
"Asem! Ngapa ni bocah kurang ajar bener! Nggak tahu apa aku setengah mati menepis bayangan ini. Malah dikirim gambar nggak jelas kek gini. Minta aku hajar asisten sialan ini!" gerutu Zein kesal.
Bukan hanya kesal, Zein sendiri juga mulai muak dengan keadaan yang menganggunya. Ia pun memilih merapikan pekerjaannya dan mengambil kunci mobil. Ia ingin melupakan sejenak aktivitas yang bisa dikatakan menguras emosi in.
Di sini, di kota ini, Zein berjanji untuk melupakan masa lalunya yang berhubungan dengan cinta. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuka lembaran baru. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang ia ingin ia dedikasikan untuk membantu anak-anak yang kurang mampu.
Persentan dengan hati. Persetan dengan cinta. Zein tak ingin memikirkan hal yang tak berguna seperti itu. Toh, saat ini dia juga sudah memiliki seorang putri. Entah diakui atau tidak. Berliana tetap darah dagingnya.
Zein tersenyum kecut saat mengingat betapa bodohnya dirinya. Pikirannya bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa sebodoh itu? Membiarkan dirinya terjerat cinta. Padahal, dulu, sebelum ia mengenal Stella, Zein adalah pria yang angkuh dan selalu menjaga diri. Agar jangan ada wanita yang bisa seenaknya saja menyentuhnya. Ya, begitulah Zein dengan harga diri yang tinggi. Dan dia sangat nyaman dengan itu.
Zein melajukan kendaraannya dengan sangat tenang. Berpikir positif, bahwa apa yang tidak Tuhan garis kan untuknya, tidak akan ia dapatkan. Meskipun mati-matian ia berjuang. Begitupun sebaliknya. Jika sesuatu itu adalah mikirnya, maka tanpa ia meminta, pasti Tuhan akan tunjukkan jalan terbaik.
Contohnya seperti sekarang. Tuhan tidak menginginkannya memiliki Vita, maka dia diberi jalan untuk menjauh dari wanita itu. Lalu apa lagi yang hendak ia pertanyaankan. Semua sudah jelas bukan. Bahwa saat ini dia belum boleh memiliki cinta. Dia belum diizinkan merengkuh rasa.
Zein tersenyum dalam diam. Sembari menikmati gemerlapnya lampu malam di kota Ujung Pandang. Kota di mana ia berjanji akan membuka lembaran baru. Dengan harapan yang baru dan juga tujuan yang baru. Zein ingin mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak yang kurang mampu. Zein ingin mendedikasikan hidupnya untuk mereka yang membutuhkan. Tidak mengejar materi semata, tetapi bekalnya diakhirat juga.
"Enak juga kota ini ya! Ya Tuhan, jika ini memang jalan hidup yang harus aku lalui, aku ikhlas," ucap Zein serius.
Untuk meluruskan niatnya, Zein pun menepikan mobilnya. Lalu men-delete nomer ponsel Vita. Zein tidak mau berhubungan dengan gadis yang kini telah dimiliki oleh pria lain. Bukan karena apa, dia hanya tak mau menyakiti diri sendiri. Itu saja. Zein tidak mau terlalu ditertawakan oleh nasib. Cukup baginya luka itu sampai di sini. Zein tak ingin menambahnya.
***
Lain Zein lain pula Lutfi. Malam semakin larut. Namun, Safira masih belum mau pulang. Ia malah asik bercengkrama dengan Vita. Membuat Lutfi yang notabene memiliki bayi menjadi geram.
"Kek gini mau jagain anakku, mimpi aja sana!" gerutu Lutfi kesal.
__ADS_1
Ingin rasanya ia mengajak wanita menjengkelkan ini pulang. Tapi kurang nyaman. Mau bagaimanapun dia adalah pekerja. Mana mungkin dia berani. Iya kan?
"Udah malem, kamu habis sakit, Sebaiknya kamu cau!" ucap Vita memberi saran.
"Ya elah, yang mau berduaan. Buku-buku amat!" serang Safira, dengan candaan seperti biasa.
"Husst, sembarangan. Belum boleh. Lagian Uis kan besok mesti ke Jakarta dulu. Baru nanti kita ketemu di Bali. Buat foto prewed," sanggah Vita jujur.
"Semangat, Wak! Aku cuma do'ain lancar sampai hari H. Ya!" ucap Safira sembari memeluk Vita.
"Aamiin! Aku juga do'ain kamu, semoga jodohmu segera datang. Kalo nggak kamu sama dia aja!" jawab Vita tak mau kalah.
"Dia siapa?" tanya Safira sembari celingukan.
"Dialah, siapa lagi." Vita cekikikan.
Obrolan dua sahabat ini tentu saja tak luput dari pendengaran Lutfi. Ia berjanji akan menguliti gadis ini di mobil nanti.
Benar saja, selepas berpamitan dengan Vita dan keluarganya, Safira dan Lutfi pun berjalan beriringan menuju mobil. Tak ada perbincangan di antara mereka berdua. Mereka terlihat seperti musuh sejati.
Di dalam mobil, suasana masih terlihat sama. Bapak satu anak ini masih belum mau berdamai dengan wanita cantik yang kini duduk di sebelahnya. Dengan tenang ia tetap menginjak pedal gasnya. Sembari menikmati wajah ayu wanita yang terlihat kesal kepadanya.
Mengingat pertengkaran terakhir mereka, membuat ide jahil pria ini muncul. Dengan senyum licik, ia pun memelancarkan niatnya. Membuat Safira marah. Pasti seru.
"Ibu saya turunkan di mana? Di rumah atau di hotel?" pancing Lutfi sengaja.
__ADS_1
"Gila lu ya, ya di rumah lah. Bisa gitu di hotel. Mau ngapain emang?" jawab Safira, langsung terpancing. Nyolot seperti api tersiram bensin.
Merasa tujuannya berhasil, Lutfi pun kembali menuangkan bensin ke dalam api emosi yang kini mulai tersulut.
"Ya siapa tahu, Ibu mau ketemuan sama ayang beb!" jawab Lutfi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kamu gila ya, dari mana kamu tahu aku ada pacar. Kamu mata-mata mama ya?" tuduh Safira kesal.
"Ya enggak lah. Emang saya cowok apaan. Nggak level, cowok secakep saya kerja jadi mata-mata. Saya cocoknya jadi pengusaha ternama, Bu!" jawab Lutfi santai. Sepertinya membuat Safira marah adalah hobi baru bapak satu anak ini.
"Hilih, cakep konon. Pengusaha apa? Manusia pelit kek kamu mana bisa jadi pengusaha. Yang ada partnermu kabur," jawab Safira ketus. Seperti biasa.
Lutfi tak mau kalah dengan pemikiran buruk tentangnya di otak Safira. Ia pun kembali melancarkan aksinya. Ia pun punya ide untuk membuat Safira senang. Lalu setelahnya ia kembali akan membuat wanita ini naik darah. Dan Lutfi sangat senang dengan itu.
"Ibu tahu nggak? Naya sekarang udah bisa duduk tahu. Giginya udah tumbuh dua," ucap Lutfi dengan senyum tampannya. Sumringah seperti tak punya dosa sedikitpun. Padahal niat terselubung nya sangat menjengkelkan.
"Benarkah? Boleh aku lihat fotonya!" pinta Safira antusias.
"Jangan! Enak aja!" jawab Lutfi tegas. Karena ini memang tujuannya. Membuat Safira marah. Kalau bisa, ia ingin membuat Safira memohon dengan ketulusan hati. Lutfi memang ingin Safira mengakui bahwa dia lebih hebat darinya.
"Pelit!" Safira masih setia menjunjung harga dirinya.
"Biarin, aku tampan!" jawab Lutfi asal.
"Tampan dari Hongkong. Dasar!" balas Safira kesal.
__ADS_1
"Dasar apa! Dasar tampan. Awas kebanyakan marah nanti naksir loh," canda Lutfi. Tadinya ingin marah dengan wanita ini karena mengajaknya pulang terlalu malam. Tapi melihat perangai Safira yang dinilai menggemaskan, tentu saja membuat Lutfi berubah pikiran. Dia malah lebih senang meledek wanita cantik ini. Entahlah, Lutfi suka saja. Baginya Safira seperti hiburan tersendiri. Menyenangkan mirip seperti Naya.
Bersambung....