
Sejak mendapatkan kejutan dari Juan malam itu, Stella semakin menghargai hidupnya. Menjaga dengan baik bayi yang ada di dalam kandungannya. Memakan makanan yang sehat. Rajin olahraga, selalu makan buah dan juga vitamin. Seperti anjuran dokter.
Tak terasa usia kandungan Stella telah memasuki Tri semester kedua, yang itu artinya bayi yang ada di rahim tersebut bisa diketahui jenis kelamin beserta posisi atau tata letaknya. Sudah mulai memutar atau belum. Sudah berada masuk ke posisi yang aman atau belum. Dalam keadaan sehat atau tidak. Dan, semua yang Stella dan Juan inginkan seperti terpenuhi. Bayi mereka dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
Sebenarnya di kehamilan pertamanya ini, Stella sangat manja dengan sang suami. Entah mengapa Stella suka sekali dengan apa yang di pakai oleh Juan. Diam-diam Stella suka mencium kaos atau kemeja bekas pakai Juan. Entahlah, rasanya ia menemukan ketenangan jika mencium aroma parfume milik Juan. Sepertinya bayi yang ada di kandungan Stella juga jatuh cinta pada Juan.
Bukan hanya aroma baju pria itu. Stella juga suka sisa makanan atau minuman yang di makan oleh pria tersebut. Tentu saja, ini tanpa sepengetahuan pria itu. Diam-diam, Stella juga sekali mengajak Juan bicara, bermaksud agar Juan tak menghabiskan makanan atau minuman yang sedang dia nikmati. Agar Stella bisa memakannya nanti, setelah Juan pergi.
Perangai aneh ini sudah terjadi sebulan yang lalu. Ketika si jabang bayi rewel. Tak bisa makan atau minum apapun. Sampai membuat Juan pusing. Akhirnya pria ini berinisiatif selalu mencela masakan Stella, hingga mau tak mau Stella pun mencicipi makanan yang ada di piring Juan. Dari situ, dimulailah hobi baru wanita cantik ini. Memakan makanan bekas Juan, meminum apapun yang Juan minum. Selain kopi. Beruntungnya Juan tak pernah meminum minuman yang punya kadar alkohol, hanya sesekali saja ia minum soda.
Pernah suatu malam Stella merengek, menginginkan minuman bersoda bekas minum Juan. Namun, dengan kekeh Juan tak mengizinkan sang istri meminum itu. Alhasil, Stella menangis. Menuduh Juan jahat dan pelit padanya. Pria tampan ini hanya bisa menggeleng geli. Tingkah sang istri seperti anak kecil. Tak bisa dikasih tahu dan selalu kekeh dengan apa yang dia mau.
__ADS_1
Untuk meredam kekesalan sang istri, terpaksa malam-malam Juan membuatkan segelas jus jeruk. Untungnya rasa asam pada jeruk itu sanggup meredakan keinginan aneh sang istri. Sambil sesegukan Stella masih mau meminumnya.
"Enak?" tanya Juan sembari tersenyum menahan tawa.
"Enak," jawab Stella lugu, masih sesegukan, namun berusaha meredam tangisnya.
"Ayo mau apa lagi?" pancing Juan.
" Nggak, ini udah," jawab Stella, sambil memberikan gelas bekas minumnya pada sang suami.
Untuk mendinginkan mata sang istri sehabis menangis, Juan pun mengambil handuk kecil dan membasahinya. Memerasnya, lalu mengelap wajah dan pelupuk mata sang istri agar wajahnya kembali segar dan nyaman.
__ADS_1
Stella hanya menurut, tak menolak, apa lagi protes. Malahan dia suka jika Juan bersikap peduli padanya. Stella suka jika Juan bersikap seperti seorang kakak pada adiknya. Lembut, seperti seorang ayah pada anaknya. Seperti seorang sahabat sejati. Seperti seorang suami pada istri. Pokoknya, bagi Stella... Juan adalah paket komplit. Stella bahagia bisa menjadi bagian dari hidup Juan.
***
Zein sudah sampai di Manado. Semua yang ia perlukan sudah tersedia. Tinggal berangkat ke tempat paman dan bibi Stella berada. Jujur Zein sedikit merasa kurang berani pergi ke sana. Tentu saja, Zein takut keluarga Stella akan marah padanya. Menyalahkannya atas hancurnya keluarga Stella. Hancurnya rumah tangga adik mereka dan yang paling Zein takutkan adalah, bagaimana jika ternyata Stella tak ada di sana. Bagaimana jika mereka malah balik bertanya. ia akan menjawab apa.
Pria ini diam tertegun. Mencoba mencari dulu jawaban atas semua pertanyaan yang mungkin akan keluarga Stella tanyakan padanya. Zein menyadari jika apa yang sedang ia hadapi sangatlah rumit, tapi mau tak mau ia harus tetap menghadapinya. Bertanggungjawab atas semua kekacauan yang ia ciptakan. Bertanggungjawab atas semua masalah yang ia buat.
Mobil yang hendak mengantarkannya ke tempat tujuan sudah bersiap di lobi. Tinggal dirinya turun, dan mereka bisa berangkat.
Beberapa kali terlihat Zein menghela napas berat. Berusaha menguatkan mentalnya untuk menghadapi apa yang harusnya terjadi. Apapun itu, bagaimanapun itu. Ia harus tetap siap.
__ADS_1
Bersambung....
Like komen dan krisannya selalu kunanti...