MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
AMUKAN REVA


__ADS_3

Bisma sudah menentukan hari untuk menjebak Reva, Bisma juga dibantu Viana dan Jum. Mereka bertiga tertawa membayangkan nenek lampir Reva marah-marah.


Reva sedang berada di sebuah pameran, banyak lelaki yang memandangi kecantikan Reva, Jum dan Bisma juga datang karena mendapatkan undangan dari Reva. Bisma dari jauh melihat Reva yang tertawa dengan seorang bule, Bisma melangkah mendekat dan merangkul pundak Reva mendekatkan jarak mereka.


"Reva kamu semakin cantik!"


"Semua perempuan cantik Steven, tidak perlu menggombal tidak mempan."


"Ya ya ya, cinta kamu hanya untuk Bima."


Steven dan Reva melihat Bisma yang datang dengan aneh, Steven ingin menyapa Bisma yang dia pikir Bima.


"Jauhi calon istri saya! Perkenalkan saya tunangan Reva, sebentar lagi menikah. Jangan lupa datang ya" Bisma merangkul Reva.


"Reva!" Steven kebinggungan, Reva hanya memintanya Steven pergi.


Steven pergi dengan jidat berkerut, Bima pasti kepentok pintu sampai hilang ingatan.


Reva binggung menatap Bisma yang mengatakan jika dia, tunangan Reva yang akan segera menikah dalam beberapa bulan ini, Bisma juga mengundang secara langsung membuat Reva kesal.


Setelah bule pergi, Jum mendekati Reva dan Bisma sambil tersenyum.


"Lo gila, ganggu bisnis gue,"


"Reva jaga perasaan kak Bima, jangan tebar pesona."


"Bima juga tidak perduli, kenapa aku harus ambil pusing."


Viana datang memeluk Reva yang kaget.


"Selamat ya Reva, akhirnya naik pelaminan. Undangan kalian juga bagus banget."


"Apa yang kalian bicara, undangan apa? siapa yang akan menikah."


"Bukannya Bima nyebar undangan, jadi Bima bukan nikah sama Lo Rev, jadi siapa calon ibu untuk...."


"Cukup kak Vi, beraninya Bima. Cari mati dia!"


Reva langsung berlari keluar meninggalkan acara pameran, Viana dan Jum hanya tertawa melihat Reva yang bucin parah, sok ngambek lama, di ambil orang nangis juga.


Mereka bertiga juga cepat keluar mengikuti Reva, yang menuju gedung LOVER.


***


Bima sedang sibuk di LOVER karena mengurus berkas dirinya yang akan segera meninggalkan perusahaan LOVER. Dia baru selesai rapat karena mengantikan Rama yang sakit dadakan. Bima mengetuk pintu ruangan rama dan masuk membawakannya berkas hasil rapat yang harusnya Rama hadir tapi digantikan Bima.

__ADS_1


"Terimakasih kak Bima!" Rama mengambil berkas dan membacanya dengan seksama.


"Kamu sekarang selalu pergi siang," Bima duduk di sofa sambil memandangi Rama yang masih fokus


"Rama setiap pagi sakit, tapi kalau siang langsung sehat." Rama pindah duduk depan Bima.


"Sakit malas ya?" Bima mengerutkan keningnya.


"Beneran sakit, mual, pusing juga, badan Rama lemes."


"Ram, kakak bakal Resign sudah saatnya kakak melepaskan kamu, bisnis kakak juga membutuhkan kakak, Bisma di minta memimpin tapi kabur. Belum lagi ngurusin Reva yang ngambeknya lama."


Rama menyetujui keputusan Bima untuk mengembangkan bisnisnya, dan masih merasa lucu dengan sahabat perempuannya yang ugal-ugalan.


"Soal Romi sudah selesai, tidak ada salah paham lagi."


"Sudah! masih menunggu Reva yang ngambeknya panjang, dibiarkan saja sebelum dia ngamuk lagi mendengar kabar Jum dan Bisma akan menikah.


Rama dan Bima tertawa, membayangkan Reva yang akan teriak histeris, jika sampai dilangkahi Jum.


Suara pintu di buka kuat membuat Rama dan Bima berdiri kaget, mereka pikir pasti Viana lagi tapi ternyata yang masuk Reva dengan wajah penuh amarah.


Reva berlari mendekati Bima dan memukulinya dengan kuat, Bima berusaha menahan tangan Reva yang terus meneriakinya, Rama langsung mundur. Viana, Jum dan Bisma masuk melihat Reva yang menyerang Bima.


"Lepas Bima! kamu cari mati ya."


"Kamu kenapa? marah-marah tidak jelas, bisa tidak bicara baik-baik."


"Lepaskan sakit!"


"Aku lepaskan, kita bicara baik-baik. Kamu mirip wonder woman." Bima melepaskan tangan Reva dan duduk baik, membahas masalah Reva yang marah.


"Kamu cetak undangan pernikahan, kita baru putus tapi om langsung mau menikah, apa mau balik lagi dengan Brit?"


"What?!" Bima memandangi Reva yang konyol dalam berpikir, dia harus ekstra sabar menghadapi sifat Reva yang labil.


"Undangan apa?"


Reva langsung menoleh ke arah Viana yang sudah asik memeluk Rama. Reva teriak membuat yang lainnya tertawa.


"Mana undangannya woy!?" Reva melihat Vi hanya tersenyum, Jum dan Bisma hanya nyengir.


"Jangan bilang kalian!" Reva menghela nafas, tidak habis pikir akan menjadi korban kejahilan Viana dan Jum.


"Kak Vi jahat banget, bikin malu, kak Jum tega sama Reva."

__ADS_1


"Lagian kamu lama Reva, ngambek kamu tidak beralasan jika memang bosan, akhiri hubungan kalian baik-baik."


"Ngomongnya enak!" Reva cemberut, menatap tajam Bisma.


"Reva, jangan lama-lama tidak takut banyaknya lebah yang berterbangan.


"Kak Jum, jahat banget mulutnya. Reva memperjuangkan cinta Reva mati-matian. Kak Jum yang harus hati-hati, banyak semut disekitar Bima."


"Semut!"


"Ya jika Rama punya cacing! kak Jum punya semut."


"Wahh Jum, semut banyak banget, kamu harus menyediakan banyak obat ini." Viana menahan tawa, melihat wajah polos Jum yang memandangi Bisma melihat semut.


Rama menggelengkan kepalanya, Reva tidak pernah bisa mengontrol diri kalau soal Bima, mulutnya lancar menyatakan cinta, tindakannya juga tidak kalah gila.


"Cepatlah menikah, apa harus gue sama Jum duluan." Bisma merangkul Jum.


"Mimpi!" Viana melepaskan tangan Bisma menarik Jum menjauh, Bisma langsung manyun melihat mata Viana yang melotot.


"Sorry ya Bisma, gue mau menjodohkan Jum dengan adik gue Verrel, kemarin Verrel menangis patah hati karena batal nikah, keluarga perempuan menolak karena Verrel miskin. Jum Lo enggak rugi menikah dengan Verrel pewaris Keluarga Arsen."


"Jum bukan barang yang bisa berpindah,"


"Tega Lo Vi, kurang setia apa gue! kalau harta tahta gue siap lepas kalau Jum tidak akan pernah. Gue tahu Verrel cerdas, sekarang tajir. Tapi gue masih imbang melawan Verrel dari keluarga Arsen."


Viana dan Bisma beradu melotot saling melawan melalui pandangan, Reva merekam pertengkaran mereka dan hanya tertawa kecil. Sekarang giliran Reva yang kumat jahilnya.


"Kak Bima, mana perusahaan atas nama Bisma aku akan mengambil alih. Dengan menyatukan perusahaan keluarga dan perusahaan yang Bisma bangun bisa mengalahkan kekuatan perusahaan Arsen."


"Jum Lo beruntung banget, jadi rebutan keluarga tajir," sindir Reva yang lupa dengan pertengkarannya dengan Bima, sedangkan Bima hanya tersenyum melihat tingkah wajah Reva.


"Tapi Verrel pacaran dengan mbak sisi, kemarin pinjem mobil Jum buat kencan."


"Alhamdulillah ya Allah," Bisma menadahkan tangannya bersyukur.


"Yahh! gagal tidak seru!" Reva mematikan ponselnya.


Bima dan Rama hanya saling melirik, tadinya datang ngamuk, sekarang beradu mulut. Pertemuan Reva Viana Jum bisa menjadi obat pusing kepala tapi juga bisa menjadi penyakit kepala.


***


terimakasih yang sudah baca yaaa


jangan lupa like dan coment...

__ADS_1


__ADS_2