
Di dalam mobil Vita masih saja diam. Sesekali gadis ini terlihat menghapus air mata. Sedangkan Zein hanya melirik lucu. Pria ini malah tersenyum geli melihat tingkah konyol sang mantan adik ipar. Dalam pikiran pria ini berkata, ternyata melihat Vita, serasa melihat Stella versi remaja. Sungguh menggemaskan. Terkadang cengeng. Terkadang judes, namun tetap mempesona. Entahlah, Zein hanya suka saja. Apa lagi jika Vita dalam keadaan kesal. Rasanya ingin sekali mencium bibir gadis itu.
Eh, apa sih yang aku pikirkan. Gila aja aku pengen nyium bocah cilik ke gini. Apaan! gerutu Zein dalam hati. Kembali pria tampan ini melirik gadis yang masih ngambek di sampingnya. Sesekali ia mengidik ngeri, mengingat betapa kotornya keinginan yang baru saja menghinggapi pikirannya. Sedangkan gadis manis yang kini masih terlihat fokus pada jalanan yang mereka lewati. Seketika tersadar. Bahwa jalanan yang kini mereka lewati bukan jalan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Vita bingung.
"Kenapa sekarang pak, tadi abang?" ledek Zein, kembali melirik gemas pada gadis yang ada di sebelahnya.
"Ya kan lain, ini kan formal, Bapak!" jawab Vita. Ketus seperti biasa.
"Dih, bisa begitu," balas Zein.
"Biarin, suka-suka aku lah," gerutu Vita. Lirih, hampir tak terdengar. Namun, Zein yang masih memiliki pendengaran yang tajam. Pastinya ia pun mendengar kalimat yang diucapkan oleh mantan adik iparnya ini dengan jelas, tanpa kurang satu katapun.
"Kamu umur berapa sih?" tanya Zein dengan nada kesal.
Vita tak menjawab, gadis ini malah melirik benci pada pria yang bertanya sesuatu, yang baginya tak masuk akal itu. Sekaligus tidak penting.
"Gitu amat ngliriknya! Cuma ditanya umur aja ngambek. Kamu umur berapa Vita. Udah pacaran belum?" ledek Zein.
Vita membuang pandangannya. Enggan meladeni pertanyaan yang baginya hanyalah sebuah ledekan belaka.
"Dih, ditanya kok nggak jawab. Bisu ya?
Kenapa? Takut ku aduin sama kakakmu ya?" ucap Zein, mengulang pertanyaan yang belum mau Vita jawab.
"Apaan sih? Emang siapa kamu bisa ngadu-ngadu ke kakak. Lagian kalian udah nggak ada hubungan apa-apa kan?" balas Vita kesal. Diliriknya pria yang ada di sampingnya dengan lirikkan ingin mencakar.
__ADS_1
"Biasa aja kali, Neng. Cuma ditanya umur aja marah. Pantesan kamu jomblo, galak sih," ledek Zein lagi. Kali ini pria ini semakin gencar melancarkan ledek annya. Karena ia memang
"Ngapain sih tanya-tanya hal pribadi. Urus diri sendiri ngapa!" balas Vita masih dengan perasaan marah terhadap pria di sampingnya ini. Sepertinya gadis ini memang sangat membenci Zein.
"Ya kan aku cuma nanya, apa salahnya sih!" Zein terlihat cemberut. Sedangkan Vita enggan meladeni pria menjengkelkan ini. Baginya pernyataan Zein tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi tidak penting dan tidak perlu dijawab.
Sedetik kemudian suasana di mobil menjadi hening. Vita dan Zein kembali bermain dengan pikirannya masing-masing. Vita dengan rasa kesalnya. Sedangkan Zein dengan rasa rindunya pada sang mantan istri. Namun, perlahan rasa rindu itu kini sedikit memudar. Sebab, tanpa Zein sadari ada seseorang yang perlahan sanggup menghapus rindu itu. Yaitu gadis yang mirip dengan pemilik rindu itu. Gadis yang memiliki senyum yang sama dengan wanita itu. Entahlah, meskipun itu hanyalah angan fana, namun jujur Zein cukup merasa bahagia.
***
Di sudut ruang yang lain, kini ada Stella yang celingukan mencari keberadaan ibu Anti. Wanita yang ia anggap sebagai ibu kandungnya. Hampir sepuluh menit dia berada di dalam rumah Sera. Namun mengapa sang ibu tercinta tidak menampakkan barang hidungnya.
"Tan, ibu mana ya?" akhirnya Stella tak sanggup lagi menahan keinginannya untuk bertanya. Tentu saja rasa penasaran menghantuinya.
"Ibumu?" Sera menatap Juan. Begitupun dengan Juan.
Namun, mereka berdua tak punya pilihan lain selain berkata jujur pada wanita cantik ini. Mau besok mau kapanpun Stella harus tahu. Mau tak mau mereka harus jujur pada wanita ini. Terbuka dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi begini, Ste. Tante harap kamu bisa legowo. Bisa rela dengan apa yang terjadi pada ibumu," ucap Sera. Pelan, lembut, selembut yang ia bisa. Agar Stella tidak shock.
"Rela kenapa, Tan? Please Tan, jangan muter-muter. Langsung aja katakan, ada apa sebenarnya? Pi, Papi pasti tahu kan apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Stella penasaran.
"Papi memang tahu, Mam. Tapi Papi mohon Mami dengerin baik-baik apa yang hendak Papi sampaikan. Jangan memotong sedikitpun. Mami siap?" Juan menatap Stella. Begitupun dengan wanita ayu itu.
Tak lupa Juan juga memegang kedua tangan wanita yang sangat dicintainya ini. Berharap Stella kuat, ketika mendengar kenyataan yang hendak ia sampaikan.
"Papi bilang aja! Sebenarnya ada apaan? Jangan bikin Mami terlihat bodoh begini, Pi!" pinta Stella memohon.
__ADS_1
Untuk memastikan semuanya telah siap. Juan pun meminta persetujuan Sera. Untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dan Sera menyetujui itu dengan menganggukkam kepalanya.
"Jadi begini, Mam. Mami ingatkan Papi pernah cerita kalau ibu sama ayah udah berpisah, mereka bercerai?" tanya Juan serius.
"Ya, Mami ingat. Lalu?" Stella menatap Juan. Dengan tatapan serius tentunya.
"Sebenarnya, setelah perceraian itu... ibu!" Juan kembali menatap Stella. Sedangkan Stella tetap setia menunggu Juan melanjutkan ucapannya.
"Ya, lalu ibu kenapa Pi?" tanya Stella.
"Ibu ... ibu tak mampu menangung goncangan yang terjadi, Mam. Sehingga mengakibatkan jiwa beliau terluka," jawab Juan pelan. Tujuannya tetap sama, tak ingin Stella shock.
"Maksud Papi apa sih?" desak Stella.
"Ibu sakit, Mam." Suara Juan mulai enggan keluar, sebab ia tahu jika kalimat berikutnya yang akan keluar adalah kalimat yang mungkin akan membuat jika sang istri terguncang.
"Oh, ibu sakit. Sakit apa Pi?" tanya Stella. Masih belum bisa menangkap apa yang suami dan juga Sera maksud.
"Ibu sakit ...." Juan menatap Sera. Sedangkan Sera pun sama. Mereka berdua saling menatap seakan salin memberikan isyarat bahwa sebaiknya mereka bertukar peran untuk mengatakan kejujuran ini pada Stella.
"Ibumu mengalami ganguan mental, Stella. Karena kehilangan dirimu dan juga perlakuan ayahmu yang tidak manusiawi," ucap Sera, langsung pada inti perbincangan mereka.
Seketika Stella tertegun. Diam, tanpa berucap sepatah katapun. Begitupun dengan Juan. Pria ini juga diam. Namun tetap memerhatikan sang istri. Kenyataan ini tak bisa diabaikan. Amu tak mau harus dihadapi. Meskipun pada kenyataannya Juan sangat takut. Takut jika Stella kembali ke masa itu. Masa pertama kali mereka bertemu.
Benar saja, persis seperti yang Juan takutkan. Seketika Stella langsung ambruk. Tak sadarkan diri. Stella pingsan.
Bersambung.....
__ADS_1
Makasih yang masih mengikuti sampai detik ini. π₯°