
Kabar kepulangan Vita ke tanah air akhinya sampai juga ke telinga Sera. Wanita ayu ini tentu saja tak menginginkan jika keponakan kesayangannya ini kekurangan suatu apapun. Dia langsung meminta anak buahnya untuk mendatangi tempat di mana Vita tinggal.
"Apakah benar ini tempat tinggal nona Vita?" tanya ajudan Sera pada satpam yang berjaga.
"Vita siapa ya, Pak? Maaf jika kami tidak sopan. Apakah kami boleh tahu anda ini siapanya nona Vita?" tanya satpam tersebut.
"Nona Vita Gunawan, Pak. Saya adalah asisten keluarga nona tersebut. Ini adalah kartu identitas kami," jawab pria berperawakan tinggi besar itu.
"Oh, nona Vita yang itu. Sebentar Pak, saya hubungin yang bersangkutan dulu. Apakah nona berkenan menerima tamu? Bapak silakan duduk dan tunggu sebentar," ucap satpam tersebut. Sedangkan pria urusan Sera pun mengerti dan tidak memaksa. Sebab ia sendiri pun paham dengan peraturan.
Tak lama Vita pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke pos satpam untuk menemui pria utusan tantenya itu.
"Non, ini tamu!" ucap satpam memberitahu.
"Iya Pak terima kasih!" jawab Vita dengan senyum manisnya. Satpam tersebut membalas senyuman itu. Lalu Vita pun mendatangi pria yang mencarinya.
"Nona Vita?" tanya pria tinggi besar tersebut.
"Iya, Pak. Ada apa ya?" tanya Vita.
"Saya adalah utusan ibu Sera. Beliau meminta saya untuk mengantarkan kunci apartemen dan mobil ini untuk anda, Nona," ucap pria itu.
"Oh itu. Bilang sama tante terima kasih banyak. Tapi untuk saat ini saya belum butuh, Pak. Nanti saja kalau misalnya saya butuh, saya pasti ngomong," tolak Vita.
Pria tersebut terlihat bingung. Sebab Vita sangat berbeda dengan wanita yang ia kenal.
__ADS_1
"Tapi nanti ibu marah dengan saya, Non!" ucap pria tersebut memelas.
"Nanti aku telpon tante, nggak usah khawatir. Sekarang pulanglah!" pinta Vita. Pria itu terlihat percaya pada gadis ini. Lalu tanpa berdebat, pria itu pun meninggalkan tempat tinggal Vita. Sedangkan Vita pun kembali ke kamar tersebut.
Vita tersenyum. Senang saja. Ternyata masih ada orang yang peduli padanya. Walaupun itu bukanlah orang tua kandungnya atau kakak yang ia rindukan tetapi ini sudah cukup membuat Vita bahagia.
Tanpa Vita sadari, senyumannya tertangkap oleh sepasang mata yaitu Safira. Sahabat karibnya.
"Cie-cie, diapelin ni ye!" canda Safira sambil melonggok kepalanya ke pintu.
"Diapelin siapa?" Vita tersenyum.
"Itu tadi pria pakek jaket hitam!" balas Safira dengan senyuman manisnya.
"Apaan, dia tadi ajudan tanteku. Kamu ini!" jawab Vita. Tanpa izin gadis ini pun langsung masuk ke dalam kamar sang sahabat dan langsung membaringkan tubuhnya di karpet kamar itu. Sedangkan Safira mengikuti gadis itu. Lalu ia duduk di sisi ranjang.
"Bukan takut, Ra. Aku memang nggak ingin dekat-dekat mereka. Mereka itu kejam," jawab Vita jujur. Sesuai imej yang tertanam dalam otaknya.
"Kata siapa? Tapi bener juga sih!" Safira terkekeh. Sebab dia sendiri juga pernah terluka dan kehilangan seorang pria yang menghianati janji mereka.
"Kamu sendiri aja ogah kan kenal pria. Ngapain pusingin aku. Aku kan tim sendiri lebih baik, lebih asik," balas Vita dengan candaannya pula.
"Kasusmu denganku berbeda, Non. Aku jauh lebih kejam karena menjalaninya sendiri. Udah dihamili, nggak dinikahi 'kan! Udah gitu dilepar ke luar negeri, " ucap Safira terkekeh.
"Dasar, kek gitu masih bisa ketawa. Kalau aku ketemu pria yang menghamilimu bakalan aku tembak kepalanya. Biar sadar, kalau wanita bukan mainan yang bisa ia mainan seenak jidat dia," balas Vita kesal.
__ADS_1
"Sudah nasibku, Vit. Biarlah, semua ada balasannya sendiri. Aku nggak pernah menyesal mengenal pria itu, aku mencintainya. Sangat Vit. Andai bayiku masih hidup, pasti mirip dengannya," ucap Safira, terdengar lembut menyentuh hati.
"Dasar Bucin, pria keparat kok dicintai!" ucap Vita kesal. Sebab ia paling benci wanita melo. Seperti ibunya yang begitu bodoh, bertahan dalam pernikahan yang penuh penyiksaan lahir dan batin. Hanya demi sebuah kata yaitu 'Cinta' dan Vita sangat membenci kata itu.
"Ye... cinta yang aku miliki buat dia itu tulus, Beb. Entahlah, mungkin aku adalah wanita bodoh yang mencintai pria jahat seperti dia." Safira duduk dan menekuk serta memeluk kakinya, sedih. Diingatnya lagi bayangan pria yang masih bertahta dalam hatinya sampai saat ini.
"Makanya move on. Move on. Bangun dari tidur. Elu kelamaan tidur, Ra. Bisa jadi dia sekarang udah nglupain elu dan kawin dengan wanita lain. Lalu bahagia. Sakit nggak tuh," ucap Vita asal.
Safira tersenyum kecut. Sepertinya ia tak sanggup membayangkan jika itu memang terjadi.
"Entahlah Ta, ingin rasanya aku membencinya. Tapi nggak bisa," jawab Safira sungguh-sungguh. Terlihat dari air mata yang mengalir di pipinya. Sepertinya hatinya memang tak akan sanggup menerima kenyataan jika pria tersebut menjadi milik wanita lain.
"Dah ah, malas aku ngurusin manusia-manusia bucin. Mending aku tidur. Besok kerja. Bye!" ucap Vita seraya beranjak dari tempatnya berbaring.
Sedangkan Safira hanya tersenyum. Sebab ia tahu jika Vita hanya pura-pura. Safira tahu jika Vita hanya tidak tega melihat dia menangis.
"Semangat wanita sebatang kara!" canda Safira sembari menghapus air matanya.
"Semangat untukmu juga wanita bucin," balas Vita tanpa menoleh ke arah sahabatnya.
"Dasar! Aku do'ain kamu bakalan lebih bucin dari aku. Ku do'ain kamu kuwalat, Ta. berani-beraninya ngledek wanita pencinta sejati ini," balas Safira sambil melempar bantal ke arah Vita. Sedangkan Vita berlenggang tanpa peduli. Sebab ia yakin, bahwa hal itu tak akan pernah terjadi padanya.
"Cih, wanita pecinta sejati konon. Wanita bodoh iya. Sudah dibodohi masih aja cinta. Sorry ye, gue masih waras. Nggak ada list dalam kamus kehidupan gue yang namanya jatuh cinta apa lagi sampek bucin. Nggak akan pernah!" jawab Vita sambil memungut batal itu dan membawanya keluar dan berjalan kecat menuju kamarnya.
"Weeeh, siniin batal gue Vita. Dasar! Siniin woe!" teriak Safira. Sayangnya Vita yang konyol enggan memedulikan sang sahabat. Tanpa menoleh ia pun langsung masuk ke kamar dan membawa bantal kesayangan Safira tersebut.
__ADS_1
Bersambung....