
Kebahagiaan itu adalah tujuan setiap insan. Sedangkan kecewa adalah jalan untuk menuju tujuan tersebut. Jadi, jika ingin bahagia, bukankah mau tak mau harus melewati jalan itu. Jalan bernama kecewa untuk menuju kebahagiaan.
Segala hal memang ada kuncinya. Setiap masalah pasti ada solusinya. Maka bersabar dan tetap berusaha adalah pilihan terbaik. Sabar menghadapi setiap rintangan yang ada serta berjuang dengan keikhlasan hati adalah kewajiban kita menuju suatu keberhasilan untuk memeluk kebahagiaan.
"Jangan menangis! percayalah kebahagiaan sedang menanti kita," tulis Rehan dalam pesan teksnya untuk Renata. Sedangkan Renata hanya membaca pesan itu, tanpa mau membalasnya. Sebab, ia tahu. Jika ia membalas pesan itu, ia yakin, pasti tak akan sanggup menahan sakit di hatinya. Renata takut tak bisa menahan sesak di dadanya dan menumpahkan tangisnya di sini. Gadis ini juga tak ingin jika adik sepupunya menyadari apa yang ia rasakan saat ini.
Rehan sedikit tenang, karena beberapa hari yang lalu ia sudah menyampaikan apa yang inginkan kepada ibunya. Sang ibu tidak marah ataupun menyanggah apa yang dirasakan oleh sang putra. Namun, sang ibu memintanya bersabar. Agar beliau sendiri juga memiliki waktu untuk menjelaskan ini pada keluarga Isabela.
Andai Rehan tidak telat mengutarakan permasalahannya ini. Mungkin perjodohan ini tidak akan terjadi. Mungkin mereka malah akan mendukung Rehan untuk mencari gadis pilihan hatinya tersebut. Apalagi ketika mereka tahu, bahwa gadis pilihan hati Rehan adalah gadis lemah lembut yang mereka kenal juga. Diam-diam, ibunya Rehan juga menyukai Renata.
"Kok nggak dibales, kenapa?" tulis Rehan lagi. Renata kembali melihat ponselnya. Lalu menatap Rehan sekilas. Begitupun dengan Rehan. Bapak satu anak ini pun menatap gadis cantik itu Terlihat mata gadis itu berkaca-kaca. Tergambar jelas di sana bahwa hati gadis itu sedang merasakan sakit yang teramat sangat. Sepertinya cemburu dan rasa ketidakrelaan sedang meremas ulu hati gadis ini.
Andai tak ada Isabela. Mungkin saat ini Rehan sudah mendatangi gadis itu. Memeluknya dan menenangkannya. Memberitahu gadis itu, bahwa saat ini dia juga sedang berjuang mencari solusi terbaik untuk hubungan mereka.
"Percayalah, Kekasihku. Bahwa saat ini aku pun sedang berjuang mendapatkan restu untuk kita. Untuk aku dan kamu. Untuk cinta kita. Oia kamu dapat salam dari Kania. Dia bilang makasih udah mau sayang sama papanya," tulis Rehan lagi. Kali ini Renata terlihat tersenyum saat membaca pesan itu. Air mata yang tadinya sanggup ia tahan, kini malah meluncur begitu saja.
Salam dari Kania seakan membuat gadis ini mengingat pertemuan pertamanya dengan gadis cilik itu.
Sore itu Kania mampir ke toko kue di mana ia bekerja. Gadis itu menangis karena kue kesukaannya habis. Lalu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang Kania pun membujuk gadis cilik itu, agar jangan menangis. Kemudian ia pun mengajak Kania berbincang. Bocah cantik itu bilang, bahwa ia sangat menyukai kue itu. Karena itu adalah kue yang sering papanya bawa untuknya jika pulang ke kampung. Itu sebabnya ia selalu menginginkan kue itu jika rindu dengan Rehan.
__ADS_1
Kali ini Renata mau membalas pesan itu. "Dia menyayangimu." tulis Renata dalam pesan teksnya.
"Aku tahu! Dia juga suka sama kamu," balas Rehan. Beberapa detik kemudian mereka saling menatap dan melempar senyum. Entah mengapa membicarakan Kania seperti memberikan semangat untuk mereka berdua. Rehan dan Renata malah suka membahas gadis cilik itu. Karena tanpa mereka sadari, membahas Kania ternyata sedikit membantu mereka, melupakan masalah yang kini merundung mereka.
***
Berbeda dengan Rehan yang kini sedang memperjuangkan cintanya. Ada Juan yang sedang bingung memikirkan cara untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada sang istri.
Mengingat jam di mana ia harus mempertemukan sang istri dengan ibu sambungnya semakin dekat.
Juan hanya takut, Stella tak mampu menanggung apa yang sebenarnya terjadi di dalam hidupnya. Hancurnya keluarganya, ayahnya di penjara, sang ibu kena gangguan mental, malah sang adik bekerja pada mantan suaminya. Namun satu yang membuat Juan sedikit gocang. Yaitu, kenyataan bahwa Stella sebenarnya adalah putri kandung Sera. itu adalah kenyataan paling mengerikan yang mungkin akan membuat Stella tidak percaya diri.
"Mam!" ucap Juan mencoba membuka obrolan bersama sang suami.
"Ya!" sambut Stella.
"Ada sesuatu yang mau Papi sampaikan. Tapi Mami janji ya, jangan kaget ... ya. Jangan sedih!" ucap Juan lembut.
"Ya, kaget kenapa, Pi? Sedih kenapa?" tanya Stella.
__ADS_1
"Maaf kalau selama ini Papi belum bisa terbuka pada Mami. Tentang kondisi keluarga Mami saat ini," ucap Juan, ditatapnya mata wanita yang sangat dicintainya itu. Berharap, sang wanita paham dengan apa yang ia rasakan selama ini. Betapa berat menyimpan rahasia itu selama ini.
"Iya, Mami tahu. Kan Papi udah bilang hari itu. Papi belum bisa jujur sama Mami karena Papi nggak mau Mami sedih kan. Terus depresi lagi," jawab Stella.
"Iya, Mam. Itu maksud, Papi. Tetapi ini lebih dari itu. Papi sangat takut
Mami tidak percaya pada Papi lagi. Karena Papi menyembunyikan fakta ini terhitung dari awal pernikahan kita, Mam," jawab Juan. Suaranya terdengar bergetar di akhir. Mungkin dia membagi serius dengan perkataannya.
"Maksud Papi, apa?" desak Stella.
Juan menatap intens mata sang istri. Memastikan bahwa sang istri sanggup mendengar kabar yang hendak ia sampaikan. Namun, jika ditanya Juan masih ragu sangat-sangat ragu. Apa lagi mereka berada di tempat umum seperti ini.
Juan merangkul Stella dan memberikan sebuah kecupan penuh cinta di kening sang istri. Bukan hanya itu, pria ini juga mengelus lengan sang istri. Seperti sedang memberikan kekuatan untuk wanita ayu ini.
"Apapun yang terjadi nanti, Mam. Papi harap Mami jangan sampai kelewatan sedihnya. Boleh sedih, boleh nangis tapi Papi mohon, Mami harus tetap ingat Papi, ingat Berliana bahwa kami sangat membutuhkanmu, Mam. Oke!" ucap Juan sedikit takut. Maklum Juan sangat tahu bagaimana Stella, bagaimana sang istri.
"Iya, Pi. Mami mengerti," jawab Stella lirih.
Bersambung....
__ADS_1