PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
BELUM BISA MENERIMA


__ADS_3

Stella masih belum menyadari, bahwa adiknya dan juga sang suami telah membuat rencana untuk memberinya kejutan.


Wanita ini masih terlihat santai dengan baju kebesarannya di rumah. Memakai daster dan apron kesayangannya. Untuk memasak dan membersihkan sendiri rumah kecil yang ia sewa dari salah satu teman Sera. Sehingga ia mendapatkan biaya sewa yang tidak terlalu mahal.


Aktivitas Stella sedikit terganggu dengan suara tangisan baby manis yang baru saja bangun dari tidur. Apa lagi, saat ini sang onty tersayang sedang menganggunya.


"Vita!" panggil Stella sedikit berteriak, atau lebih tepatnya memperingatkan gadis cantik itu.


"Apa sih kak? memang cookie nakal, dia sendiri yang maunya nangis terus. Huuuu, dasar bocil nakal, jelek. Tukang nangis! Tukang ngadu! Huuuuu!" jawab Vita sambil mencium pipi gembul gadis mungil ini. Cookie adalah panggilan kesayangan Vita untuk Berliana.


Stella meletakkan spatula yang ia pegang. Lalu berjalan ke arah dia gadis beda usia yang saat ini sedang membuat keributan.


"Oh, Sayang! Sini sama Mami. Ontymu memang menyebalkan, uuuu, tayang-tayang, maaf ya!" ucap Stella menenangkan sang baby. Merasa ada yang membela, Berliana semakin merajuk dan mengoceh tak karuan. Seperti sedang mengadu.


"Iya Mami tahu, ontymu memang nakal, Sayang. Udah cup, yuk sama Mami aja yuk. Mari kita tinggalkan wanita menyebalkan ini, oke," ucap Stella, sembari sibuk menenangkan sang baby. Sedangkan Vita semakin bersemangat membuat Berliana semakin menangis.


"Dasar cengeng, tukang ngadu, sini lawan onty kalo berani. Hemmm, hemmm!" tantang Vita sembari menaikkan lengan bajunya. Terang saja, apa yang ia lakukan semakin membuat Berliana menangis kesal. Vita semakin senang. Tak lupa ia juga mengikuti langkah sang kakak sambil menggoda Berliana.

__ADS_1


Berliana sendiri semakin kesal. Terbukti tangisnya semakin kencang membuat Stella geram.


"Vita! Astaga!" Stella mulai tak bisa menahan kekesalannya.


Vita, gadis super iseng itu pun kembali mencolek pipi Berliana gemas. Berliana kembali menjerit marah. Vita tertawa senang.


"Jangan takut, Dek. Mari kita hadapi wanita menyebalkan itu bersama. Nanti kalo calon om kamu datang, kita suruh saja dia bawa gadis jelek ini oke. Sudah cup, Sayang. Cup, pinter" ucap Stella sembari menggoyang-goyangkan tubuh sang putri.


Jangan panggil dia Vita kalau tak banyak akal. Dengan gemas, ia pun menangkap tubuh sang kakak dan memeluknya erat. Seakan hendak menguasai Stella. Terang saja, Berliana kembali menangis.


Kali ini Stella tak mampu menahan kesabarannya lagi, ia pun segera memukul dan mengejar Vita dengan spatula miliknya.


"Tidak kena! tidak kena!" ledek Vita bahagia. Sedangkan Stella tak mungkin menuruti ajakan gadis menyebalkan itu untuk bermain lari-larian. Terlebih Berliana membutuhkannya. Gadis cilik itu menangis kesal. Akhirnya Stella pun memutuskan untuk tidak meladeni kekoyolan Vita dan berniat kembali menenangkan putrinya.


"Cup, Sayang! Jangan nangis lagi heemm! Nanti kita telpon papi. Kita ngadu ke papi ya, biar onty diomelin. Biar onty tahu rasa heemmm!" ucap Stella sembari mengelus rambut dan pundak sang putri.


Tanpa Stella sadari, ternyata Juan sudah ada di belakangnya dan membalas ucapannya itu dengan suara berat khas pria tersebut.

__ADS_1


"Siapa yang berani nakalin putri kesayangan, Papi, ha? Sini, mari Papi pukul!" balas Juan dengan nada lembut seperti biasa.


Spontan tangisan Berliana terhenti. Namun, gantian, Stella yang tertegun. Tidak menyangka ia akan mendengar suara itu secara langsung. Wanita ini masih diam terpaku, tak berani membalikka tubuhnya. Di samping keadaannya yang saat ini berantakan, ia juga berpikir bahwa apa yang ia dengar hanyalah sebuah halusinasi. Mungkin dia sudah kelewat merindukan Juan. Makanya tanpa sadar, ia mendengar suara pria tersebut.


Stella masih saja diam. Sedangakan Berliana malah tertawa girang. Bagaimana tidak? Super hero nya telah datang. Pembelanya sekarang ada di depan matanya. Gadis cilik ini yakin, jika sang ayah pasti tak akan membiarkan siapapun membuatnya menangis kesal. Termasuk Vita.


"Sini sama Papi, Sayang. Uluhhh, kesayangan Papi. Bilang siapa yang bikin adek nangis hemm?" tanya Juan seraya mengambil sang putri dari gendongan wanita yang kini masih bergeming, tertegun, tanpa kata itu.


Stella tidak melarang Juan mengambil Berliana darinya. Ia terkesan membiarkan. Karena, mau bagaimanapun ia tak mau disebut ibu yang jahat. Ibu yang egois. Hanya karena masalah pribadinya, ia tega melukaimu perasaan Berliana. Berliana berhak bertemu dengan cinta pertamanya. Bukankah begitu?


Vita tak tinggal diam. Ia sangat tahu jika sang kakak pasti tekejut. Tidak menyangka bahwa sang suami telah menemukannya.


"Heeemmm, ada papi ya sekarang ha? Uluh uluh merajuk. Ngadu! Dasar cookie tukang ngadu!" ledek Vita, bermaksud mencairkan suasana.


Sayangnya, candaan Vita disambut dingin oleh Stella. Tanpa bicara ia pun meninggalkan ruang tamu itu dan masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya. Stella marah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2