MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 NASEHAT BUNDA


__ADS_3

Sampai hampir subuh Bima dan Steven mengobrol bersama sambil minum teh dan bermain catur, suara teriak Reva terdengar memanggil nama Bima yang tidak di sampingnya saat bangun tidur.


Bima sampai hampir menyemburkan minumannya karena kaget, Steven sudah tertawa, menikah sudah bertahun-tahun saja masih kaget bagaimana baru menikah.


Bibir Reva monyong, wajahnya ingin menangis, menghentakkan kakinya mendengar suara Bima menjawab.


"Berisik Reva, orang masih tidur semua." Steven mengerutkan keningnya melihat tingkah Reva.


"Ay, kenapa tidak tidur bersama Reva?" Reva langsung duduk dipangkuan Bima memeluknya erat.


"Sebelum tidur sudah ketemu." Bima menatap Reva yang masih merengek.


"Tidur pengen dipeluk, tapi kenapa Reva bangun Ay tidak ada."


"Iya maaf, duduk di sini." Bima menepuk sofa disampingnya.


"Tidak mau, cium dulu."


Steven melotot, mengerutkan keningnya. Bima menolak meminta Reva duduk, suara Reva semakin melengking membuat Bima harus menurut.


Reva duduk di samping Bima, memeluk erat melotot menatap Steven yang mengambil suaminya.


"Stev kamu mirip pelakor yang mengambil suami orang, kebahagiaan malam aku lenyap karena kamu."


"Najis." Stev melempar Reva dengan catur.


Bima langsung meninggalkan Steven sendirian, melihat Reva yang sudah minta digendong. Steven hanya bisa menggaruk kepalanya.


Steven masih berdiam diri memainkan ponselnya, duduk menunggu waktu subuh. Suara azan berkumandang, Stev langsung berdiri melihat Rama keluar kamar, terdengar suara Viana yang teriak menghentakkan kakinya, meminta kiss morning, lanjut masuk kamar lagi.


Suara Jum juga terdengar berjalan keluar kamar, Bisma masih memeluknya erat memejamkan matanya.


Steven tertawa melihat pemandangan di depan matanya, Reva yang manja Bima yang penyabar, Viana yang banyak maunya Rama yang penyayang, Bunda Jum yang lembut, harus menghadapi Bisma yang yang kekanakan.


"Ya Allah pasangan yang sangat berbeda, tapi bisa bersatu dan hidup bahagia. Semoga pasangan ini menjadi inspirasi bagi kami." Steven melangkah ke ruangan sholat.


Semuanya sholat berjamaah, Steven menjadi imam berdoa untuk kelancaran niat baiknya.


Selesai sholat Stev melihat Bisma mencium kening kedua putrinya, membukakan mukenah mereka, mencium kening istrinya membukakan mukenah juga sangat sabar mengendong Bella yang bukan sholat, tapi tidur.


Pasangan paling Steven kagumi, Bima yang memeluk Winda yang menangis karena dipaksa bangun oleh Maminya, padahal Maminya juga tidak sholat, Bima menasehati putri bungsunya yang sudah besar, tapi manjanya tiada tandingannya.


Rama juga berhasil menjadi Daddy yang terbaik, membuka mukenah Vira yang tidur mengorok.

__ADS_1


Anak-anak kelelahan bermain, sehingga susah bangun, belum lagi tidurnya sangat malam.


Windy tersenyum menatap Steven yang memperhatikan sampai semua orang keluar.


"Yang ada apa?" Windy menggenggam tangan Steven.


"Win, kamu sudah siap menikah."


Windy tersenyum cengengesan, menatap Steven malu-malu sambil mengangguk kepalanya.


"Yang Stev sudah berbicara dengan Papi?"


"Sudah sayang, Papi memberikan restu, juga mendukung kita."


"Alhamdulillah, Windy sangat bahagia."


Steven tersenyum mengusap pipi Windy, melangkah keluar melihat Viana dan Reva yang tidak sholat mengomel di dapur, karena pelayan tidak ada jadinya harus masak, tapi bukannya masak mereka bertengkar.


"Mami Mommy ada apa?" Windy melihat dapur yang berantakan.


"Reva yang memasak ayam gosong, suruh Bima yang makan." Viana meninggalkan dapur.


Reva membuang semua Ayah goreng yang hitam, melangkah pergi. Steven menatap Windy yang menggeleng mengatakan dia tidak bisa masak, langsung melangkah pergi dari dapur.


Lama Steven berdiam di dapur, Jum datang sambil tersenyum. Mencium bau wangi masakan Steven.


"Maaf Stev, Bunda tadi mengurus anak-anak, jadinya telat ke dapur. Kamu duduk saja, Bunda yang melanjutkan."


"Tidak apa Bunda, Stev sudah terbiasa masak sendiri jarang makan di luar." Steven tersenyum melihat Jum dari jarak dekat memang luar biasa lembutnya.


Steven tertawa mendengar kepolosan Jum, melihat tawa Bunda Jum juga memang bisa awet muda.


"Stev, kamu suka masakan rumah?" Jum menatap Stev sambil mengaduk nasi goreng.


"Iya Bunda, di luar Stev tidak pernah hidup tenang, selalu diganggu." Steven tersenyum mencium bau wangi nasi goreng khas Bunda Jum.


"Kamu pasti playboy, banyak perempuan yang mengenal kamu di luar sana." Jum menatap sinis.


Steven tertawa, Bunda Jum memang pawang playboy.


"Ayah Bisma luar biasa parahnya, Bunda lagi hamil besar dia bersama perempuan ke hotel." Jum memukul kuali kuat, Stev sampai mundur.


"Apa yang Bunda lakukan?"

__ADS_1


"Bunda datangi, Bunda bakar mobilnya di depan hotel. Satu hotel heboh, perempuan yang bersama Bisma masuk rumah sakit, Bunda jambak." Suara penggorengan semakin kuat.


"Pasti hanya salah paham."


"Memang salah paham, tapi tetap saja istri lagi hamil dia sibuk dengan banyak perempuan, alasan bisnis, bahkan Bunda hampir cerai, sampai dia sujud."


"Bunda tidak kasian sama anak?" Stev duduk mengigat dirinya korban perceraian.


"Stev terkadang perpisahan cara terbaik membuat kita saling menyadari kekurangan, juga cara saling memahami. Bukan tidak mencintai anak, buat apa bersama jika salah satu menyakiti dan yang yang satunya tersakiti. Setiap anak yang lahir ke dunia ini sudah mempunyai takdir hidupnya, jalan yang harus dia lalui." Jum meminta Stev membuka mulut mencoba masakannya.


"Enak Bunda."


"Kehidupan rumah tangga, tidak selamanya seenak masakan. Kamu bukan playboy seperti Bisma, kamu hanya kesepian." Jum mengusap kepala Stev.


"Kak Bisma orang baik, dia juga sangat peduli dengan Stev."


"Bunda tahu, karena dia baik selalu dimanfaatkan. Kamu juga harus menghindari menjadi orang baik, terutama kepada wanita, karena kamu harus bisa menjaga hati wanita kamu."


"Siap Bunda, Stev pikir Bunda lembut kalem, tapi ternyata sama saja seperti Reva dan Viana."


"Viana sudah diuji saat awal pernikahan, Reva diuji cintanya sebelum pernikahan. Mereka berdua melalui sampai ke saatnya bahagia, sedangkan Bunda menikah cepat tanpa tahu karakter masing-masing. Cinta kami diuji dengan kerasnya sikap Bima, dirinya yang ingin selalu menang, walaupun Bunda selalu mengalah bukan berarti Bunda lemah, tugas Bunda sebagai istri membuatkannya nyaman dan bahagia, tapi dia lupa tugasnya. Stev perempuan tidak selamanya hanya menginginkan uang."


Steven mengangguk kepalanya mengerti, Bunda benar perjalanan hidup pernikahan setiap orang berbeda, pemenangnya dia yang sanggup bertahan.


"Bunda, terima kasih sudah menjadi wanita kuat dan penyayang untuk kak Bisma. Terima kasih juga sudah memberikan pelajaran untuk Stev." Steven tersenyum melihat Jum yang juga tersenyum.


Suara Bisma memanggil Jum terdengar, memeluknya dari belakang mengabaikan Steven yang menemani Jum masak.


"Mas perut Jum sakit, sana mundur."


"Tidak mau, kangen."


"Ada Stev di sini?"


"Biarkan saja, dulu juga Steven aku juga yang mengajarinya cara minum dan berpacaran." Bisma menepuk pundak Stev, Jum menghentikan masaknya.


Steven langsung berlari keluar, suara piring pecah terdengar. Anak-anak yang ingin ke meja makan putar arah, sudah tahu jika Bunda marah.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...

__ADS_1


***


__ADS_2