
Zein keluar rumah Juan tanpa berpamitan. Masuk ke dalam mobil, lalu melampiaskan amarahnya di sana.
"Brengsek!" teriak Zein. Napasnya tersegal karena amarah. Tatapan matanya tajam, penuh kebencian. Bersiap menelan hidup-hidup siapapun yang berani melawannya.
"Ayo jalan!" ajak Zein pada orang yang hari ini bertugas menjadi sopir pribadinya.
"Siap, Bos. Langsung ke hotel, Bos?" tanya pria itu.
"Hemm!" jawab Zein singkat. Kemudian sang sopir pun melanjukan kendaraannya menuju hotel di mana biasanya Zein menginap.
***
Di dalam rumah ada Juan yang masih mendiamkan Stella. Pria ini hanya peduli dan hanya menimang Berliana. Tanpa mau berucap apapun pada sang istri. Padahal Stella menunggunya, ingin mengajaknya berbicara.
Lama Juan mendiamkan Stella sampai pada akhirnya wanita cantik ini pun tak sanggup lagi menahan keinginannya.
"Maafkan aku Pi! Karena nggak cerita dari awal siapa sebenarnya mantan suamiku," ucap Stella pelan. Menunduk lesu. Hanya memainkan ujung baju yang ia pakai.
Juan diam, tak sepatah kata pun pria ini menjawab. Sebab ia kecewa. Baginya kesalahan Stella sangat fatal. Stella telah mencoreng mukanya dengan tinta hitam di depan sahabatnya sendiri.
"Papi boleh, ceraiin Mami kalau mau!" ucap Stella lagi. Mendengar kata 'cerai' spontan darah Juan berdesir. Emosinya memuncak. Ingin rasanya ia menampar mulut wanita ini. Mudah sekali dia mengucapkan kata itu.
Juan menatap tajam ke arah Stella, andai Berliana sedang tidak dalam proses ingin tidur. Mungkin Stella bakalan ia babat habis dengan kata-kata pedasnya. Pria ini lebih memilih menidurkan sang putri dari pada meladeni pemikiran bodoh Stella.
"Bicaralah, Pi. Aku mohon!" ucap Stella lagi. Mendekati Juan. Memeluk tubuh kekar pria ini. Menyembunyikan wajahnya di punggung sang pemilik hati. Entah mengapa Stella sangat menyukai tempat itu. Baginya punggung Juan adalah tempat paling nyaman di antara tempat-tempat favoritnya selama ini.
"Lepaskan pelukanmu! Jangan menyentuhku sebelum kamu menyadari kesalahanmu," ucap Juan katus.
__ADS_1
Stella terkejut. Tidak menyangka jika Juan akan bersikap kasar padanya. Stella tak bisa berbuat apa-apa. Ia pun langsung diam membisu.
"Aku tak suka!" tambah Juan lagi. Lalu melepaskan diri dari dekapan Stella tanpa menyatuh tangan itu. Melangkah keluar meninggalkan wanita ini sendirian. Terpaku membisu, sendirian di kamar. Bukan hanya itu yang dilakukan Juan, ia juga membawa Berliana ikut serta bersamanya.
Stella masih tertegun. Ia tahu jika Juan marah. Hanya saja ia tak menyangka jika Juan akan memperlakukannya seperti ini. Stella menelan kasar ludahnya. Rasa takut akan amarah Juan langsung membuat nyalinya menciut.
Stella pernah menghadapi amarah Zein. Namun, entah mengapa Stella lebih takut menghadapi amarah Juan. Entahlah, rasa takut kehilangan pria ini begitu mengerikan. Stella tak sanggup membayangkannya. Mungkinkah ini terjadi karena cintanya untuk Juan lebih dalam dari pada cintanya pada Zein. Entahlah, Stella belum bisa memahami kondisi ini. Yang jelas, Stella takut kehilangan Juan.
***
Beberapa jam kemudian....
Stella masih belum berani menyusul Juan di kamar bawah. Kamar di mana Juan membawa serta Berliana. Meskipun ia sangat rindu bercengkrama dengan mereka. Stella hanya takut membuat Juan marah dan mengusirnya.
Tak ada pilihan lain, Stella pun memutuskan untuk menunggu sampai Juan kembali ke kamar.
Sampai suara seseorang membuka pintu membuyarkan angannya. Stella tersenyum sebab yang datang adalah dua orang yang sangat ia rindukan. Namun sayang, Stella tak berani bersikap manis pada Juan dan Berliana. Stela masih berpikir sama. Yaitu takut membuat Juan marah
"Putriku haus, cepat kasih Asi!" pinta Juan. Suaranya terdengar ketus dan tidak bersahabat.
Stella menerima bayi itu lalu segera memberikannya Asi.
Stella masih diam. Tentu saja untuk menghindari amarah Juan. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali bercengkrama dan menceritakan apa yang ia rasakan selama ini.
Namun, kediaman Juan juga membungkam mulutnya. Menghadapi Juan tidak semudah menghadaoi Zein. Jika marah Zein akan meledak-ledak. Sedangkan Juan, pria ini hanya diam dan bersikap ketus padanya. Stella malah lebih bingung menghadapi pria model begini.
Suasana di dalam kamar tersebut kembali sunyi. Tak ada percakapan berarti di antara keduanya. Hanya hati Stella yang terus bergejolak ingin mengajak Juan bercerita.
__ADS_1
Meskipun sikapnya terlihat sibuk dengan Beliana. Namun otaknya meronta. Matanya masih sering mencuri padang pada Juan. Sedangkan Juan sendiri sibuk dengan gawainya.Tak peduli dengan wanita yang terus mencuri padang terhadapnya. Juan tahu sebab Juan menatap apa yang Stella lakukan dari kamera ponsel miliknya.
Juan bukan pria bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Stella dan Zein sadari. Sebenarnya ia sudah mengetahui semuanya. Jauh sebelum Zein datang kepadanya. Hanya saja, ia ingin menguji keseriusan Stella terhadap hubungan mereka.
Beberapa menit kemudian, Juan mendapat panggilan telepon dari Rehan.
"Ya Re, ada apa?" tanya Juan.
"Kamu di mana, Jun?" Rehan malah balik bertanya.
"Di rumah!" jawab Juan jujur.
"Bisa kita ketemu di hotel Marriott. Aku tunggu kamu di lobby," ajak Rehan.
"Mau ngapain?" tanya Juan.
"Jangan pura-pura, Jun. Aku tahu rumah tanggamu sedang tidak baik-baik saja. Pasti si bangsat itu sudah menemuimu. Mari kita selesaikan masalah ini secara laki-laki," ajak Rehan tanpa basa-basi lagi.
"Oke!" jawab Juan. Sebenarnya ia tertawa dalam hati. Namun, ia tak mungkin membuat kecewa sahabatnya yang telah jauh-jauh datang ke Batam hanya demi rumah tangganya. Kemudian tanpa banyak bicara, mereka pun mematikan panggilan telepon itu dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
Melihat Juan beranjak dari tempat sofa. Stella pun bertanya, "Mau ke mana, Pi?
Juan menghentikan langkahnya, lalu ia pun menjawab, " Bukan urusanmu!" Juan kembali melanjutkan langkahnya, menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Bersiap menemui Rehan serta ingin melihat seberapa baiknya orang-orang yang selama ini mengelilinginya.
Bersambung....
Kira-kira Juan dapat info dari mana ya, kok udah tahu semua🥰🥰🥰 like dan komen kalian aku tunggu. Oia emak minta dukungannya dong di karya emak yang lagi ikut Event ANAK GENIUS... like dan komen kalian sangat berarti buat saya. Makasih sebelumnya😘
__ADS_1