
Apa yang diinginkan sang istri, nyatanya sanggup membuat hati Lutfi seperti tertusuk benda tajam. Bagaimana tidak? Ini belum apa-apa, tapi ujian sudah di depan mata.
Lutfi berusaha sabar. Berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati Safira. Berusaha memahami, bahwa pernikahan ini memang tak pantas untuknya. Terlebih strata ekonomi mereka berbeda.
"Kamu nggak usah takut akan hal itu, Ra. Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu jika kita tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Percayalah, jika kita tidak ditakdirkan berjodoh, Tuhan pasti akan kasih kita jalan untuk pisah. Jadi kamu nggak usah khawatir soal ini," jawab Lutfi, tanpa mau menolak atau mendebat Safira. Ia hanya ingin Safira tenang. Seraya mengajak sang istri percaya, bahwa jodoh itu bukan kuasa kita untuk mengedalikannya.
Safira tak menjawab sepatah katapun ucapan Lutfi. Sebab, apa yang ia rasakan saat ini sudah cukup membuat isi kepala wanita ini penuh. Hatinya bergemuruk karuan. Hingga telinganya serasa pengap.
Diam-diam, Safira juga menyimpan ketakutan lain. Ketakutan yang tidak bisa dia jelaskan kepada Lutfi untuk saat ini. Perihal kesucian yang ia miliki. Safira merasa, dirinya terlalu kotor untuk pria sebaik Lutfi. Untuk pria sesholeh Lutfi.
"Aku percaya padamu, Fi. Aku harap kamu tidak mempersulitku kalo seandainya suatu hari nanti aku melayangkan gugatan cerai untukmu," ucap Safira serius.
"Tentu saja. Aku tak mungkin berani mempersulitmu. Lakukan saja, apapun yang kamu ingin melakukannya. Namun, jika tujuanmu pada pernikahan ini adalah perpisahan. Tolong jangan dekati putriku. Jangan buat dia jatuh cinta padamu. Aku tak ingin dia merasakan kehilangan untuk kedua kalinya. Kamu ngerti maksudku kan, Ra?" tanya Lutfi tanpa mau menatap mata Safira. Sebab, ia tak ingin Safira mengetahui sisi kelemahannya hatinya. Yaitu Naya. Lutfi tak akan sanggup melihat bayi itu menangis karena kehilangan orang yang mungkin nanti ia sudah anggap sebagai ibunya.
Safira tak kuasa menjawab sepatah katapun ucapan sang suami. Sebab ia langsung paham. Tapi jika boleh jujur, ada ketidakrelaan di dalam hati Safira. Ia ingin dekat dengan bayi itu. Ia ingin selalu bersama dengan gadis cilik itu. Sejatinya, Safira juga telah jatuh cinta pada Naya.
Rasa yang ia miliki untuk Naya, akhirnya membuat Safira mengerti. Menapa selama ini Lutfi jarang sekali membiarkan dirinya mendekati Naya. Ternyata alasannya adalah, ia tak ingin Naya jatuh cinta padanya, lalu patah hati. Sebab, Lutfi tahu, jika Safira tak mungkin selalu bisa bersama mereka. Dia tak ingin putri kecilnya kembali merasakan kehilangan.
"Sebaiknya aku pulang ya, Ra. Kasihan Naya, kali ini aku minta pengertianmu!" pinta Lutfi.
Seakan tersadar akan kewajiban sebagai istri Lutfi dan ibu untuk Naya. Safira pun mencoba mengalah. Paham akan kewajiban, bahwa ia harus ikut ke mana pun sang suami pergi. Terlebih ini adalah urusan Naya. Yang sekarang telah menjadi putri mereka.
__ADS_1
"Aku ikut!" pinta Safira sembari memegang ujung lengan kemeja yang saat ini di kenakan oleh Lutfi.
Lutfi diam. Hanya menatap heran pada wajah polos tanpa make up sang istri. Bingung, Lutfi tak tahu bagaimana harus menjawab permintaan itu. Karena ia ragu.
"Janji nggak marah-marah lagi!" ucap Safira sembari mengacungkan dua jari tanda ia berjanji.
"Ini bukan masalah marah atau tidak, Ra. Ini soal Naya, aku nggak... " Lutfi tak bisa melanjutkan ucapannya, karena Safira sudah menarik tangannya dan mengajaknya keluar kamar.
"Ra, dengerin aku dulu!" pinta Lutfi sedikit kewalahan.
"Dengerin apa?" tanya Safira sembari menghentikan langkahnya. Lalu, ia pun berbalik sambil melipat kedua tangannya, bermaksud menantang Lutfi.
"Seperti yang aku sampaikan tadi, masak kamu nggak paham!" kini gantian, Lutfi yang menarik tangan Safira dan mengantarkan wanita ayu itu masuk ke dalam kamar Safira, yang mulai hari ini kamar ini adalah kamar mereka.
"Sudah di rumah, istirahat. Kamu pasti capek. Lelah. Seharian nangis ama marah-marah terus kan. Biar aku aja yang pulang jaga Naya," pinta Lutfi memohon.
"Nggak mana ada begitu. Kalo urusan Naya, aku bakalan ikut ke mana pun kamu pergi," tolak Safira sembari memeluk salah satu tangan Lutfi.
"Ya Allah, Ra. Gimana lagi caranya aku mesti jelasin ini ke kamu," ucap Lutfi mulai terlihat lelah menghadapi Safira
"Kalau kamu nggak mau ngajak, aku telpon papa ni. Biar kamu dicramahin. Kamu nggak takut sama Papa, ha!" jawab Safira tak kurang akal.
__ADS_1
Lutfi jadi tambah serba salah. Berurusan dengan Safira saja dia sudah mulai sakit kepala. Apa lagi ditambah berurusan dengan kedua orang tuanya. Alhasil Lutfi bisa nangis dalam hati.
"Ya sudah lah, ayo. Ingat jangan dekat-dekat Naya. Nanti dia ja ..." ucap Lutfi hendak memperingatkan. Namun, sepertinya Safira tak mau peduli.
Wanita ini sudah berjalan mendahuluinya. Berlenggang santai, seperti tak terjadi apa-apa pada mereka. Membuat Lutfi tersenyum dengan tingkah menggemaskan itu.
***
Berbeda dengan Lutfi dan Safira yang mulai bisa mencari jalan keluar atas masalah mereka. Meski jalan yang nantinya akan mereka lalui berjudul "Perpisahan". Tetapi, mereka terlihat tidak mau pusing dengan itu. Atau mungkin, mereka hanya menginginkan perpisahan itu hanya dimulut saja. Ah, entahlah.... biarkan Lutfi dan Safira pikir sendiri.
Di sini ada Zein dan Vita yang tak bisa tidur selepas pertemuan mereka. Nyatanya, pertemuan itu meninggalkan butir-butir kenangan yang ini bersatu. Menjadi satu gumpalan kenangan yang sanggup membuat mereka tersenyum malu-malu.
Di sisi Zein, pria ini tersenyum mengingat perjalanan bisnis mereka di Flores. Vita begitu cantik ketika berenang. Bukan hanya itu, perhatian Vita ketika dia sakit juga menjadi kenangan tersendiri untuk pria tampan ini.
Vita membuatkannya bubur, meskipun bubur itu sama sekali tidak berasa. Entah Vita sengaja atau memang tidak tahu cara memasak. Namun, cara gadis itu menyajikannya menjadikan bubur tanpa rasa itu tak bisa membuat seorang Zein marah. Justru menikmati.
Bagaimana tidak? Vita sendiri yang menyuapi bubur itu. Meniupnya dengan bibir cantiknya. Lalu begitu telaten mengelap sisa-sisa bubur yang ada di bibirnya. Jika saat itu, mereka adalah sepasang kekasih, mungkin itu adalah perjalanan mereka yang bisa dikatakan paling romantis.
Sayangnya lamunan kebahagiaan yang dirasakan oleh Zein, terpaksa melebur seiring didengarnya langkah kaki dan ribut ribut di depan kamarnya.
Zein yakin, kalau suara itu berasal dari suara pengantin baru yang memang mereka hobi ribut.
__ADS_1
Penasaran dengan apa yang diributkan oleh kedua sejoli itu, akhirnya mau tak mau Zein pun keluar dari kamarnya. Ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Bersambung....