PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
HARUS MEMILIH


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Juan masih berusaha mencari Stella di sekitaran Jakarta. Di Batam, Juan juga meminta Gani untuk membantunya mencari. Namun sayang, kabar tentang wanita itu belum ia dapatkan. Ingin sekali dia pergi ke Manado dan mencari wanita itu di sana. Namun, ia tak ingin melukai hati sang mertua. Mau bagaimana pun Anti baru saja sembuh dari keterpurukannya. Juan hanya tak ingin menambah beban mental wanita itu. Dengan memberinya kabar yang menyakitkan seperti ini.


"Gimana Jun? Apakah Stella sudah memberimu kabar?" tanya Rehan.


"Belum, Re. Vita juga nggak bisa dihubungi. Aku pengen ke Manado, tapi aku takut bikin ibu mertuaku shock. Lu tahu kan beliau belum lama sembuh. Tolong tanyain pacar elu dong, Re. Siapa saja teman Stella selain dia!" pinta Juan sedih. Sungguh otaknya berasa mau meledak jika memikirkan diri.


"Renata juga nggak tahu. Stella itu nggak pandai bergaul, Jun. Makanya nggak banyak punya teman. Sepertinya Vita juga ikut dengan dia, makanya nggak bisa dihubungi," tebak Rehan.


"Astaga! Kenapa otakku nggak bisa diajak berpikir begini. Stella! Di mana kamu sayang," ucap Juan menyesal. Tak terasa air matanya kembali meluncur. Mengingat betapa jahatnya dia terhadap wanita itu. Wanita yang pernah ia perjuangkan. Wanita yang pernah ia sembuhkan lukanya. Lalu, kini, dia sendiri yang memberikan luka baru.


Ingatan itu begitu melekat sempurna dalam pikiran Juan. Kebodohan dan juga keteledorannya nyatanya tega membuat hati sang wanita tersayat. Juan menyesal.


"Yang sabar, Jun. Kita do'ain semoga anak dan istri lu baik-baik saja. Coba lu ke Manado saja. Jangan ke tempat ibu sambungnya Ste, tapi ke tempat ibu kandungnya. Siapa tahu beliau mau bantu elu," jawab Rehan mengingatkan.

__ADS_1


"Kamu nggak kenal tante Sera, Re. Jangan menganggap remeh dia! Bukan aku takut, kalo pun dia tahu, dia nggak bakalan kasih tahu. Tante Sera super kejam, Re! Lu tahu kan?" jawab Juan yakin.


Benar apa yang di katakan Juan. Sera memang memiliki sikap yang tidak mudah mengampuni seseorang. Jangankan dirinya yang baru berbuat salah. Zein saja, sampai sekarang dia belum memaafkan. Harapan untuk mendapatkan informasi apa lagi maaf, itu mustahil. Bagi Juan, untuk sementara ini mendekati wanita paruh baya itu sama saja bunuh diri. Juan yakin, jika Sera hanya akan memperkeruh masalahnya. Lebih baik diam dan mencari solusinya sendiri.


***


Setelah mengantarkan sang kakak ke bandara waktu itu, Vita juga langsung terbang ke Manado untuk menemui ibu dan juga tantenya. Ia ingin meminta pendapat mereka berdua. Bagaimana sebaiknya ia seharusnya bersikap.


Dari keputusan pertemuan itu, Sera memberi saran untuk Vita dan juga Anti untuk menyusul Stella ke Belanda. Memulai hidup baru di sana. Bertiga, berempat dengan Berliana.


Kini, Anti dan juga Vita telah berada di dalam pesawat untuk menyusul Stella ke tempat tinggalnya yang baru.


Senyum merekah sempurna di bibir wanita paruh baya itu. Ia bahagia, karena akan tinggal di tempat yang baru. Memulai hidup baru. Bersama kedua putri kesayangannya. Bersama Berliana, cucu semata wayangnya.

__ADS_1


"Ibu suka?" tanya Vita ketika membantu sang ibu memakai seatbelt nya.


Anti mengangguk dan tersenyum bahagia.


"Kita akan tinggal dengan kak Ste bu. Kita nggak boleh ngrepotin beliau ya. Ibu harus sehat, selalu tersenyum jangan lupa ngomong, biar Kak Ste bahagia dekat kita. Oke!" pinta Vita kepada sang ibunda tercinta.


"Oke," jawab Anti lirih.


Tak lama kemudian, pesawat pun take off. Vita menghela napas dalam-dalam. Karena pada kenyataannya ia pun sebenarnya sedang berusaha melepaskan belenggu cinta dalam hatinya. Cinta yang belum lama di sadarinya. Namun terpaksa ia menghapusnya.


Vita tidak menyesal jatuh cinta pada Zein. Sebab ia tahu, pada dasarnya Zein adalah pria baik yang menjunjung tinggi sebuah komitmen. Hanya saja, pemikiran kolotnya sering membawanya terjerumus ke dalam jurang kebodohan. Vita tidak ingin meneruskan cinta tanpa terlarang ini. Mau bagaimanapun, Vita menyadari, ia tak mungkin memaksa Zein menyukainya. Dia bukan Stella. Dia adalah Vita, adik dari wanita yang Zein sukai.


Bukan hanya itu yang membuat Vita menyerah dengan cintanya. Tetapi, ia tak ingin menyakiti hati keluarga. Biarlah! Biarlah ia pendam sendiri rasa ini. Vita berharap bisa segera menghapus rasa yang tertanam untuk Zein. Vita memilih mundur.

__ADS_1


Vita terus saja mengembangkan senyum. Padahal sebenarnya ia sedang berpura-pura tegar. Sedang berpura-pura baik-baik saja. Vita memejamkan mata. Berusaha melupakan pertemuan terakhirnya dengan Zein yang meninggalkan segenggam kisah yang belum usai.


Bersambung...


__ADS_2