sudah terlalu banyak membuatnya mendapatkan masalah. Brit tertawa ingin Vero melihat kematian Steven.


Senjata Brit di arahkan kepada dada Stev, senyuman Steven terlihat tidak takut mati. Sekalipun Steven mati, Brit tidak akan bisa melarikan diri, dia hanya membuatnya semakin membusuk di penjara.


Brit melepaskan tembakan, Vero menahan tembakan dengan tubuhnya. Bibir Vero bergetar memohon agar Stev tetap hidup, tubuh Vero jatuh di atas tubuh Steven.


Air mata Vero menetes, Steven memeluk erat tubuh adiknya yang dipaksa untuk dijatuhkan ke jembatan.


Steven berusaha untuk berdiri, menggenggam tangan Vero, masih bisa melawan untuk menjauhi adiknya.


"Steven kamu sama seperti Stevie, sekalipun kalian sedang hancur tidak meneteskan air mata. Sebaiknya kamu mati bersama kakak kamu."


Vero dilemparkan ke bawah jembatan, tapi Sisilia menahan tangan Vero sambil menangis tidak rela Vero yang dibunuh.


Steven juga menahan tangan Vero, meminta Lia membantunya untuk menarik Vero.


"Kak, lepaskan Vero." Suara Vero pelan.


"Tidak, kamu sudah janji untuk menemani aku di dunia ini. Tepati janji kamu."


"Sakit kak, Vero susah bernafas. Biarkan Vero jatuh, tolong temukan tubuh Vero."


"Laki-laki tidak boleh menyerah, kita berdua harus selamat. Kamu tidak boleh jatuh, air di bawah sangat deras." Steven melupakan sakitnya, berjuang menarik adiknya naik.


Suara mobil kepolisian terdengar, Brit langsung panik. Meminta Lia berlari bersamanya, tapi Lia menolak dia harus menyelamatkan Vero.


***

__ADS_1


__ADS_2