PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 13 (Lutfi n Safira)


__ADS_3

Tak nyaman dengan keadaan ini, Lutfi pun mulai mau membuka suara, dengan bertanya kepada sang istri.


"Tadi naik pesawat jam berapa?" tanya Lutfi.


"Jam dua lebih lima belas menit!" jawab Safira singkat.


"Udah makan?" tanya Lutfi lagi.


Safira menggeleng.


"Mau makan apa?"


Safira menggeleng.


"Loh kenapa? Mau aku pesenin?" tanya Lutfi.


Safira menggeleng.


" Oke, kalo nggak mau makan. Aku mau tidur. Kamu kalo mau tidur, tidur aja! Ni selimutnya, pakek aja!" ucap Lutfi sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Nggak usah, aku nggak usah pakai selimut. Di sini kan dingin, kamu lagi sakit!" ucap Safira sambil merapikan kembali selimut itu ke tubuh sang suami. Lalu, Safira menarik kursi agar mendekat dengan ranjang sang suami.


Lutfi menerima selimut itu, lalu ia pun terdiam. Menunggu sang istri mengutarakan apa yang ia inginkan.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Safira.


"Tentu!"


"Apakah kamu masih marah padaku?" tanya Safira sambil menatap mata sang suami.

__ADS_1


"Tidak! Aku sama sekali tidak marah. Kamu berhak menolakku. Jadi santai saja!" jawab Lutfi ringan, seolah sudah tak menginginkan perdebatan lagi. Pria ini terlihat pasrah dengan nasib rumah tangganya. Ia tak ingin memaksa. Tak ingin memperkeruh suasana. Apapun yang Safira inginkan, baginya itu adalah jalan keluar.


Sedangkan Safira sendiri hanya menatap sang suami dengan tatapan nanar. Air mata itu nakal sekali, susah sekali dikendalikan.


"Sudah, jangan nangis! hapus air matanya. Mau bobo di sini atau mau pulang. Kalo mau bobo sini, aku minta pak Hasan buat nganterin selimut. Kalo nggak, kamu dijemput aja ya. Pulang, tidur di rumah sana Naya, mau?" tanya Lutfi.


Lagi-lagi Safira tak mau menjawab, dia hanya menggeleng. Terlihat seperti kebingungan. Membuat Lutfi ikut bingung.


Suasana hening sejenak, karena Safira masih diam. Sedangkan Lutfi sendiri masih menunggu sang istri mengutarakan apa yang dia rasakan.


Namun, pada dasarnya... menunggu adalah saat paling membosankan di dunia ini. Terlebih ketika yang ditunggu adalah sebuah kepastian. Itu sangat menyebalkan.


Seandainya Safira tidak menolaknya hari itu, mungkin saat ini Lutfi sudah meminta wanita itu naik ke ranjangnya dan menenangkannya. Atau dia akan turun dari ranjang dan memeluk wanita itu.


"Fira... " Lutfi menatap sang istri.


"Aku nggak mungkin bisa ngerti kalo kamu diam. Bicaralah, katakan apa yang kamu inginkan. Katakan apa yang kamu rasakan. Biar kita bisa nyari solusi. Kalo kamu diam begitu, masalah nggak akan kelar!" Lutfi masih mantap intens pada wanita yang kini menunduk sambil sibuk menahan air matanya. Masih diam, masih bertahan dengan sikapnya yang tak bisa Lutfi mengerti itu.


"Cobalah, Ra. Yuk kita saling terbuka. Coba katakan, apa yang sebenarnya kamu inginkan." Lutfi diam sesaat, kau ia pu melanjutkan lagi apa yang ada di pikirannya. "tapi aku nggak maksa sih, Itu kalo kamu percaya sama aku. Kalo nggak, aku nggak ya nggak pa-pa. Kamu kalo mau ke Naya, boleh kok. Nggak pa-pa. Makasih kamu udah dateng jauh-jauh. Makasih kamu udah berbaik hati mau jenguk aku. Aku udah sembuh, tinggal pemulihan aja," tambah Lutfi, tenang... sikapnya memang seperti itu kalau menghadapi Safira.


"Oke... jika kamu mau aku berterus terang, aku akan terus terang. Aku akan katakan apa yang aku rasakan. Aku akan bilang semua yang ada di hati dan pikiranku. Supaya kamu puas! pertama aku mau kamu keluar dari grup alumni itu!" pinta Safira.


Lutfi diam, lalu menyunggingkan senyum. Ia pun langsung meraih ponselnya dan menyerahkan ponsel itu pada sang istri. "Nah ambil!" ucap Lutfi sambil menyerahkan ponselnya pada sang istri.


Safira pun mengambil ponsel itu dan memeriksa satu persatu pesan chat yang ia permasalahkan. Lalu, Safira mengembalikan kembali ponsel itu.


"Udah dikeluarin?" tanya Lutfi.


Safira menggeleng.

__ADS_1


"Loh kenapa? Katanya mau tadi!" Lutfi menatap sang istri, lalu meraih tangannya dan meminta wanita itu naik ke atas ranjangnya.


"Oke, kalo kamu masih bingung dengan apa yang ada di pikiran kamu, lebih baik kamu tidur. Tenangkan pikiran. Sini, baring sini!" ajak Lutfi, lalu menggeser tubuhnya, agar ada tempat untuk sang istri.


Entah ini keputusan salah atau benar, Lutfi hanya ingin menunjukkan pada Safira, bahwa dia tak sendiri. Ada dirinya yang siap mendengarkan keluh kesahnya. Ada dirinya yang siap menjadi pelindung sekaligus teman seperti yang Safira inginkan.


Safira tidak menolak, ia pun merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Lalu menjadikan lengan pria itu sebagai bantal. Memeluk erat pria itu. Tanpa malu Safira juga menyembunyikan wajahnya di ketiak sang suami. Menyembunyikan kesedihannya di sana.


Lutfi sendiri tidak menolak atau pun bertanya. Bagi Lutfi, jiwa raganya adalah milik Safira, terserah Safira mau melakukan apa. Lutfi pasrah. Lutfi tak mau jual mahal. Agar Safira juga paham, bahwa hubungan suami istri bukan untuk main-main. Hubungan suami istri tidak boleh mengedepankan ego.


Tak ada perbincangan lain. Lutfi membalas pelukan Safira. Lalu mengelus penuh kasih sayang punggung sang istri. Tak ada maksud lagi, Lutfi hanya ingin menunjukkan pada wanita ini, bahwa dia tidak marah. Bahwa dia baik-baik saja dengan penolakan itu. Bahwa Safira tak perlu merasa takut padanya.


***


Di lain pihak, Kirana dan Vita sengaja tidak buru-buru pulang. Mereka pun sepakat mencari tempat yang nyaman untuk saling bertukar pikiran.


"Jadi suamimu sekarang lagi masa pemulihan?" tanya Kirana.


"Ya! anda benar, Bu dokter!" jawab Vita.


"Okelah, semoga cepet pulih. Tapi perkembangannya cukup bagus kok, tekat dia kuat. Aku seneng dengernya!" ucap Kirana.


"Ya, begitulah hidup. Ujiannya beda-beda ya, Bu!" ucap Vita sambil menatap lepas ke arah mata memandang.


"Bener, Bu. Aku juga pernah gagal nikah, sekarang rasanya nggak ingin kenal sama laki lagi. Maksudku untuk urusan hati. Aku lebih nyaman sendiri." Kirana tersenyum sekilas.


"Sabar, Bu. Insya Allah tulang punggungmu sedang otewe," jawab Vita. Lalu keduanya pun tertawa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2