
Tak terasa seminggu sudah Vita bekerja di perusahaan yang belum ia ketahui bagaimana wajah atasannya sebenarnya. Padahal mereka sering berkirim pesan untuk perihal pekerjaan.
Vita begitu profesional sehingga sang atasan mulai nyaman berkomunikasi dengannya. Tak jarang sang big bos juga selalu memberinya pujian atas kerja kerasnya meskipun hanya kata 'God Job' atau hanya sekedar ucapan terima kasih. Vita sangat menyukai itu. Sebab ia merasa dihargai sebagai pekerja.
Dua puluh menit lagi Vita harus ke Bandara untuk menjemput sang atasan. Ia pun segera bersiap. Rasanya tak sabar ingin mengetahui wajah sang atasan. Bukan bermaksud genit. Hanya saja, siapapun pasti ingin tahu kan bagaimana rupa sang partner.
Apakah wujud beliau itu, pria paruh baya dengan perut yang gendut. Ataukah seperti eksekutif-eksekutif muda yang tampan. Yang keren dengan balutan jas yang menawan. Ah entahlah, bodo amat batin Vita. Menggerutu pada dirinya sendiri. Berusaha menepis keingintahuannya akan sosok yang kini jadi bosnya di kantor. Sebab baginya bekerja sesuai prosedur adalah pilihan terbaik.
Kini dia sudah berada di dalam mobil milik perusahaan. Mengendarai mobil tersebut menuju Bandara. Untuk menjemput sang atasan. Sesuai jadwal. Tak lupa Vita juga menyiapkan setumpuk map yang harus segera sang atasan tanda tangani. Karena setelah ini mereka harus langsung pergi ke sebuah hotel untuk bertemu klient mereka.
Tanpa berpikir macam-macam. Gadis ini pun langsung memarkirkan mobil yang tadi dikendarainya. Membuka pintu mobil tersebut dan segera berjalan ke lobi hotel.
Vita menilik jam yang ada di pergelangan tangannya. Lalu melihat ponsel yang ada di genggamannya. Siapa tahu ada pesan dari sang atasan. Benar saja, dua detik kemudian ada pesan dari sang atasan.
"Kamu di mana?" tulis pesan teks itu.
"Saya sudah berada di pintu kedatangan domestik, Pak!" balas Vita.
"Oke, lima menit lagi aku keluar." Balas sang atasan.
"Siap!" balas Vita. Pesan yang Vita kirim hanya dibaca. Tak ada percakapan lagi. Gadis ini pun memasukkan kembali ponsel miliknya ke kantong bajunya. Kemudian diam, dan menunggu dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
Entah mengapa tiba-tiba saja perasaan tak nyaman menghampiri gadis ini. Sebenarnya wajar jika ia gugup. Mau bagaimanapun ini adalah pertemuan pertama dengan sang atasan. Pria yang menggajinya. Pria yang mempercayakan separo urusan kantor kepadanya.
Lima belas menit berlalu. Vita masih menunggu dengan sabar. Namun sang atasan belum jua menampakkan batang hidungnya. Sedangkan seluruh penumpang yang dengan penerbangan yang sama dengan sang big bos sudah tak ada lagi.
Kemana dia? Ah mungkin dia ke toilet? batin Vita mencoba berbaik sangka. Ia pun masih setia menanti meskipun kalau boleh jujur kakinya sangat terasa pegal.
***
Di sisi lain Zein yang sedang mencari asisten barunya, malah menemukan seorang gadis yang tak lain adalah mantan adik iparnya.
Zein ingin menyapa namun takut Vita akan mengamuk di sini. Zein sangat tahu jika Vita sangat membencinya. Sebab, karena dirinyalah keluarga gadis tersebut berantakan. Namun, Zein telah berubah. Ia tak ingin tenggelam dalam lumpur dosa. Dia memiliki kesalahan, kewajibannya adalah meminta maaf.
Zein menepis sebentar rasa takutnya. Lalu, ia pun memberanikan diri hendak mendekati Vita. Namun sayang, baru beberapa langkah teleponnya berdering. Sang asisten menghubunginya.
"Maaf, apakah Bapak sudah keluar. Sebab saya lihat semua penumpang sudah keluar?" tanya sang asisten.
"Aku udah di lobi, kamu di mana?" tanya Zein.
"Saya berada tepat di depan pintu kedatangan, Pak. Pakai baju abu-abu," jawab gadis itu.
Zein yang melihat Vita sendirian dan hanya gadis itulah yang mengenakan baju berwarna abu-abu. Terlihat sedang menunggu seseorang. Zein tertegun. Diam. Pikirannya langsung berpusat pada gadis itu. Lalu, sekelebat tanya pun hadir. Mungkinkah?
__ADS_1
"Hallo, Pak. Apakah Bapak masih ada di dalam?" tanya gadis itu.
Zein tersadar dari lamunan. Pria tampan ini pun langsung menepis kegalauannya. Mengubur kegugupannya. Dengan penuh wibawa pria ini pun langsung menumbuhkan rasa profesionalismenya.
"Saya ada di belakang kamu," jawab Zein santai.
Terlihat gadis tersebut pun membalikkan badan. Sedetik kemudian mata Zein bertemu dengan mantan adik ipar yang kini menjelma menjadi sekertarisnya.
Tak ada kata yang mampu terucap dari bibir mereka berdua. Zein menurunkan ponselnya. Pun dengan gadis itu. Mereka sama-sama diam. Terkejut. Dan masih mencoba untuk menertralkan perasaan masing-masing.
Vita berjalan mendekati Zein. Begitupun dengan pria gagah ini. Meskipun dengan perasaan yang sangat amat kacau. Ia tetap memberanikan diri mendekati gadis. Apapun konsekuensinya Zein telah siap.
"Apakah kamu adalah sekertaris baruku?" tanya Zein tanpa basa basi dan sok akrab.
Sedangkan Vita menjawab pertanyaan itu dengan tatapan siap membunuh Zein.
"Di mana mobil kita? Waktu kita tinggal setengah jam lagi kan?" tanya Zein lagi. Tanpa menjawab Vita pun langsung masuk ke dalam mobil BMW berwarna hitam. Bersiap di kursi kemudi. Sedangkan Zein yang paham dengan kondisi hati gadis ini tak ingin banyak protes.
Tak ada kata. Tak ada bahasa. Yang ada hanyalah perasaan benci yang coba Vita tahan. Gadis ini berusaha menguatkan hatinya agar tidak marah sekarang. Yang ia pikirkan saat ini adalah selepas pekerjaannya hari ini, ia harus segera mengundurkan diri. Vita tak sudi bekerja pada pria yang telah menghancurkan keluarganya.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas like komen dan Votenya π₯°π₯°π₯°