
Di sisi lain, ada seorang pria sedang berjuang mempertahankan haknya. Mempertahankan apa yang selama ini ia perjuangkan. Namun semua tampak sia-sia ketika ia tahu bahwa keluarganya sendirilah yang memanipulasi semua keadaan ini.
Di dalam rapat yang kini dia hadiri, Zein kalah telak. Tak berkutik. Tak bisa membatah satu katapun.
Sebelum rapat dimulai, Zein mendapatkan kabar bahwa sang ibu ditahan, karena penggunaan zat terlarang. Sedangkan sang ayah, diam-diam telah menjual seluruh saham dan menggadaikan seluruh aset keluarga.
Beberapa orang tiba-tiba datang ke kantornya. Mengajaknya membahas masalah penting ini. Mereka mempertanyakan hak mereka. Awalnya Zein bingung. Tentu saja ia tak mau mengalah. Karena merasa tak menjual apapun. Apa lagi menggadaikan aset keluarganya. Tetapi setelah ia membaca berkas-berkas dan juga surat perjanjian itu, barulah ia menyadari bahwa ini semua memang ulah sang ayah. Persis seperti yang pernah Rehan sampaikan.
Zein lengah, ia hanya percaya bahwa Agus tak mungkin sebodoh ini. Tetapi kenyataan berkata lain. Agus bukan hanya bodoh, tetapi juga bangsat. Dia bukan hanya menggadaikan asetnya sendiri, tetapi juga hasil kerja keras Zein selama ini.
Detik ini dunia Zein serasa runtuh. Beberapa orang datang menyerangnya. Membawa setumpuk bukti tentang kelakuan Agus, dan semuanya real. Sebab surat-surat perjanjian tersebut telah Agus tanda tangani di atas materai. Bukan hanya itu, semua surat itu juga telah di sahkan ke pengadilan.
Zein tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Pria ini diam terpaku. Waktu satu tahun yang diberikan Agus padanya ternyata hanya sebuah tipuan belaka.
Itu hanya akal-akalan Agus, agar dia bisa melarikan diri dan menjadikan Zein sebagai umpan untuk para koleganya.
__ADS_1
Selepas menghadiri pertemuan yang menghancurkannya itu, Zein hanya bisa berdiri, bergeming, menatap gedung-gedung tinggi yang berbaris rapi di depannya.
Sumpah serapah untuk pria yang telah membesarkannya itu juga terucap di dalam hati Zein. Andai pria itu ada di depan matanya, ingin rasanya Zein mengulitinya hidup-hidup. Agar dia sadar, bahwa hidup tak melulu tentang wanita. Bahwa hidup tak melulu tentang ***. Bahwa hidup tak melulu tentang harta.
Ada yang lebih penting dari itu yaitu harga diri dan kebaikan hati. Mengapa dia begitu sombong dan bodoh! Astaga.
"Dasar biadab! Brengsek! Awas saja kamu!" teriak Zein kesal.
Beberapa kali Zein berteriak kesal. Mengungkapkan segala sakit hati dan kecewa yang ia rasakan untuk kedua orang tuanya. Mengapa mereka begitu tega menghancurkannya? Bukan hanya menghancurkan hatinya. Tetapi juga harga dirinya.
Zein ingin meminta bantuan pada mereka, namun malu. Malu karena dulu dia telah menyakiti hati mereka. Dia telah melakukan kesalahan yang tak pantas di maafkan. Zein hanya bisa pasrah pada nasibnya sekarang. Terserah angin, mau membawanya ke mana. Zein seperti terobang-abing dalam angan. Masih belum bisa memutuskan apa yang terbaik untuk nya.
***
Kabar kehancuran keluarga Zein telah di terima oleh Sera. Wanita ini tertawa puas. Meskipun bukan dirinya yang melakukan itu, tapi kenyataan itu sudah cukup membuatnya puas. Sesuatu yang ia harapkan. Sesuatu yang sangat ia nanti. Sera juga senang, sebab ia tak perlu bekerja keras untuk menelanjangi mereka. Cukup melihat dan mendoakan saja. Pada kenyataannya, mereka termakan oleh kelalaian mereka sendiri. Termakan oleh kesombongan dan kebodohan mereka sendiri.
__ADS_1
"Berikan padaku, list perusahaan yang menyerang mereka!" pinta Sera kepada asistennya.
Dengan cepat pria itu pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi sesuatu yang Sera inginkan.
Sera diam sesaat. Membaca satu persatu perusahaan yang telah berhasil mengambil alih perusahaan milik keluarga Zein.
"Tunggu! Mereka bukan hanya mengambil perusahaan, tetapi juga seluruh aset keluarga Anggara?" tanya Sera terkejut. Sebab ia pikir yang hilang hanyalah perusahaan. Bukan seluruh harta keluarga itu.
"Iya, Nyonya. Seluruh aset keluarga Anggara telah digadaikan oleh Agus untuk bermain judi, Jalan-jalan dan juga bermain perempuan. Bukan hanya Agus yang menggadaikan, tetapi istrinya juga," jawab pria yang di percaya Sera sebagai salah satu asistennya itu.
"Gila," gumam Sera.
Kali ini wanita ini tidak lagi tertawa. Terbesit rasa kasihan di dalam benaknya. Mau bagaimanapun ia tahu rasanya bekerja mempertahankan apa yang di miliki. Memperjuangkan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi sekarang, seorang pria pekerja keras yang tangguh harus menerima kekalahan akibat kebodohan orang tuanya. Rasanya Sera tak sanggup membayangkan itu.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf jika masih ada Typo. Makasih like n komennya😍