PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TIDAK AKAN MEMAKSA


__ADS_3

"Apakah ayah sejahat itu, Tan?" tanya Stella memastikan.


"Jika tidak, mana mungkin dia tega memukulmu, Putriku!" jawab Sera. Kembali wanita ini menghapus air matanya.


"Maafkan, Ste ya Tan. Karena telah membuat hidupmu menjadi sangat rumit," ucap Stella lagi.


"Tidak, Putriku. Apapun yang terjadi dalam hidup, Tante. Itu Tante anggap sebagai takdir. Hanya saja Tante nggak bisa terima jika ada yang menyakiti kamu," ucap Sera jujur. Mendengar perkataan itu, Stella malah merasa semakin tak nyaman. Sebab, hati Stella sendiri belum bisa menerima jika Sera adalah ibu kandungnya. Meskipun ia telah mendengar semuanya.


"Apakah, Tante marah jika Ste masih belum bisa memanggil Tante dengan sebutan ibu?" tanya Stella lugu.


"Tentu saja tidak, Putriku. Kamu berhak memilih. Tante tidak akan memaksamu. Sebab panggilan itu harus berasal dari hati. Tidak boleh hanya lewat mulut saja," ucap Sera menasehati.


"Terima kasih atas pengertiannya, Tan," ucap Stella sembari tersenyum kecut.


Dalam detik berikutnya, suasana menjadi hening. Stella menjadi canggung. Apa lagi Sera. Peranggai wanita ini berubah 180 derajat. Berbeda dengan Sera yang biasa mereka kenal. Yang susah mengendalikan emosi. Kini wanita itu lebih lembut. Seperti seorang ibu pada umumnya. Beberapa kali ia menatap penuh kasih sayang pada Stella. Mencium kening sang putri. Sedangkan Stella sendiri tidak menolak. Sebab ia tak ingin menyakiti hati wanita ini.

__ADS_1


Melihat tidak terjadi apa-apa pada Stella, membuat Juan sedikit lega. Sebab apa yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan. Stella bisa tersenyum dalam dekapan Sera. Bagi Juan itu adalah hal paling luar biasa yang ia lihat. Kekhawatiranannya musnah sudah. Berati jiwa Stella dalam lingkup aman.


****


Berbeda dengan Stella yang bisa menerima kenyataan yang terjadi. Ada Rehan yang marah besar, sebab orang tuanya tak bisa mengerti keinginannya. Mereka tetap memaksanya untuk menikahi Isabela. Bukan Renata. Gadis yang ia cintai.


"Pokoknya, Rehan nggak mau Mak kalau nikahnya sama Isabela," ucap Rehan kesal.


"Re, mengertilah! Isabela juga gadis yang baik," balas emaknya Rehan.


"Emak mohon, Re! Janganlah seperti ini. Kamu nggak kasihan kalau emakmu malu gara-gara perjodohan ini batal!" ucap Emak, berusaha membujuk putra semata wayangnya.


"Pokoknya kalau Rehan bilang enggak ya enggak! Emak kan tahu Rehan pernah gagal. Masak iya harus gagal dua kali! Nggak mau Rehan," tolak Rehan lagi.


Sedangkan Emak yang sudah terlanjur menyetujui pernikahan Rehan dengan Isabela, seketika pun bingung. Terlebih gadis itu juga terlihat antusias. Sepertinya bahagia bisa menikah dengan Rehan. Konon Rehan adalah pria yang ia cintai.

__ADS_1


Rehan enggan berdebat dengan sang ibu. Akhirnya ia pun memilih untuk keluar dari rumah. Ia tak mau menjadi boneka orang-orang yang hanya memanfaatkannya. Jika emaknya tidak mau membatalkan pernikahan itu, lebih baik Rehan kembali ke Jakarta. Bekerja pada Zein lagi. Rasanya itu lebih baik. Dari pada dia di kampung. Lalu dipaksa menikah dengan wanita yang tidak ia kehendaki.


"Kamu mau ke mana, Re?" tanya Emak ketika melihat Rehan memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.


"Udahlah, Mak. Rehan lelah. Biarkan Rehan menentukan jalan Rehan sendiri. Kalau emak keberatan Kania ada di rumah ini, biar Kania aku bawa saja ke Jakarta," ucap Rehan kesal.


"Re, sabarlah sedikit lagi. Mungkin besok mereka akan berubah pikiran!" ucap emak lagi.


"Berubah pikiran apa, Mak. Renata sendiri juga bilang kalau Isabela suka sama aku. Bahkan fotoku sudah ada di dalam kamarnya. Maka jangan menghalangiku Mak. Izinkan aku memulai kembali karirku. Masalah jodoh biar Tuhan aja yang atur. Rehan lelah Mak, dipaksa-paksa melulu," jawab Rehan jujur.


Kali ini si Emak tak mau memaksa sang putra. Mau bagaimana pun Rehan berhak atas masa depannya. Sebagai emak, ia hanya bisa berdoa semoga Rehan bahagia dan bisa mendapatkan pendamping hidup yang baik.


Bersambung...


Like n komennya jangan lupa🥰

__ADS_1


__ADS_2