MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 REBUTAN IKAN


__ADS_3

Senyum Vira, Winda Bella dan Billa terlihat aneh, mereka diminta makan malam hanya menggunakan ubi bakar. Wildan melihat Mei makan dengan lahap.


"Kalian tidak bisa makan ubi, ini tanaman liar di area sini. Hanya ini yang bisa kita makan." Can tersenyum melihat anak-anak memonyongkan bibirnya.


"Kalian tunggu sini, Wildan mencari ikan di sungai untuk makan."


"Tidak!" Winda berdiri menatap tajam, mata Wildan lebih tajam lagi menatap Winda membuatnya langsung duduk menahan air mata.


"Wildan jangan seperti itu." Stev mengusap wajah Winda, menayangkan Winda ingin makan apa.


Air mata Can menetes melihat sikap Steven yang sangat lembut kepada Winda, terlihat sekali Steven sangat menyayangi Winda. Can melihat ke arah putri kecilnya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, dia tumbuh hanya mengenal Mama, tidak tahu siapa papanya.


Mei melihat Winda yang memeluk Stev, dia selalu memeluk Stev bahkan menciumnya tapi tidak pernah mendapatkan balasan, sedangkan Winda yang sudah besar masih dimanja.


"Wildan keluar dulu." Wildan langsung berdiri.


"Tidak boleh menangkap ikannya Winda, nanti akan Winda bawa pulang."


"Winda, itu bukan ikan kamu." Wildan menatap adiknya yang masih saja tidak bisa diatur.


"Winda sudah mengirim sekitar 499 ikan untuk mencari kak Stev, bisa saja ikan Winda beranak-pinak menjadi ribuan. Semua ikan di sungai milik Winda."


"Dasar anak kota, apapun ingin kalian miliki. Kamu sudah mengukur berapa luas sungai, sedangkan sungai air terjun hanya sungai buatan yang aku dan Mama Can buat, ikan di sana aku yang memelihara. Air sungai hanya akan masuk saat air tinggi."


Vira menatap tajam, langsung tersenyum tipis tidak suka dengan ucapan Mou. Tatapan mata Bella juga tajam melihat Mou yang menentang Winda.


"Dari mana kamu mendapatkan ikan, jika bukan dari sungai jika ratusan ikan yang pernah Winda jatuhkan setidaknya 1% ada harapan mereka hidup. Kehidupan mereka berkembang biak melakukan perkawinan. Satu ibu ikan bisa melahirkan ratusan anak ikan, kalikan saja selama tiga tahun, sudah berapa ribu anak cucu mereka." Vira menatap sinis.


"Kamu tahu tidak jika kalian sedang menumpang." Mouza menaikan nada bicaranya.


"Tentu kami tahu, hanya sedikit mengajarkan tentang ilmu. Bocah hitam kamu jangan merasa hebat hanya karena sang pemilik tempat, kemampuan kami jika disatukan bisa membuat tempat ini rata." Bella menunjukkan keangkuhan.


"Kedatangan kami ke sini bukan disengaja, setidaknya takdir membawa kami ke sini. Mouza kamu marah hanya karena kami datang ingin membawa kak Stev, kamu tidak rela kak Stev pergi, karena kamu ingin merasakan sosok Ayah, tapi pernah tidak kamu berpikir, kami yang menunggu tanpa kepastian, mempertanyakan keberadaan kak Stev, setiap hari menadahkan tangan meminta petunjuk. Keluarga kami kekeringan air mata, menunggu selalu menunggu tanpa kepastian, setiap hari merasa sesak dada menahan rasa rindu ...." Winda menghapus air matanya.


"Maafkan kami jika terlihat sombong, kami selalu diajarkan hidup sederhana, kami pernah makan ini, sebenarnya bukan makanan yang kami inginkan, tapi khawatir dengan Mami yang sedang mencari, menunggu kepulangan kami." Billa meneteskan air matanya merindukan Bundanya.

__ADS_1


Can memeluk Billa, menghapus air matanya. Can juga menangis mengusap wajah Winda.


"Ikan di sungai punya Winda, nanti Winda boleh membawanya pulang. Mereka berhasil menemukan Daddy Winda, mereka ada di sini karena doa Winda."


"Tu kan Winda bilang juga apa. Semua ikan di sungai punya Winda." Winda memeluk leher Steven.


Air mata Stev juag langsung menetes, mengigat wanita yang dia cintai. Windy pasti sangat kesepian, sedih, terluka selama ini.


Anak kecil juga merasakan sedih apalagi wanitanya yang hanya hitungan hari akan menjadi seorang istri, Steven merasakan sesak dadanya.


"Ya Allah, bagaimana keadaan Windy?" Steven menangis sesenggukan.


"Sabar Stev, besok pagi kalian bisa pulang." Can menetes air matanya.


Mouza menyiapkan ikan bakar untuk makan, Winda makan dengan lahap tanpa memperdulikan Mou yang melotot, Vira juga sama sampai rebutan dengan Mei.


Wildan membantu Mou membakar ikan di luar rumah, membiarkan yang lainya makan malam.


Steven duduk menatap bulan, Can juga duduk di samping Steven mempertanyakan istri Stev.


Cantika menatap lima bocah yang sedang makan sambil bertengkar.


"Siapa mereka?"


"Vira Prasetya, putri bungsu keluarga Prasetya. Dia anak dari pebisnis hebat, sedangkan twins B Putri dari keluarga Bramasta, sedangkan Wildan dan Winda keturunan Bramasta, adik dari calon istriku."


"Wow, sepertinya mereka keluarga besar."


"Sangat besar, mereka sangat akur sampai ke anak mereka. Keempat gadis kecil sudah besar, mereka belum berubah masih sering membuat masalah."


"Kamu pasti sangat merindukan calon istri kamu?"


"Rindu, aku hanya melewati satu hari tanpa bertemu, sedangkan dia sudah melewati tiga tahun berpisah. Aku hanya merasakan sakitnya ada di posisi dia yang terus menunggu, mencari tanpa tahu tujuan." Steven menutup wajahnya tidak tahan merasakan kesedihan Windy.


"Sama aku juga merindukan seseorang, Papa Mei. Sejak hamil Mei kami tidak pernah bertemu, dia tidak menginginkan kami. Aku harus berjuang membesarkan Mei, syukurnya ada Mou yang membantuku." Can juga meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Karena tidak ada yang menerima kehadiran aku, bahkan kedua orang tuaku membuang tidak mengakui lagi, jadinya hanya jauh dari kehidupan manusia cara terbaik agar hidup kami tenang."


"Kamu seorang dokter?"


"Iya, aku dokter hewan. Sekarang juga aku melakukan perawatan kepada hewan yang terluka, merawat mereka dan membuatnya menjadi jinak."


"Maaf sebelumnya, sebaiknya kamu membawa Mei dan Mou keluar dari sini, karena mereka membutuhkan pendidikan."


"Tidak Stev, kami akan tetap di sini. Aku tidak ingin Mei merasakan sakitnya kehidupan luar, Mou juga sejak kecil tinggal di hutan, dia tidak bisa beradaptasi dengan dunia luar."


Steven menatap Mei yang berjalan ke arah Stev, memanggilnya Papa ingin mencium Stev.


"Papa, jangan pernah tinggalkan Mei." Mei memeluk Stev.


"Mei Papa harus pulang, kamu bisa tinggal bersama Mama."


Steven mengusap wajah Mei, mengingatkan Steven kepada Vero saat kecil. Wajah Mei dan Vero hampir sama, Stev menatap Can dan Mei.


"Wajah kalian tidak mirip."


"Mei mirip lelaki tidak bertanggung jawab."


"Siapa Ayah Mei?" Steven melihat Mei yang mulai mengantuk dalam pelukannya."


Cantika tidak menjawab pertanyaan Stev, tangan Mei menyentuh hidung Stev, lalu menyentuh hidungnya.


"Hidung Mei dan Papa sama." Mei menggesekkan hidungnya dengan Steven.


Steven tersenyum melihat Mei, menyentuh hidung Mei, alisnya, bulu mata, juga bentuk wajahnya.


"Bagaimana keadaan Vero?" batin Steven dalam hatinya.


***

__ADS_1


__ADS_2